Ngirim: Tradisi Jelang Ramadhan di Desa Kami yang Mulai Ditinggalkan

+5

Oleh: Lisvy Nael

Ada banyak hal yang bisa diceritakan tentang masa kecil dan ramadhan. Mulai dari aktivitas yang bikin dongkol tetangga seperti bermain dan membuat petasan banting, menyulut meriam bambu a.k.a bledugan, hingga yang bermanfaat misalnya olahraga sore sambil ngabuburit.

Tak kalah seru cerita tentang tongklekan atau bangunin orang sahur dengan berbagai alat tabuh dari barang bekas atau perkakas dapur. Berbuka puasa di masjid dengan teman-teman sambil bertukar takjil atau lauk pauk juga berkesan. Dan pastinya, keribetan mengisi buku saku ramadhan. Haha. Serius, itu lumayan ribet dilakukan tapi sangat membekas di ingatan.

Sayangnya, tulisan ini tidak akan menceritakan salah satu kisah khas ramadhan dari yang sudah disebutkan di atas. Ada satu tradisi di desa yang saya pikir mulai tersingkir dan perlu untuk dihidupkan kembali. Meski dianggap kuno dan ketinggalan jaman, tidak lagi terasa penting, tradisi ini, ngirim, jangan sampai punah.

Konsp ngirim mirip dengan nyorong dari Betawi. Tradisi mengantarkan atau memberikan makanan maupun bahan makanan menggunakan rantang kepada saudara yang lebih tua. Jika di Betawi, menu yang biasa diantar adalah gabus pucung, lain lagi dengan di desa kami.

Saya tinggal di sebuah desa yang terletak di Kabupaten Brebes bagian Selatan. Sepanjang ingatan saya, tradisi ngirim sudah ada sejak saya kecil.

Sebenarnya, saya tidak memiliki kompetensi untuk bercerita tentang asal muasal atau sejarah tradisi ngirim. Karenanya, tulisan yang hanya bermodal ingatan dan observasi pribadi ini bertujuan meninggalkan sentimentil romantisme kenangan tradisi ngirim.

Ibu dan bapak saya, keduanya adalah bungsu di keluarga masing-masing. Ibu memiliki dua orang kakak sedangkan bapak punya dua saudara tua yang masih tinggal satu desa sedangkan dua abangnya yang lain berjauhan semua. Satu di tatar Sunda satu di Sumatera.

Karena keduanya bungsu, sudah sewajarnya bagi kami ngirim makanan ke tempat bude dan pakde. Empat orang kakak dari pihak ibu dan bapak. Isinya tidak dibedakan, sesuai menu standar sebagaimana biasanya kiriman: ayam, telur, tahu-tempe, sambal goreng kentang, dan nasi.

Ngirim biasanya dilakukan jelang H-2 sampai H-1 bulan puasa. Tujuannya memang untuk menyambung silaturahmi. Nah, kebiasaannya, yang dapat tugas mengantar kiriman adalah anak-anak meski juga bukan berarti orang dewasa tidak diperbolehkan.

Saya ingat bagaimana selalu bergembira kalau tau akan melakukan kiriman. Karena biasanya kita akan dikasih uang jajan dari saudara yang kita beri kiriman. Kalau satu orang, dulu, bisa kasih Rp 5000-Rp 10.000, bayangkan kalau empat orang? Tahun 2000an, jumlah segitu besar banget untuk jajan di desa.

Nah, kemarin, H-1 puasa, ibu bikin dua kiriman. Satu untuk kakak dari pihak ibu dan satu untuk kakak dari pihak bapak. Ya, dua saudara tua lainnya sudah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Karena sudah dewasa, saya tidak dapat uang jajan saat ngirim ke rumah pakde (kakak dari ibu). Haha, makanya waktu mau ngirim ke rumah bukde (kakak bapa), saya ngajakin ponakan.

Tujuannya memang menajarkan silaturahmi ke saudara tua. Selai itu juga sekaligus mencoba mengenalkan ada tradisi semacam ini. Uang jajan itu bonus saja. Harapannya supaya saat besar nanti, dia bisa punya kenangan baik dan mau melanjutkan tradisi.

Ngirim menurut saya sangat penting dan bermnfaat. Nyatanya, saat kemarin ngirim pun ada yang nyeletuk “Wah…kuno banget.” Yang kulakukan hanya senyum saja. Karena mendebat juga tidak mungkin, saya sedang mengendarai motor dengan jalan menurun.

Kalau dilihat-lihat memang sekarang jarang lihat orang bawa-bawa rantang saat jelang ramadhan yang artinya sedang ada saling ngirim. Padahal dulu sangat lazim dilihat di jalanan desa.

Selain karena alasan sentimentil kenangan masa kecil, mengingat tradisi ini punya lebih banyak manfaat, saya merasa punya kewajiban untuk membicarakannya.

Ah, selain dilakukan jelang ramadhan, ngirim juga biasa dilakukan oleh pasangan yang baru menikah. Makanan tersebut dikirim oleh kedua mempelai ke saudara lebih tua dengan tujuan memperkenalkan istri atau suaminya.


Photo by Gabriel on Unsplash


Lisvy Nael, tante rumah tangga asli Brebes yang mencoba untuk terus berkarya. Dapat dijumpai dalam berbagai platform: Podcast Relaksasi Rasa (Lisvy Nael), YouTube Lisvy Nael, atau website lisvynael.com

+5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *