Ramadhan dan Sungai

+20

Oleh: Ardiant

Bulan Ramadhan mengingatkan kembali pada masa kecilku yang manis. Ramadhan menjadi bulan istimewa bagi umat Islam. Bagi anak-anak seperti kami juga menjadi bulan yang dirindukan. Sehari menjelang Ramadhan masyarakat desa kami beramai-ramai mandi di sungai. Ada sebuah sungai besar yaitu sungai Kawung yang menjadi tempat mandi sebelum menjalankan puasa. Sebenarnya bukan karena sungai itu keramat atau punya keistimewaan tertentu. Sungai yang besar itu mampu menampung banyak orang jadi tidak perlu antri seperti dipancuran atau tempat lainnya.

Setiap hari kami mandi di mata air (tuk), sungai kecil dekat rumah atau pancuran karena saat itu belum ada air PAM. Pernah dicoba menggali sampai kedalaman puluhan meter tidak keluar air. Sehingga  untuk membuat sumur ditempat kami tidak memungkinkan. Oleh karena itu tidak ada lagi orang mencoba membuat sumur. Air menjadi barang yang sangat berharga bagi masyarakat sekitar desa kami.

Setiap  menjelang Ramadhan kami memilih mandi di sungai Kawung walaupun harus berjalan kaki 1,5 km. Banyak juga masyarakat sekitar yang mandi disana sehingga sungai Kawung menjadi sangat ramai orang mandi keramas menjelang Ramadhan. Disungai kami tidak hanya bisa mandi akan tetapi juga berenang, menyelam, bermain sampai puas. Bagi kami peristiwa tahunan ini menjadi kenikmatan tersendiri. Kami bertemu anak-anak dari tempat lain yang jarang berinteraksi sehingga awalnya kami  tidak saling kenal akhirnya bisa menjadi teman bermain.

Bukan hanya sebelum memasuki Ramadhan saja sungai menjadi ramai dikunjungi banyak orang. Pada saat Ramadhan banyak orang-orang memancing dan mandi disungai sambil menunggu saat berbuka puasa tiba. Seringkali kami pergi ke sungai dari pagi sampai menjelang sore. Berangkat hanya berbekal kail dan umpan kami berangkat ke sungai. Mandi disungai dan memancing menjadi aktifitas yang mengasyikan. Siang hari ketika panas kami istirahat sambil tiduran diatas batu dibawah rimbunya pohon besar yang tumbuh ditepi sungai.

Sore hari sebelum pulang kami bersihkan ikan hasil perolehan mancing dan mandi. Kami pulang kerumah dalam keadaan sudah bersih dan menyerahkan hasil pancingan untuk dimasak sebagai lauk berbuka puasa. Setelah berganti pakaian kami jalan-jalan menunggu saat adzan Maghrib. Kami berkumpul di pertigaan jalan dengan anak-anak dari tempat lain saling bersenda gurau. Saat bunyi bedug bertalu-talu kami langsung bersorak dan berlari pulang kerumah masing-masing dengan penuh suka cita.

Seiring perkembangan peradaban sekarang didesa kami sudah dialiri PAM sehingga segala kebutuhan air tercukupi. Disisi lain banyak sawah yang dikeringkan dijadikan tempat pemukiman sehingga sungai kecil yang dulu airnya bersih bisa untuk mandi kini airnya sudah kotor banyak digunakan untuk membuang limbah rumah tangga. Pancuran dan pemandian umum sudah tidak ada. Setiap rumah sudah memiliki MCK sendiri-sendiri sehingga interaksi social semakin  memudar.

Ramadhan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan. Jaman semakin berkembang akan tetapi kenangan itu tetap dan tak akan hilang. Teman-teman bermainku sudah bertebaran dimana-mana akan tetapi selalu berkumpul kembali disaat lebaran. Jika tahun ini mudik tidak diperkenankan maka kenangan manis masa kecil tak dapat lagi diungkapkan dalam pertemuan.

Ajibarang, 2 Ramadhan 1442 H


Photo by Patrick Neill on Unsplash

+20

One Comment on “Ramadhan dan Sungai”

  1. Mengingatkan masa kecil yang suka mancing dan marak ikan di sungai yang tak terlupakan ketika RAMADHAN TIBA.

    SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA SEMOGA PENUH BAROKAH.
    لعلكم تتقون

    +1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *