Subuhan Bulan Ramadan

+14

Oleh: Dian Sulis Setiawati

Ash-shalatu was-salamu alayk, ya imamal mujahidin, ya Rasulallah. Kumandang sholawat tarhim memecah sunyi, menenangkan jiwa, seolah memanggil agar bersegera menuju masjid. Selesai sahur, tak lantas membuatku kembali tidur. Aku bersiap menghampiri teman-temanku. Saat itu memang akulah anak yang akan keluar pertama menjemput teman-teman sebayaku untuk subuhan.

Sholat subuh di masjid bersama-sama itulah yang kami sebut subuhan. Subuhan di bulan ramadan itu begitu melekat dalam ingatanku. Kejadian-kejadian lucu, seram, bahkan subuh yang manis pernah menghiasi subuhanku saat bulan ramadan.

Aku langkahkan kaki untuk keluar, “gelap sekali”, gumamku. Bismillah aku beranikan diri, penerangan jamanku kecil tentu berbeda dengan saat ini. Tadi malam selesai sholat tarawih aku janji untuk menghampiri Lia temanku untuk subuhan besok, baru setelah itu akan menghampiri yang lain.

“Liaaaa”, panggilku di depan rumahnya. Tak kudapati suara Lia menyahut, malah anjing yang menggonggong dan bersiap mengejarku. Secepat kilat balik arahku angkat mukena yang kupakai dan berlari dengan kencang sambil berteriak “toloooooooong”. Entah kenapa beberapa teman sebaya laki-laki yang ada di depan gang justru tertawa bukan menolongku.

Akhirnya kakakku menghentikanku. “Heh berhenti dan tengok ke belakang”, katanya. Benar saja anjing tadi ternyata tidak mengejarku justru hanya melihat ke arahku sambil lidahnya terjulur seolah sedang mengejekku dan berkata, “kenapa lari sekencang itu, percaya diri sekali aku bakal mengejarmu”. Haha malunya aku. Sudah tak jadi aku menghampiri Lia dan yang lain, aku berangkat subuhan bersama kakak dan teman-temannya.

Subuhan kali ini memiliki cerita yang seram. Entahlah mungkin hanya ketakutanku akan cerita-cerita penunggu pohon. Kali ini aku akan menghampiri temanku Vinda, untuk sampai ke rumahnya aku harus melewati pohon jambu yang lumayan memiliki cerita seram. Bismillah aku tanamkan dalam hati untuk tidak takut. Alhamdulillah pohon itu telah terlewati tapi setelah beberapa langkah dari pohon itu, aku seperti mendengar suara anak-anak kecil berlarian dan bergurau. Untung pintu rumah Vinda terbuka jadi aku langsung bergegas dan tak lagi menoleh ke belakang.

Melanjutkan perjalanan, berarti saat ini aku dan Vinda akan menghampiri teman kami bernama Nana. Sepanjang perjalanan aku cerita tentang suara anak-anak di pohon jambu tadi. Dia terus memegang tanganku karena takut.

Hampir dekat rumah Nana, tepatnya di bawah pohon mangga yang juga terkenal seram, “blukk” sebuah mangga jatuh di depan kami. Tanpa komando kita lari dan menggedor pintu rumah Nana yang terbuat dari bambu, kita berteriak memanggil namanya. Astagfirullah betapa kagetnya bapak Nana yang saat itu tidur di kursi, dikiranya ada kebakaran sehingga melompat seketika. Begitu pintu terbuka, hmmmm habislah kita kena omelan beliau. Untuk beberapa hari kami tak berani menghampiri Nana subuhan.

Saat selesai sholat kadang kita tak cepat-cepat pulang, nunggu mas ganteng keluar dulu hehe. Iya ada seorang tetangga kami yang masyaAllah, senang sekali jika kita bisa bertemu dia. Melihatnya bersarung dan selalu menunduk pandangannya. Cerita kali ini kita sudah beranjak remaja, tepatnya SMP.

Suatu hari, tak ada satupun teman yang ikut subuhan tapi aku tetap berangkat walau sendiri. Bertemu beberapa tetangga membuatku tenang berangkat sendirian.

Seusai sholat subuh, aku keluar dari masjid tapi saat itu sudah sepi. Aku berjalan sendirian, sampai di tengah jalan aku melambatkan jalanku. Kakiku rasanya lemas karena seekor anjing tiba-tiba ada di dekatku.

Aku ingin lari tapi takut kalau malah dikejar, rasanya ingin nangis. Di tengah ketakutanku ada suara di belakangku berujar “nggak usah takut ada aku aja kok”, ucapnya. Seketika aku menoleh, aduh ternyata suara mas ganteng itu. Aku jadi senyum-senyum sendiri, subuhan yang so sweet kali ini ceritanya.

Subuhan di bulan ramadan saat masih anak-anak itu begitu bermakna, begitu gigihnya kita saat itu untuk pergi ke masjid. Cerita-cerita semangat ibunya sewaktu kecil semoga bisa menginspirasi anak-anakku. Anakku yang pertama umur 7 tahun Alhamdulillah mulai belajar sholat 5 waktu di mushola dekat rumah.

Cerita hebatnya adalah saat beberapa waktu lalu dia akan pergi sholat subuh. Mbah kira pagar sudah dibuka bapaknya, sementara dikira bapak pagar dibuka mbahnya. Ternyata dia melompat pagar rumah setinggi 2 M dengan alasan kelamaan tidak ada yang membukakan. “Semangatnya luar biasa sih tapi nggak gini juga caranya”, batinku. Semoga gigihnya menjadi pejuang subuh melampaui ibunya, Aamin InsyaAllah.


Photo by mostafa meraji on Unsplash

+14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *