Sebuah Perjalanan Nekat Seorang Rider Perempuan

0

Kalian kenal seorang wanita yang ke mana-mana naik sepeda, bahkan pakai kebaya? Jika kalian tidak tahu atau belum mengenalnya, kalian harus baca buku ini. Yup, buku “A Female Rider’s Diary” adalah sebuah buku catatan perjalanan dari seorang wanita yang bernama Denik. Sebagian orang mengenalnya dengan gayanya yang unik dengan memakai kebaya setiap menghadiri sebuah acara apapun dan di mana pun. Bedanya, dalam buku ini, penulis tidak naik sepeda dalam perjalanannya, melainkan sepeda motor.

Buku catatan perjalanan ini merupakan buku Denik yang ke sekian. Kali ini penulis mencoba mengabadikan momen motoran dari Kota Tangerang menuju Surabaya. Walaupun kesehariannya akrab dengan sepeda, kali ini penulis tidak nekat melakukan perjalanan antarpropinsi dengan sepeda tapi dengan sepeda motor. Tetap saja, bagi sebagian besar wanita tidak akan sanggup melakukan perjalan jauh dengan mengendarai sepeda motor.

Saya sendiri pernah melakukan touring motor dari Tulungagung ke Pasuruan bersama adik dan sepupu. Sungguh saya merasakan lelah yang sangat, badan pegal-pegal ditambah cuaca panas, bukan sebuah pilihan yang menyenangkan. Padahal itu masih satu propinsi. Bagiamana penulis yang juga menulis buku “Bersepeda ke Hatinya” ini bisa bertahan melakukan perjalanan jarak jauh seorang diri dengan menggunakan sepeda motor?

Dari Tangerang penulis berangkat pada tanggal 8 Juli 2016 dan tiba di Surabaya pada tanggal 13 Juli 2016. Selama lima hari perjalanan dari satu kota ke kota lain, dari kabupaten ke kabupaten, penulis melakukannya dengan semangat dan tidak henti berdoa. Untuk apa ia melakukan perjalanan itu?

Selain memang hobi jalan-jalan, Penulis berniat menghabiskan masa libur lebaran dengan bersilaturahmi ke rumah saudara, kerabat dan teman-teman yang wilayah atau daerahnya sempat ia singgahi. Aksi wanita ini terbilang nekat, pasalnya ia mengendarai sebuah motor yang kondisinya tidak fit seratus persen. Meski begitu, si Cempe- begitu ia memberi nama sepeda motornya- mampu bekerja sama dengan baik hingga garis finis.

Dari Tangerang, penulis melintasi 36 kota/kabupaten. Di beberapa kota ia berhenti untuk istirahat, beberapa kota lainnya sempat singgah untuk bertemu kerabat dan bermalam. Di setiap kota yang dilewati, ia tuliskan pengalaman yang berkaitan dengan lokasi tersebut. Tidak lupa, penulis juga menyertakan informasi terkait kuliner khas, kerajinan yang terkenal di wilayah tersebut hingga sedikit menyematkan sejarah kota-kota yang ia sambangi.

Sebagai pembaca, wawasan saya jadi bertambah dengan informasi mengenai ciri khas sebuah kota. Saya jadi tahu asal kesenian Kuda Lumping, julukan untuk kota Karawang, kota Pati terkenal dengan dua pabrik kacang terkenal di Indonesia dan saya juga baru tahu ada kota bernama Krian. Dan masih banyak info lain yang mungkin belum semua orang mengetahuinya. Buku ini pun menjadi semakin bermanfaat bagi pembaca.

Bagi saya pribadi kekurangan buku yakni pembahasan setiap babnya terlalu pendek. Saya rasa penulis masih bisa meng-explore lagi dengan lebih dalam. Kemudian, ada cerita atau kisah yang masih merupakan rahasia dari penulis. Jika penulis bermaksud mencetak ulang buku ini, sebaiknya cerita yang belum tuntas itu dituliskan dengan lengkap hingga menjadi cerita yang utuh.

Sebagai seorang manusia yang tentunya hanya mengharap kepada Sang Maha Pemilik Segala, saya kagum dengan penulis yang tidak lupa menyertakan Sang Khaliq di setiap perjalanannya. Kerena tentu saja dengan melakukan perjalanan jarak jauh sendirian, siapa lagi yang akan menjamin keselamatan kita jika bukan Dia Yang Maha Melindungi.

Saya juga kagum dengan keberanian dan keramahan penulis saat bertemu dengan orang asing. Bahkan ia bertemu dengan orang yang sebelumnya hanya berteman di media sosial, namun ternyata sangat bersahabat ketika bertatap muka. Satu lagi pertemuan yang menakjubkan, penulis berhasil menyambangi sastrawan besar favoritnya yang tinggal di daerah Tinggarjaya. Denik yang sebelumnya hanya mengagumi karya-karya sastrawan tersebut, akhirnya dapat saling menyapa di rumah sang sastrawan yang asri.

Pastinya perjalanan ini sangat berkesan bagi penulis dan sebagai pembaca, saya pun merasa lega saat penulis mampu mencapai titik finis dari perjalanannya. Selamat untuk Denik yang berhasil mengalahkan ketakutan, keraguan dan rasa tidak percaya diri.

 Judul              : A Female Rider’s Diary

Penulis            : Denik

Penerbit         : Azizah Publishing

Terbit               : Desember, 2020

Tebal               : 172 halaman

0

One Comment on “Sebuah Perjalanan Nekat Seorang Rider Perempuan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *