Pasar Bedug dan Kembang Api

+3

Oleh: Andika Arnoldi

Senja keemasan, sekira tahun 1993. Ayahku mengajaku ke pasar bedug untuk membeli takjil untuk berbuka puasa. Aku saat itu baru berusia lima tahun, tidak tau pasti apa artinya pasar bedug. Apakah karena ada bedug di sana? Mungkin saja.

Lantas saja dengan mobil sedan accord buatan tahun 80 an, kami berdua meluncur. Sementara ibuku dan kakak ku di rumah menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Naik mobil accord adalah sebuah kebanggaan, tersebab mobil ini adalah mobil yang menurutku sangat jumawa, karena sering mengaspal di jantung Kota Jambi. Oleh kakakku mobil yang lampunya bulat ini, beberapa kali ikut race jalanan, boro-boro menang, kaca mobil serta bodi belakang mobil ini kerap hancur karena ditabrak.

Ke pasar bedug. Mataku sangat awas sekali saat itu, mencari tau di mana letak bedug yang menjadi padanan kata dari pasar yang sangat ramai ini. Nyaris tak bisa berjalan, sering sekali nyelip di antara badan-badan besar yang sedang memilih kue-kue yang di jajakan di pasar bedug.

“Aduh…”

Seorang pemuda lalu terjatuh tepat di belakang ayahku. Sontah aku dan ayah menengok ke belakang. Lalu sekumpulan pemuda lalu mengerumuni ayah ku, penasaran apa yang terjadi.

“Kenapa Pa,” tanyaku

“Kalau di jalan hati-hati ya, banyak copet,”

“Copet ?”

“Papa merasakan dari belakang ada yang meraba kantong belakang, untung kantong belakang dikancing, sehingga susah di curi,”

“Iya pak, begitu modus copet, bahaya” tanggap seseorang yang mendengar pembicaraan kami.

Mengerikan, sekali, ketika itu. Sempat pula, seorang dari kumpulan pemuda malah menuduh ayahku mau mencopet.

Kamipun pulang, ayah pulang membawa lemang dan aku dibelikan kembang api satu kotak berisi 10 batang

Sehabis berbuka bersama keluarga, aku izin bersama pada ayah dan ibu untuk bermain kembang api.

“Nanti saja habis tarawih,” ujar ibuku

“Malah ketiduran Ma,” ujarku langsung keluar membawa kembang api dan korek api.

Satu dua kembang api, tidak berhasil dibakar, barangkali sudah tak bisa dibakar lagi. Tapi sebemarnya aku, tak selalu berani bermain kembang api, takut apinya, memercik kemuka atau ke tangan, makanya ketika kembang api ku bakar langsung ku lempar saja, tak berani jika dipegang.

Satu kembang api berhasil terbakar dan memercikan api, langsung saja, kembang api itu ku lempar, namun kembang api itu malah masuk ke dalam mobil.

Panik.

Lantas aku berlari ke dalam rumah dan segera memberi tahukan pada ayah.

“ Pa, kembang api masuk mobil,”

“ Apa?”

Bergegas, ayahku keluar dan mengambil kembang api. Seperti orang yang cemas, dari meja makan, ayahku lalu berlari ke mobil yang terletak di depan rumah.

“Untung saja,” katanya

“Tau ga di dalam mobil itu ada bensin dalam dirigen, kalau terbakar meledak semua, untung apinya segera mati,”

Hatiku kacau.

Sejak itu, hampir tak pernah aku main kembang api, karena trauma dan takut. 


Photo by Kevin Davison on Unsplash

+3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *