Ramadhan, dan Ingatan Tentang Sahabat

Oleh Lufti Avianto.

Namanya Iman. Dia sahabat baikku, teman bermain bola, main di sawah, memancing, dan kadang mengerjakan PR. Tapi lebih sering, bukan sahabat dalam ‘iman’, karena lebih sering dia menjadi partner in crime, saat kami sering bermain petasan yang membuat bising seisi kampung, atau diam-diam, –ya tentu saja diam-diam–berbuka puasa sebelum waktunya.

Kala itu, aku rasa, kami masih sangat belia. Sekira delapan atau sembilan tahun. Tentu saja, ketika Ramadhan tiba, kami bergembira. Bukan karena hadits Nabi yang mengatakan gembiranya seorang Muslim karena datangnya bulan suci nan penuh Rahmat dan ampunan. Tapi yang terpikir adalah menu berbuka yang menggiurkan, tarawih berjamaah di masjid, bermain petasan selepas sahur, angpao lebaran, dan tentu saja: baju baru!

Maka, hari-hari menjalankan puasa Ramadhan, tentu saja bukan perkara gampang, kawan! Kami harus bersekolah di pagi hari, dan pulang ketika matahari bersinar gagah di ubun-ubun. Jangan samakan dengan kondisi saat ini yang memaksa anak-anak kita harus sekolah di rumah dengan perangkat video conference dan sejenisnya. Kami, juga kalian tentu saja, berangkat sekolah dengan mata yang masih terkantut-kantuk, dan pulang dalam keadaan lapar selapar-laparnya.

Maka, ketika si partner in crime ini mengusulkan berbuka diam-diam, aku langsung turuti. Ah, senangnya ada kawan sependeritaan yang mau berbuka bersama, meski jauh sebelum adzan maghrib berkumandang.

Maka aksi siang itu, kami berjanji akan bertemu di taman bermain di komplek perumahan seberang perkampungan kami. Masing-masing membawa sebotol air minum yang kami sembunyikan di antara perut dan celana, yang sebisa mungkin ketika keluar rumah, kami menahan napas, agar botol itu tak terlihat menonjol. Kami juga membawa bekal uang jajan yang utuh, karena biasanya kami gunakan sebelum atau sepulang salat tarawih di masjid.

Suatu siang itu, aksi kami berhasil. Dan kami sudah berada di taman –tepatnya bersembunyi di bawah perosotan—sambil meneguk air dari botol yang kami bawa. Iman kemudian mengeluarkan beberapa buah jambu biji yang ia ambil dalam perjalanan. Kami menikmatinya, seolah-olah tak ada yang melihat.

Sesudah merasa agak kenyang dan haus telah hilang, botol bekas air mineral, kami buang untuk menghilangkan jejak. Lalu kami pulang bersama ke rumah masing-masing, menjalankan rutinitas selanjutnya seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa. Di rumah, ketika waktu berbuka puasa tiba, aku –seperti juga Iman di rumahnya- berakting seolah-olah kami masih berpuasa.

Kejadian itu, kami bahas keesokan harinya di sekolah. Kami merasa berhasil dengan upaya berbuka puasa diam-diam itu dan merencanakan untuk mengulanginya di siang berikutnya. Siang kedua, ketiga hingga kelima, semua berjalan seperti biasa. Kami berhasil berbuka tanpa diketahui keluarga.

Tapi nahas, di siang keenam –kalau tak salah– Dodi, abang Iman, memergoki kami yang pulang usai berbuka di taman. Saat itu Dodi melihat kami asyik meneguk botol berisi air dingin.

“Hei… nggak puasa ya?”

Sontak, Iman membuang botol itu ketika melihat abangnya mendelik ke arah kami. Wajah kami pucat. Apalagi Iman, membayangkan sapu dan cincin batu akik bapaknya akan mendarat di pipi atau sekujur badannya, kalau tahu ia berbuka di siang bolong.

Kami mematung dan saling pandang, melihat Dodi segera berbalik meninggalkan kami. Kami sama-sama mencium bau petaka, terutama bagi Iman.

“Dia pasti lapor ke bapak,” Iman mendengus. Nyalinya ciut.

Keesoakan harinya, benar saja yang kami bayangkan terjadi. Aku melihat wajah lebam di pipi dan paha Iman. Ya, meski aku sendiri selamat –tetap tak ketahuan—tapi sejak itu kami percaya, bahwa Allah tak hanya Maha Penyayang, melainkan juga punya siksa yang pedih bagi mereka yang ingkar.

“Kata Bapak, ini belum seberapa daripada siksa neraka nanti…” Iman meringis mengusap pipinya yang membiru.

“Nanti siang, kita ke taman lagi?” aku menggoda Iman.

“Ogah!” Dia berseru kesal.


Photo by Jordan Whitt on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *