Petasan Tinggalkan Pesan

Oleh: Arya Noor Amarsyah

Ramadhan identik dengan puasa. Bulan penuh berkah ini juga tidak lepas dari aktivitas sholat Tarawih. Ramadhan juga biasa diisi oleh anak-anak yang bermain petasan dan kembang api.

Begitu pula saya dan adik, waktu kecil di bulan Ramadhan. Bermain petasan dan kembang api.

Kami tinggal di kawasan padat penduduk. Rumah yang satu berdempetan dengan rumah yang lain. Di kawasan seperti inilah,  kami bermain petasan.

Suatu ketika, petasan yang kami sulut, meledak dan mengagetkan tetangga. Dia berteriak, “Heii!!! Jangan main petasan di sini!!  Ada yang sakit!!”

Esok harinya … Tahu gak teman-teman?

Orang yang kemarin dikatakan sakit, meninggal.

“Jangan-jangan yang sakit itu, sakit jantung. Lalu kaget karena mendengar ledakan petasan, kemudian meninggal,” begitu yang ada di pikiran anak kecil.

Tidak terpikir bahwa orang itu meninggalkan dunia ini, karena sudah ajalnya.

Yang ada dalam pikiran ya …itu tadi. Wafat karena kaget mendengar ledakan petasan.

Saat dewasa sekarang, ternyata ledakan petasan memang mengganggu sekali. Ingin rasanya berteriak dan memarahi anak-anak yang meledakkan petasan.

Tapi… Begitu teringat pengalaman masa kecil, jadi sadar diri. “Saya dulu juga seperti mereka. Bermain petasan tidak peduli pada orang lain.” Marah dan meneriakkan mereka pun urung dilakukan.

Kejadian ini terjadi berulang. Kerap kali merasa kesal pada anak-anak pemain petasan. Perasaan maklum pada mereka kembali terjadi. Akan tetapi lama kelamaan, saya jadi menyadari. “Perbuatan mereka ini salah. Tingkah saya dulu juga salah. Karena mengganggu orang lain dengan meledakkan petasan.”

Dengan kesadaran ini, saya menilai sikap maklum pada mereka adalah salah. Tak ubahnya melihat kemungkaran, kata Rasul minimal hati harus menolaknya. Bukan memakluminya. Memang belum bisa menegur mereka, karena merasa malu pada diri sendiri. Juga belum bisa mencegahnya dengan tangan. Tapi batas minimal menolak dengan hati harus ada pada diri ini.

“Bagaimana bila saya mencoba untuk menegurnya?”

“Saya harus konsekwen dengan ucapan. Ucapan harus satu dengan perbuatan. Karena Allah benci pada orang yang ucapannya tidak sama dengan perbuatannya.”

Saya yang bertanya dan saya pula yang menjawab. Rangkaian pengalaman dan nilai-nilai yang terkandung di baliknya, membuat diri tersadar. Islam itu luar biasa ya dalam menjaga sikap seseorang terhadap kemungkaran.

Sikap pada kemungkaran tidak boleh memakluminya, karena alasan diri sendiri pernah atau masih melakukan kemungkaran yang sama. Sebab Rasulullah berpesan agar hati menolak kemungkaran dan bukan memakluminya.

Lebih baik lagi, menegur pelaku kemungkaran dan yang paling baik mencegah kemungkaran dengan tangan. Tapi ternyata menegur pelaku kemungkaran bukan tanpa konsekwensi. Karena bila sudah berani menegur, maka orang yang menegur juga harus bersikap lurus. Kata dan perbuatan harus sama.


Photo by Farhan Azam on Unsplash

One Comment on “Petasan Tinggalkan Pesan”

  1. Saya dulu paling benci kalau berangkat tarawih dikagetin dengan suara petasan dari anak laki-laki yang iseng banget. Mau marah, dulu saya kok nggak berani ya. Akhirnya hanya lari ketakutan. Hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *