Flash Back

+3

Oleh: Anby

Hari ini sekolah kembali dibuka, murid murid pun berdatangan dengan penuh semangat seperti biasanya, tak ada yang berubah ataupun berkurang meskipun hari ini adalah ramadhan. Ketika kelas dimulai dan ku buka dengan pertanyaan “siapa yang puasa hari ini?” Merekapun dengan semangat menjawab “saya” sambil mengangkat tangan mereka setinggi mungkin, Sungguh pemandangan yang luar biasa, bisa melihat anak berumur enam tahun begitu bersemangatnya menjalankan ibadah puasa. Meskipun kita tahu seperti apa puasa ala mereka. Namun semangat mereka yang seperti inilah  yang perlu diapresiasi.

Tak lama kemudian muridku yang bernama Fira mengangkat tangannya kembali seraya bercerita bahwa dirinya sudah mengikuti shalat taraweh dan sahur dimalam hari bersama keluarganya. Yang lainpun ikut menyambung dengan menceritakan kegiatan ramadhannya seperti membeli makanan kesukaan untuk berbuka, bermain setelah shalat taraweh dan kegiatan lainnya yang nampaknya begitu menggembirakan.

Melihat mereka begitu antusias dengan puasanya membuatku teringat akan masa kecilku, dimana akupun memulai puasa ketika duduk di bangku TK seperti mereka, dan sama seperti mereka akupun begitu bersemangat menjalani puasa pertamaku.

Saat itu ketika aku mulai belajar berpuasa, aku menjalankan puasa bedug, dimana ketika bedug dhuhur berbunyi aku akan berbuka dengan makan dan minum yang kemudian melanjutkan puasa lagi sampai ashar. Setiap hari jam berbukanya akan dimundurkan hingga akhirnya perlahan aku bisa menuntaskan puasaku hingga adzan magrib.

Begitulah ibuku membimbingku belajar berpuasa, meski puasanya tak selalu berjalan mulus setiap harinya, namun ibuku tidak terlalu memaksakannya mengingat umurku yg masih cukup belia, namun beliau juga tidak terlalu melonggarkannya sehingga aku bisa semena mena untuk tidak berpuasa, kadang beliau mengajakku bermain untuk membuatku melupakan rasa lapar, kadang mengajakku membantunya untuk memasak, kadang mengajakku jalan jalan sore sembari mencari makanan untuk berbuka nanti dan kegiatan kegiatan serupa yang mampu membuatku melupakan rasa laparku. Dan itu ternyata berhasil. Ketika itu aku sanggup berpuasa hingga adzan magrib walupun hanya beberapa hari saja dari sebulan berpuasa.

Selain belajar menahan lapar, saat terberat yang perlu dilakukan saat Ramadhan adalah saat bangun sahur, meskipun ibu selalu memasakkan makanan kesukaanku untuk sahur, namun rasa ngantuk lebih menguasai diriku, tak jarang aku tertidur kembali di meja makan ketika menunggu anggota keluarga lain hadir. Tapi lagi lagi ibu tidak akan menyerah begitu saja, saat melihat aku tertidur kembali, ia akan mengajakku mencuci muka atau menonton film kesukaanku.

Meskipun tak mudah, ramadhan selalu membawa nunasa kegembiraan di hati, dimana aku dan keluargaku akhirnya bisa makan bersama diatas meja yang sama yang jika hari biasa hal ini jarang terjadi mengingat kesibukan mereka, selain itu, aku bisa bermain bersama teman atau saudaraku selepas taraweh, juga bisa ngabuburit ( jalan jaln di sore hari) untuk mencari takjil. dan hal paling istimewa yang selalu aku tunggu ketika ramadhan akan tiba adalah melihat pawai obor yang dilaksanakan oleh remaja remaja masjid dimalam menjelang ramadhan, hal itu sangat menggembirakan mengingat mereka selalu membagi bagikan bunga mawar kesukaanku yang terbuat dari kertas dengan bertuliskan “selamat menunaikan ibadah puasa”.

Tak sadar aku sudah cukup lama melayangkan ingatanku ke ramadhan di masa kecilku hingga melupakan anak anak di depanku yang tengah menceritakan keasyikan ramadhan mereka. Akupun kembali ke masa kini secepat mungkin dan hadir di tengah mereka melanjutkan cerita yang ada. Setelah cukup lama bercerita, kitapun akhirnya memulai kelas kita.


Photo by Sam Moqadam on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *