Ramadan Mengukir Kenangan

+5

Oleh: Anita Yulia

Waktu terus berlalu, maka yang tetap abadi adalah cerita dan kenangan yang diciptakan saat melewatinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berjuang menjadi golongan orang-orang beruntung yaitu yang hari-harinya lebih baik dari hari kemarin dan mengoptimalkan hal-hal baik yang bisa dilakukan hari ini.

Bulan Syaban telah dipenghujungnya, menjadi pertanda bahwa besok munggahan tandanya akan ada makan bersama sebelum akhirnya berpuasa. Zaman SD dulu pasti ada botram depan kelas atau makan bersama yang nantinya saling bertukar menu makanan bahkan tak sungkan saling berbagi bersama guru-guru. Shalat tarawih pertama selalu dinanti, dan pasti masjid-masjid penuh sekali. Sahur pertama pun selalu berkesan karena menunya telah dipersiapkan sejak siang hari, betapa suka cita ramadan selalu menggembirakan.

Kenapa gembira?

“Seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga, tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang didalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu yang menyamai waktu ini (Ramadan). Ibnu Rajab Al Hambali Rohimahullah.

Aku dan kenangan setiap shalat tarawih adalah posisi duduk yang tak pernah terganti, sejak kecil aku selalu shalat diantara ibu dan nenekku tepat di barisan depan shaf ke tiga sebelah kiri. Duduk diantara orang dewasa membuatku berjauhan dengan teman-teman sebayaku yang duduk di barisan paling belakang, mereka bisa sesekali bercanda dan membawa cemilan. Sedangkan aku menoleh ke belakang pun sulit. Alhamdulillah, ramadan tahun 2021 ini di usiaku yang menginjak 25 tahun, serasa tak percaya bahwa posisi ini masih sama seperti dulu bahkan imam yang sama, Abah Amin namanya beliau masih sangat sehat dan bersemangat.

Dering alarm dan panggilan bangun sahur begitu ramai membangunkan 1/3 malam kita, ikhtiar kita untuk menyempurnakan puasa adalah dengan shalat sunah dan sahur. Sesudah imsak aku dan teman-teman bergegas ke masjid untuk subuh berjamaah disambung mengikuti kuliah subuh dan harus mengisi buku catatan Ramadan yang merupakan tugas dari guru agama di sekolah.

Buku catatan Ramadan menjadi sebuah catatan perjuangan yang berkesan karena didalamnya kita harus mengisi kegiatan kita sehari-hari selama bulan suci, ada catatan shalat wajib dan sunah, tak lupa intinya yaitu ada catatan tausiyah atau ceramah mengaji yang harus terisi penuh selama bulan Ramadan.

Tinggal diperkampungan, menghabiskan waktu ngabuburit dengan bermain permainan tradisional seperti bermain kelereng, cingciripit, atau ucing-ucingan, tak jarang pula ke sawah mencari menu berbuka yaitu belalang dan jamur yang tumbuh didalam tumpukan jerami.

Malam takbiran saat gema takbir saling berbalas, teman-teman menyalakan kembang dan aku menikmati pemandangannya dihalaman rumah, karena dulu aku punya kenangan buruk dengan kembang api saat adikku memegangnya dan tiba-tiba kembang api keluar dari sebelah bawah maka kita sekeluarga kapok dan tak pernah beli lagi kembang api sendiri kecuali melihat dari kejauhan yang dinyalakan oleh orang lain.


Photo by Shrey Khurana on Unsplash

+5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *