Ramadhan-ku Bersama Orang Tercinta

Oleh: Irfan Fandi

Aku mencoba mengingat kembali masa kecilku dengan Ramadhan penuh makna bersama teman-teman, banyak hal kegiatan positif yang kami lakukan bersama-sama tanpa terasa waktu sudah berjalan lama hingga tiba masanya untuk berbuka puasa. Terkadang namanya anak kecil juga pernah melakukan kenakalan ya (hehehehe) tapi masih dibatas yang wajar dan bisa dimaklumi.

“Ayo kita main ke rumah Dicky siang ini habis sholat dzuhur” ajak salah satu teman, disana banyak permainan yang bisa dimainkan untuk mengisi waktu siang yang kosong. Permainannya seperti Monopoli, Ular tangga, Halma, Ludo, Congklak dan masih banyak lagi, lengkap semua temanku miliki. Terkadang hal yang kami kerjakan berbeda-beda setiap harinya, selain bermain dirumah teman ku tadi biasanya kami menghabiskan waktu di mesjid sambil tiduran atau latihan.

Setiap bulan Ramadhan aku dan teman-teman memiliki agenda khusus dari guru mengaji kami, kami diberikan tugas untuk segala hal yang berhubungan dengan aktifitas selama dibulan Ramadhan. Kegiatan itu berupa pembagian jadwal adzan dan baca do’a sesudah sholat isya’ bagi laki-laki, selain itu ada juga tugas sebagai MC (Master of Ceremony) alias protokol pemandu acara dalam safari Ramadhan habis sholat isya.

Waktu siang habis pulang sekolah kami selalu memanfaatkan waktu senggang untuk berlatih bersama-sama, sungguh terasa semangat diantara kami semua untuk menjalankan tugas kami sesuai jadwalnya masing-masing. Kami akan dibagi per kelompok dengan satu mentor yang mengajarkan dan membimbing kami jika ada kesalahan atau perubahan dalam naskah tulisan, bacaan atau pengucapan dalam Bahasa arab untuk berdoa. Kami melakukan itu semua dengan sungguh-sungguh dan antusias yang tinggi, sehingga tidak ada yang merasa bersaing antara satu dengan yang lain melainkan bekerja sama untuk menjadi yang terbaik.

Bisa dibayangkan jika jadwal atau giliran tampil sudah dekat, maka orang yang bersangkutan akan merasa gugup atau kurang percaya diri. Namun mentor guru ngaji selalu memberikan semangat dan nasehat yang berguna untuk kami, “jangan pernah takut salah, atau malu tampil didepan umum. Karena itu semua akan menjadi bekal kalian nanti jika sudah besar. Percayalah!” ucap kepala guru ngaji ku dan kami mendengarkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh, benarlah kiranya itu apa yang disampaikan beliau, aku dan teman-teman merasakan manfaatnya.

“ketika kalian maju tampil didepan, banyak orang yang melihat kamu berdiri didepan itu  berdoa agar kamu lancar menjalankan tugas. Dan tuntas melaksanakan tugas dengan baik. Percayalah ! Orang tua kalian akan bangga dengan anak-anaknya yang mau tampil dan mengasah kemampuannya dengan maju tampil, jadi jangan pernah takut atau malu !.” Sambung guru ngaji ku sambil membimbing kami latihan bersama, jika mengingat kembali ucapan guru ngajiku dulu sungguh membuatku terharu, merinding dan semangat lagi.

Tidak habis disitu cerita kegiatan Ramadhan ku dimasa kecil bersama teman-teman tercinta, biasanya pada bulan Ramadhan di minggu kedua biasanya sudah mulai undangan datang untuk mengikuti perlombaan yang diadakan di masjid sekitaran wilayah rumah ku dan teman-teman. Ini merupakan ajang mengasah bakat dan mengukir prestasi untuk membawa nama masjid dan menjadi perwakilan sebagai kandidat yang maju untuk bertanding dengan teman-teman yang berada diluar sana.

Dikampung halamanku ini merupakan kegiatan yang positif dan pasti akan diikuti oleh banyak peserta dari masjid-mesjid yang ada disekitar itu, dengan membawa perwakilannya yang diambil dari MDA tempat kami menimba ilmu dimesjid bersama guru mengaji kami. Lomba yang dipertandingkan biasanya seperti Adzan, MTQ, Ceramah Agama, Cerdas Cermat Islami, Penyelenggaraan Jenazah dan lain sebagainya. Alhamdulillah setiap pertandingan yang kami ikuti bersama-sama pasti membawa pulang piala kemenangan minimal juara 3 dan pernah menjadi juara umum. Huft Sungguh kenangan yang tak terlupakan dan sungguh indah aku jalani bersama teman-teman seperjuangan ku dulu.

Kebiasaan unik dari Pengurus Mesjid dan Pengurus Remaja Mesjid selalu menghargai segala bentuk prestasi yang kami bawa pulang, kami bertanding dengan membawa nama Mesjid dan Remaja Mesjid sebagai peserta lomba. Piala dan setifikat akan diletakkan diatas meja dan pengurus masjid akan membuat acara penggalangan dana untuk uang saku lebaran kami, ini sungguh pengalaman yang tidak terlupakan selama hidupku. Tradisi itu sampai sekarang masih ada, Cuma untuk saat ini kami bukan sebagai peserta melainkan panitia yang membuat acara untuk kegiatan malam di bulan Ramadhan secara rutin dalam bentuk pesantren kilat.

***

Dibalik itu semua aku dan teman-teman juga seperti anak-anak seumuran yang suka bermain dan pernah melanggar dan membuat kenakalan tapi bukan sesuatu yang fatal atau keterlaluan, masih diatas batas wajar. Aku yakin para pembaca juga pernah melakukannya sewaktu kecil dulu (hehehehe). Kenakalan yang aku lakukan bersama teman-teman dulu pada saat bulan ramadhan adalah bermain petasan di malam hari, ketika kami lagi malas sholat tarawih berjamaah aku dan teman-teman satu per satu kabur dari barisan jamaah sholat tarawih.

Setiap perbuatan pasti ada konsekuensi yang di dapat yaitu kami harus mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah kami lakukan, aku dan teman-teman mendapat hukuman oleh guru ngaji dengan menahan buku safari ramadhan yang selalu menjadi aktifitas rutin setiap malam untuk anak-anak yang masih sekolah pada masa itu sebagai tugas Agama disekolah. Buku itu ditahan sebelum kami membuat perjanjian untuk tidak mengulanginya lagi di kemudian hari, tak sampai di situ hukumannya yang aku dan teman-temanku dapat kan. Melainkan kami disuruh sholat taraweh berjamaah ulang dengan sama-sama (hahahaha) kalo mengingat hal ini aku tertawa sendiri sambil bernostalgia di masa kecil dulu.

***

Hal yang paling penting waktu masa kecil ku dulu selama malam ramadhan adalah tradisi khatam bacaan al-quran yang dilakukan secara bersama-sama dengan bergantian, kegiatan ini biasanya disebut tadarus Al-Quran. Biasanya dilakukan setelah sholat taraweh berjamaah maka warga setempat seperti ibuk-ibuk, remaja/remaji dan anak-anak MDA yang sudah bisa baca Al-Quran akan membacanya secara bergantian.

Dalam Satu bulan penuh ramadhan akan khatam dua kali paling banyak atau bisa juga sekali aja khatamnya, dan setiap khatam maka ibuk-ibuk jamaah masjid akan membuat acara syukuran kecil untuk makan-makan bersama dengan seluruh jamaah yang ikut tadarus Al-Quran malam itu. Ini momen yang selalu dilakukan dan tak pernah tinggal setiap tahunnya, selalu dilestarikan hingga saat ini.

Kegiatan tadarus dilakukan hingga menjelang waktu sahur masuk, biasanya aku dan teman-teman paling semangat dalam hal ini. Karena setelah tadarus maka kami memiliki kegiatan unik lagi yaitu membangunkan seluruh warga dengan pengeras suara masjid, setelah beberapa menit di umumkan maka kami balik rumah maisng-masing sambal membawa rebana untuk jalan keliling selama 15 menit hingga selesai dan baru balik ke rumah masing-masing untuk menyantap menu sahur dirumah bersama keluarga tercinta.

***

Suara serine berbunyi sebagai tanda imsak sudah masuk dan semua orang bersiap-siap untuk dating ke masjid melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama-sama dengan keluarga tercinta dan karib kerabat serta teman dan sahabat. Mesjid terisi penuh dan sampai jamaah sholat diluar dekat halaman teras masjid yang sudah dipersiapkan oleh garim masjid dengan membentangkan karpet jika terjadi kejadian membludaknya jamaah datang ke masjid untuk sholat berjamaah bersama-sama.

Ini merupakan kejadian sekali setahun yang menjadi kenangan yang sangat memoriable dan tak pernah terlupakan, bulan ramadhan diajdikan ajang untuk beribadah sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.

Setelah shalat subuh selesai aka nada sebuah pengajian kecil yang diisi oleh garim masjid untuk emngisi kuliah tujuh menit yang disebut dengan KULTUM. Aku dan teman-teman biasanya kadang ikut mendengarkan dan terkadang lebih banyak kabur pergi ke luar untuk ASBUH (Asmara Subuh) hal ini sangat terkenal pada kala itu, orang-orang akan berjalan kaki sambal cerita dijalanan dan ada juga yang bermain kembang api serta petasan. Biasanya petasan di pakai untuk menganggu orang yang lagi kasmaran atau pacaran yang duduk berduaan di bawah pohon atau diatas motor.

Ini sungguh kenangan yang tak bisa di lupakan dan tak bisa aku biarkan begitu saja, inilah kisah pengalamanku di masa kecil bersama teman-teman dan orang-orang tercinta. Semoga bisa menginspirasi dan bermanfaat untuk para pembaca, “Setiap peristiwa yang terjadi adalah sebuah anugrah, anugrah yang diberikan maka kita bersyukur bisa menjalaninya dengan sangat baik”.


Photo by Robert Collins on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *