Jalanan Sepi Bikin Happy

Oleh: Nia Hanie

Berbicara tentang Ramadan dan masa kecil, pengalaman masa kecil teman-teman pasti lebih seru dan berkesan daripada pengalaman saya. Tidak banyak yang terekam dalam memori tentang Ramadan di masa kecil. Menghabiskan masa kecil di Jakarta, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa atau khas. Semua berjalan normal dan biasa saja.

Yang saya ingat mungkin di kala sahur. Selesai sahur biasanya saya dan teman-teman keluar rumah untuk berjalan-jalan menyusuri jalanan yang sepi, tidak ada kendaraan sehingga kami bisa berjalan di tengah-tengah tanpa takut akan tertabrak mobil. Tentu saja itu sangat seru, karena pada jam sahur seperti itu jalanan kosong, tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Jika dilihat akan ada kendaraan yang melintas barulah kami mengyingkir.

Kala itu saya merasa senang bisa berjalan di tengah-tengah ruas aspal, seolah saya menguasai jalan, tanpa rasa takut. Kadang saya dan teman-teman berlarian, saling berkejaran. Padahal, orang tua saya tidak mengizinkan kami- anak-anaknya—main keluar setelah sahur, tapi tetap saja saya dan adik pergi main keluar. Ah, sungguh anak yang patuh. Jangan dicontoh ya!

Entah bagaimana kondisi jalanan Jakarta sekarang di waktu sahur, apakah masih sepi atau sudah ramai kendaraan di jam-jam tersebut? Saya tidak tahu karena memang sudah lama tidak pernah keluar rumah saat sahur.

O, ya. Saya juga ingat dulu saat Ramadan saya selalu pergi tarawih bersama teman-teman. Jika akan ke musala, teman-teman pasti melewati rumah saya dan akan memanggil-manggil untuk pergi bersama ke musala. Kalau ada teman saya akan pergi salat tarawih, tapi kalau tidak ada teman untuk pergi bersama saya tidak mau pergi tarawih ke musala. Haha.

Musala kami dulu sangat kecil meskipun terdiri dari dua lantai. Lantai pertama untuk jamaah laki-laki dan sedikit ruang untuk perempuan yang biasanya diisi oleh ibu-ibu atau mereka yang audah sepuh. Nah, lantai dua diisi oleh jamaah remaja dan anak-anak. Ah, tentu saja di lantai atas itu berisik sekali karena anak-anak tidak bisa berdiam diri dan fokus untuk salat. Saya dan teman-teman saat itu memang salat di lantai atas. Tapi lama kelamaan seiring saya beranjak besar, saya memilih salat tarawih di lantai bawah bergabung bersama ibu-ibu dan orang tua. Ah, biar saja saya bergabung dengan mereka. Tak masalah. Daripada saya tidak bisa fokus salat di atas.

Pengalaman di masa kecil saya tidak ada yang istimewa. Meski begitu saya rindu masa kecil di daerah saya dulu. Saya rindu suasana lingkungan yang penuh kekeluargaan. Saya rindu teman-teman masa kecil. Saya rindu jalanan di sekitar rumah dulu. Sekarang semuanya telah pergi, tak ada yang tertinggal di sana karena daerah lingkungan tempat tinggal saya itu sudah ditutup. Entahlah tepatnya ditutup atau digusur. Pasalnya suatu hari saya melewati daerah tersebut, sepanjang jalan menuju gang rumah dulu sudah ditembok, tak ada akses menuju ke sana lagi. Orang-orang yang tinggal di sana pun sudah pindah, berpencar ke berbagai daerah.

Biarlah masa-masa itu menjadi kenangan walaupun sedikit yang bisa saya ingat. Semoga teman-teman masa kecil saya dan semua yang pernah tinggal di sana menjadi tetangga saya, selalu sehat dan bahagia dalam hidupnya di mana pun berada.


Photo by Ian Battaglia on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *