Api Obor di Bulan Ramadhan

Oleh: Lina Mustikawati S.Pd, S.Tr.Kes

Lina kecil lahir dan besar di sebuah desa, desa Rowokele namanya. Desa Rowokele jaman dahulu belumdi aliri listrik seperti sekarang. Untuk penerangan di rumah – rumah penduduk menggunakan “PERTOMAK” yang menggunakan bahan bakarberupa minyak tanah. Untuk penerangan di depan rumah menggunakan “SENTIR”. Untuk aktivitas kegiatan dimalam hari menggunakan “OBOR”.

Saat bulan ramadhan pergi shalat tarawih ke masjidmenggunakan obor juga dimana obor di buat dari bamboo yang di isi minya tanah. Karena jarak rumah ke masjid yang cukup jauh, sedangkan di jalanan masih gelap gulita karena belum ada listrik, sehingga memerlukan obor  sebagai penerang untuk jalan ke masjid.

Lia kecil berangkat sholat tarwih bersama teman – teman membawa obor masing – masing. Didalam masjid juga menggunakan alat penerangan sebuah lampu “PETROMAK”. Itu merupaka ciri khas lampu di desa pada waktu itu.

Suasana yang ramai di masjid karena banyak orang orang mau menjalankan ibadah sholat tarawih. Dari anak – anak, dewasa, dan bahkan orang tua. Mereka mengatri untuk ambil air wudhu. Ketika sudah masuk di masjid, maka suasana khusuk pun harus dilaksanakan. Kalau masih ramai, siap – siap menerima tegran dari orang yang lebih tua. Ke khusukan di masjid harus di jaga sampai sholat tarawih selesai.

Setelah selesai sholat tarawih mereka pulang ke rumah masing – masing. Selama di perjalanan pulang, mereka baru bias bercanda, bersendagurau selayaknya anak – anak kecil yang lain.

Ada keseruan yang menggelitik, ketika berjalan melewati rerimbunan pohon, semak belukar, tiba – tibamencium aroma singkong rebus. Merekalangsung menjerit dan berlari tunggang langgang. Karena menurut kepercayaan jaman dahulu, apabila ada aroma singkong rebus, maka di daerah itu ada makhluk halus yang kasat mata. Semua ketakutan.

Alhamdulillah akhirnya bias sampai dirumah masing – masing dengan selamat. Karena jiwa anak – anak adalah bermain, maka masih menyempatkan untuk bermain. Ramadhan waktu itu identic dengan obor,kembang api, petasan, dan permainan dalam Bahasa jawayang di kenal dengan istilah “JEDORAN”. Dimana, jedoran merupakan mainan yang di buat dari bambu, menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar. Apabila jedoran itu berhasil, maka suaranya akan kencang seperti ledakan.

Waktu sahur telah tiba, Lina kecil bangun dengan bermalas – malasan karena merasa masih mengantuk. Makan sahur dengan hidangan yang telah di siapkan oleh ibu. Berkumpul di meja makan bersama bapak, ibu, mba, emas, serta adik sungguh terasa nikmat.

Selesai makan sahur, Lina kecil bersiap – siap untuk sholat subuh di masjid. Seperti biasa Lina kecil berangkat ke masjid bersama teman – teman. Dan taklupa membawa obor sebagai penerangan di jalan. Masjid pun ramai oleh jamaah yang akan melaksanakan sholat subuh.

Sudah menjadi kebiasaan setiap bulan ramadhan setelah selesai melaksakan sholat subuh akan dilanjutkan dengan jalan – jalan pagi. Menikmati udara segar, pemandangan yang indah. Semua orangpun keluar untuk jalan – jalan pagi, mulai dari anak – anak, orang dewasa, hingga orang tua, bahkan lansia. Setelah dirasa cukup jauh, kamipun kembali pulang ke rumah masing – masing untuk melanjutkan rutinitas di bulan ramadhan dengan membaca al-quran dan membantu orang tua di rumah.


Photo by Peter John Maridable on Unsplash


Penulis adalah Lina Mustikawati. Merupakan seorang Fisioterapi , yang lahir di Kebumen Jawa Tengah. Sekarang penulis tinggal di Bogor , Jawa Barat. FB Lina Mustika, Ig @Lina.mustika.store .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *