Pasukan Krucil Ramadhanku

+23

Oleh: Ristanti Anistiya

Bulan Ramadhan di masa kecilku dan aku yakin sama dengan anak-anak muslim lainnya identik dengan masa-masa penuh kegembiraan, kebersamaan dalam ‘petualangan’ bersama teman-teman serta kenakalan2 yang seru yang walau sering dimarahi orang tua namun tiada rasa kapok untuk mengulangnya.

Yang tinggal di Jawa Barat pasti tidak asing dengan istilah “ngabuburit”, berasal dari kata burit atau sore yang bisa diartikan melakukan aktifitas tertentu di sore hari sambil menanti waktu buka puasa. Kebanyakan anak-anak mulai dari usia balita sampai remaja (kadang orang tua juga tidak mau kalah ikutan) mengisinya dengan jalan-jalan jarak dekat, bersepeda atau cukup kumpul-kumpul santai di taman atau lapangan terdekat sampai menjelang waktu Magrib. Termasuk aku dan teman-teman tidak pernah melewatkan waktu istimewa ini. Selepas waktu Ashar, setelah mandi sore, kami suka ria berkumpul di tempat kesukaan kami, di lapangan badminton di dekat kompleks rumah. Padahal hanya ngobrol dan bercanda biasa tapi gembiranya luar biasa. Dan menjelang Magrib kami pulang dengan riang untuk menyambut buka puasa dengan menu cemilan khas: mie golosor plus berbagai gorengan yg lezat dilengkapi dengan kolek pisang atau pacar cina yang menarik selera sambil tak sabar ingin segera ke musholla, berkumpul lagi dengan sobat-sobat untuk sholat Tarawih.

Maka momen keriaan selanjutnya adalah saat menjelang sholat Tarawih. Kami para krucil sudah siap siaga berkumpul di musholla kecil dekat rumah sambil bergantian menabuh bedug kesayangan kami yang diletakan di depan Musholla. Bedug ini berukuran cukup besar yang sudah lumayan berumur ‘diwariskan’ dari generasi ke generasi di kampung kami.  Menabuh bedug pun ada seninya, bukan sembarangan menabuh namun ada irama tertentu yang hanya kakak-kakak senior kami yang bisa memainkannya dengan lihai. Kami para yunior cukup memandangnya dengan rasa takjub dan kadang jika para senior sedang baik hati, kami diajari cara menabuh bedug dengan irama tertentu. Senangnya luar biasa saat mendapat turunan ilmu yang langka ini. Dan kami pun rebutan untuk dapat jatah menabuh bedug barang dua atau tiga menit karena antrian yang ingin coba lumayan panjang dan kadang urusan ini bisa membuat sedikit perselisihan jika ada yg terlalu lama keasyikan menabuh bedug dan tidak mau gantian. Rasanya bangga dan prestise sekali mendapat kehormatan menabuh bedug, serasa menjadi Gilang Ramadhan Junior…hehe.

Acara menabuh bedug berakhir saat azan Isya mulai berkumandang dan kami bersiap-siap mencari tempat yang terbaik di dalam musholla dan tempat terindah tentu saja di barisan paling belakang agar kami tetap leluasa melanjutkan ‘kesibukan’ kami. Jika jamaah sholat sedang ramai maka kami para krucil ini tidak akan kebagian tempat di dalam dan ‘diusir cantik’ untuk sholat di luar musholla namun kami tetap riang gembira menjalaninya.

Selalu ada celah bagi kami untuk membuat setiap momen sholat Tarawih mengesankan. Saat membentuk shaf untuk sholat adalah saat yang paling menghebohkan dan makan waktu cukup lama. Bapak bapak kami tiada bosan menegur kami agar tidak ribut dan mulai membuat shaf sholat, mulai dari teguran yang penuh kesabaran dan kasih sayang  sampai akhirnya teguran dengan suara oktaf 5 sembari mata yg sedikit melotot. Kalau sudah begini, langsung diam kami dan berusaha mengikuti sholat dgn ‘tertib’. Sayangnya ketertiban dan kesunyian itu tak lama umurnya. Selalu saja ada teman kami yang membuat kelucuan dengan gerakan badan atau kata aamiin yang disuarakan dengan nada yang unik meliuk-liuk saat Imam sholat selesai membaca surat Al Fatihah. Dan kami selalu gagal dalam usaha keras menahan tawa agar tidak kena marah lagi. Akhirnya terdengarlah pecah tawa cekikian di sana sini. Jeda antar rakaat dalam sholat Tarawih pun selalu menjadi momen yg kami tunggu-tunggu untk kembali bergurau sejenak. Atmosfir kegembiraan benar-benar meliputi hati kami semua.

Setelah sholat Tarawih usai, kami berhamburan lagi menuju bedug kami tercinta dan kembali menabuhnya dengan semangat yang menggelora . Anak-anak junior lainnya mengitari dan mengerubungi bedug sambil terus mengagumi para drumer musiman kami. Sampai kapan? Sampai akhirnya semua kelelahan dan pulang ke rumah masing-masing untuk meneruskan buka puasa yang belum tuntas lalu pergi istirahat beberapa jam saja karena jam 2 malam kami anak-anak ‘militan’ Ramadhan ini kembali menunaikan ‘tugas negara’ membangunkan warga untuk sahur. Dengan gagahnya, kami berkeliling rumah di lingkungan RT kami dengan membawa kentongan sambil  dengan penuh semangat dan berirama khusus meneriakan: Sauuur….sauuur…. Sauuur…sauuur… Penghuni rumah yang dilewati Tim Pembangun Sahur yang super ini bisa dipastikan akan langsung terbangun saking polnya suara mereka memecah keheningan malam. Mungkin juga ada yang terganggu dan bersungut-sungut dengan aksi ‘heroik’ kami tersebut namun kafilah tetap lah berlalu.

Mungkin saat itu kami belum memahami makna bulan Ramadhan yang sesungguhnya dan belum mengisinya dengan berbagai ibadah yang seharusnya. Mungkin kami baru memahami bagaimana mengisi bulan Ramadhan dengan semestinya setelah kami semakin beranjak dewasa. Namun dengan masa-masa hangat dan penuh keriangan ini, bulan Ramadhan Mubarak telah mendapat tempat yang istimewa dan tak tergantikan di hati kami.


Photo by hossein azarbad on Unsplash

+23

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *