Receh di Ujung Jalan

+24

Oleh: Cicih M Rubii

Subuh yang berkabut, membuatku enggan mengangkat tubuhku dari pembaringan. Adzan subuh sudah berkumandang hampir tiga puluh menit lalu, tapi mata ini begitu berat untuk dibuka. Sahur hari ke-30 Ramadhan ini sangat nikmat, ibu sudah membuat sop daging dan semur daging kerbau yang lezat.

Semakin dekat ke hari lebaran, sahur semakin berat dilaksanakan. Dan entah mengapa, rasa kantuk selalu menyerang dengan hebat saat kami menunggu bedug subuh berkumandang.Hamparan tempat tidur yang berantakan, tak mengurangi ketertarikanku untuk merebahkan diri ‘sebentar’. Pada akhirnya selalu bablas sholat subuh mendekati terang di ufuk timur.

Rasa kantuk menguat. Alunan suara lembut Ibu yang mengaji di mushola kecil keluarga yang terletak di sebelah kamar mandi, semakin membuat mataku berat untuk dibuka. Seperti tembang yang melenakan dan membuat nyaman.

Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki di luar rumah semakin mendekat. Suara shalawatan yang terdengar khas diiringi gemeretak kerikil yang berhamburan terdengar nyata di pagi yang dingin.

“Assalamu’alaikum!”suara Abah membuka pintu.

 “Haii… Bangun! Ini sudah pada sholat Subuh belum?” ujar lelaki bersorban merah  sambil menarik jempol kaki kami satu persatu. Aku dan adik perempuanku tidur berjejeran selepas sahur tadi, hanya menggeliat enggan.

“Iya Abah, bentar. Ngantuuk” jawabku sambil mengubah arah posisi tidurku menghadap barat. Kutarik selimut kain jarit panjang motif batik warna coklat gelap sampai menutupi dada. Tak berapa lama, adikku menariknya hingga tak tersisa sedikitpun di tubuhku. Tak mau kalah, kutarik lagi dengan tenaga yang lebih besar.

“Ayo ah wudhu! Itu berarti mata kalian diganduli syetan.” Ujar Abah terbahak sambil menepuk pipi kami satu persatu. Ditariknya selimut kami hingga kami berdua terpaksa bangun.

Dengan mata masih tetap tertutup, terhuyung-huyung kami berdua  bangun dan menuju kamar mandi untuk berwudhu, kemudian sholat bersama.

“Setelah ngaji, kita jogging yuk!” ujarku sambil mengambil salahsatu mushaf yang berderet di lemari. Adikku hanya mengangguk. Matanya fokus mencari tanda terakhir dia tilawah. Kami punya target untuk khatam Al-Quran saat malam takbiran nanti. Kini kami hanya punya waktu sehari lagi untuk dapat menyelesaikan semuanya.

Aku kelas 6 SD, sementara adikku baru kelas 3. Perbedaan usia yang tak terlalu jauh membuat aku dan adikku sangat dekat. Kemana-mana kami selalu bersama, entah itu main engklek, bermain sepeda, main congklak. ‘ngabuburit’ atau ‘nyonyore’ berdua, bahkan taraweh pun kami selalu berdua.

“Yuk lah keluar! Udah zuz berapa sih kamu?” tanyaku penasaran. Jangan-jangan dia lebih banyak bacaannya. Aku takut kalah.

“Dua juz lagi” ujarnya enteng sambil menyimpan dengan rapi mushafnya yang berwana hijau tua. Mushafku berwarna merah muda. Meskipun umurnya baru 9 tahun, dia juga sudah lancar membaca Al-Qur’an. Dan kita berlomba siapa yang duluan khatam.

Jalanan masih sangat gelap, ketika kami berdua menyusuri jalan diantara orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa kelompok hanya berjalan lambat sambil ngobrol, beberapa pemuda tanggung duduk-duduk di pinggir jalan, satu dua anak menyalakan petasan. Suasana sekarang tentu saja lebih sepi dibandingkan minggu pertama Ramadhan. Udara pagi sangat sejuk, alunan ayat suci al-Quran terdenagr dari beberapa rumah.

Aku terengah-engah berhenti di pagar rumah setelah berlari tak berhenti. Kuseka peluh yang bercucuran di dahiku. Nafasku kuatur sedemikian rupa agar bisa kembali normal. Di belakang, adikku duduk selonjoran begitu saja sambil ngos-ngosan. Jika bukan karena ada anjing liar yang mengikuti, kami tak akan lari secapek ini.

“Lain kali jalan saja, tak usah lari. Lagi puasa, gimana kalau batal?” ujar ibu menasehati. Kami berdua hanya tertawa saling pandang. Memang haus sekali jadinya, padahal hari masih sangat pagi.

Beda dengan hari biasanya, subuh ini ibu sudah tampak sibuk di dapur. Aku dan adikku  diminta membantunya membuat kue bolu. Bergantian ‘mengupruk’ 4 telur ayam di baskom plastik selama sejam menggunakan kocokan yang berbentuk spiral. Ada banyak makanan yang harus kami buat, karena sore nanti waktunya menghantarkan makanan kepada saudara-saudara yang dituakan oleh keluarga.  Semua harus diselesaikan sebelum ashar.

Setelah Ashar, aku dan adikku diminta bersiap-siap mengantarkan makanan. Ada 7 baskom hantaran untuk dikirimkan ke para saudara tua abah. Pasti berat, isinya nasi, daging, ikan, sambal kentang, kue kering buta lebaran, keripik pisang, bahkan sekerat uli. Berat untuk ukuran tangan kami yang mungil.

“Ini nanti dibawa, masing-masing 2 baskom ya! Hati-hati jangan sampai miring nanti kuahnya tumpah.” Nasehat ibu sebelum aku, adik, dan kakakku berangkat menjalankan misi pengiriman hantaran.

Jika tak ingat bakalan dapat uang recehan dari penerima hantaran, tentu saja kami enggan. Karena selain barang yang dibawa sangat berat, jarak yang ditempuh cukup jauh sekitar hampir 1 Km. Biasanya kami akan berhenti beberapa kali di jalan.

Demi uang recehan ini kami semangat mengantar makanan. Kecewa jika saat pamitan tak ada yang memberi kami persen. Semakin semangat jika ada yang memberikan uang lebih dari biasanya. Hanya dari hasil meghantar makanan inilah kami punya uang untuk lebaran.

Menjelang magrib kami pulang menjalankan tugas sambil berdendang, menghitung perolehan recehan yang didapat sore itu. Suara takbir mulai ramai terdengar dari masjid-masjid. Sebentar kemudian adzan magrib berkumandang, dan keceriaan memancar dari setiap wajah. Hari kemenangan telah tiba.


Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash

+24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *