Cerpen Iecha Hakim: Elter

+2

Aku bergegas mengemas laptop saat pengunjung mushala mulai banyak. Sejak tadi aku di sini, menatap keramaian Alun-Alun Depok dari sela kayu yang menjadi dinding depan mushala. Aku akui, tempat ini nyaman. Namun, entah kenapa, aku belum menemukan apa yang aku cari, sampai aku bosan dan merasa terusir oleh kedatangan pengunjung dalam jumlah banyak. Dia mengikutiku tergopoh, memakai sepatunya dengan tergesa, sambil segelas besar bubble tea menempel di mulutnya.

“Mau foto di situ nggak, Ra?” tanyanya, usai melepaskan sedotan bubble tea dari mulutnya.

Pandanganku terarah pada objek yang dia tunjuk: sebuah instalasi yang menurutku berbentuk sepasang sayap tergulung. Sontak, aku menggeleng.Tempat itu penuh orang, banyak yang rela antre untuk berfoto di situ. Tapi, aku enggan.

“Barangkali lo bisa dapet ide.” Dia memijak jembatan kayu yang menghubungkan mushala dengan alun-alun, keras. Tawanya senang saat jembatan itu bergoyang.

“Nggaklah. Kapan-kapan aja kalo sepi.”

Pandanganku berputar, menatap sekeliling. Ada sebuah bangku taman kosong, tak jauh dari tempatku berpijak. Segera aku hampiri, sebelum keduluan orang lain. Di sini, bangku taman jadi rebutan, sebab cuma itu tempat untuk duduk manis. Jangan bayangkan bisa duduk santai sambil bersandar di bawah pohon. Alun-alun ini tidak diciptakan untuk piknik tipis-tipis.

Aku kembali membuka laptop, menatap halaman yang masih kosong, meski sudah hampir tiga jam  berada di tempat ini. Aku nyaris frustasi. Hari sudah sore dan tugas cerpen ini harus aku kumpulkan besok. Tapi, satu huruf pun belum tercetak di lembar kosong Ms. Word-ku. Oh, sesulit inikah mencari satu kata bernama ide?

“Emang susah banget, ya?” tanyanya lagi, tepat saat aku menjitak ubun-ubunku.

“Gitu, deh.”

“Kan, lo yang usulin tema piknik.”

“Iya. Tapi kan, gue cuma asal nyeplos. Nggak kepikir juga kalo bakalan ditanggapin serius.”

Sosok di sebelahku kembali menyeruput bubble tea, dengan suara terdengar nikmat. Tatapannya kini bukan pada gelas berisi bola-bola sagu itu, melainkan lurus ke lapangan basket yang hanya berjarak beberapa meter. Aku ikut menatap ke arah yang sama. Riuh yang sedari tadi aku abaikan, kini mulai mengisi ruang pendengaran.

“Kayaknya ada tanding,” ucapnya, saat tahu aku menatap apa yang dia tatap.

Aku hanya mengangguk. Mataku mendadak fokus pada sosok berjilbab di bawah pohon dekat pagar lapangan basket, yang asyik dengan kamera ponselnya.  Aku sadar, senyumku merekah, kepalaku terang benderang. Akhirnya, setelah tiga jam penantian, aku menemukannya juga!

Halamanku tidak lagi kosong. Aku menulisinya dengan outline tentang seorang cewek yang rela bersembunyi di antara pohon dekat lapangan basket, hanya untuk mengagumi salah satu pemain basket itu. Aku tidak menyiapkan bagian ending-nya, biarkan saja berjalan. Enam halaman sepertinya cukup untuk menyelesaikan urusan mereka.

“Hm…..” Dia berdehem di sebelahku. “Standar banget sih, ya.”

Aku menatapnya dongkol. “Bisa nggak, diem aja?”

“Seriusan, yang bikin cerita kayak gitu mungkin udah jutaan orang,” Dia menyedot udara kosong dalam gelas bubble tea-nya. Benar-benar hanya udara, tanpa air atau bola sagu di dalamnya.

Iya juga, sih. Tapi, jutaan orang? Lebay! Aku menutup lagi laptopku. Pikiranku kembali melompong. Ide satu-satunya tadi melayang begitu saja. Kini, aku harus memikirkan ide lain yang tidak standar. Kata kuncinya; tidak standar. Kakiku kembali melangkah, mencari tempat-tempat yang sekiranya menyembunyikan ideku.

Aku mendaratkan diri di bangku semen berundak, di antara orang-orang yang asyik menonton atraksi panjat dinding. Lagi-lagi, aku mengedarkan pandangan sejauh yang bisa aku jangkau: pagar alun-alun, penjual makanan di sepanjang pagar, dan… yah, orang pacaran mendominasi bangku semen ini.

“Aneh banget nggak sih, nih alun-alun?” tanyanya.

“Hum….” jawabku. “Posisinya aneh. Mana ada alun-alun yang kelihatan cuma satu sisi?’

“Mana ada alun-alun yang lokasinya di dalem komplek?”

Pemkotku unik. Mereka membuat alun-alun di dalam perumahan. Di daerah lain, alun-alun ada di tengah kota, dekat pusat pemerintahan dan Masjid Raya. Pusat pemerintahan Kota Depok berada di Margonda, bersebelahan dengan pusat perbelanjaan. Sedangkan, Masjid Raya Depok entah bagaimana kabarnya. Selama ini, masjid yang menjadi kebanggaan kami cuma Masjid Kubah Mas di Meruyung, cukup jauh dari Margonda.

Kabar yang aku dengar dari pengemudi taksi daring, pusat pemerintahan Depok akan berpindah ke komplek Grand Depok City, tempat alun-alun berada. Kantor dewan, pusat pemadam kebakaran, kantor tentara, pengadilan, sudah pindah terlebih dulu. GOR sedang dalam tahap pembangunan. Lokasinya memang enak dan tidak macet, sayang tidak ada angkutan umum. Orang harus menyewa ojek daring supaya bisa sampai di tempat ini.

Lewat sudut mata, aku melihatnya mengambil ponsel di tas. Ponselku. Mungkin dia sudah bosan mengamati pemandangan yang terlalu ramai, padahal tadi kami sudah membuat perjanjian untuk membiarkan ponsel itu tetap dalam tas selama kami di alun-alun. Jemarinya lihai membuka kunci layar, dan mulai berselancar. Aku? Sudah pasti aku tergoda. Tapi, aku harus fokus pada tujuanku: mencari ide yang terserak.

“What a blessed day!” serunya.

Pandanganku dari atraksi panjat tebing teralihkan, berganti dengan wajah sumringahnya yang kini memenuhi tatapanku. Matanya penuh bintang, sembari jemarinya terus bergerak di layar datar. Jujur, aku penasaran. Hampir saja aku melirik ke layar, ingatanku akan tugas dan hari yang semakin sore memukulku keras. Hei, aku harus konsisten, bukan?

“Ra, yakin nggak mau lihat?”

Aku menggeleng kuat-kuat. Nooo! Lembaran tugasku masih kosong! Besok aku harus mengumpulkan tugas cerpen ini!

“Ryeong cover Aewol-ri buat ultah Kyu!”

Eh? WHAT?! Itu pasti keren! Pasti ada nuansa baru di lagunya. Tapi, please, please, please jangan tergoda. Fokus! Ayo tatap lagi orang panjat dinding!

“Mickey update Don’t Go, nih!”

Aaargh! Kenapa sih, semua orang seakan bersepakat menggodaku sore ini? Cepat-cepat aku alihkan lagi pandanganku ke laptop, menatap lembar kosong tanpa secuil huruf pun. Pikiranku tertambat pada Mickey, seorang penulis Fanfict kesukaanku. Mungkin, dengan membaca tulisannya, aku jadi mendapat ide.

Hampir saja tanganku terjulur untuk meraih ponsel, suara riuh dan tepuk tangan singgah di telingaku. Tatapanku terarah pada dinding buatan yang menjulang. Di dinding sebelah kiri, seseorang berdiri di puncaknya sambil melambaikan tangan. Tidak berapa lama, dia meluncur turun dengan tali, diiringi sorak sorai.

Yes, I got it!

Jemariku menari di atas keyboard, menuliskan outline tentang seorang pemanjat tebing yang melamar gadisnya dari ketinggian puluhan meter di atas tanah. Diterima? Itu sudah biasa. Aku akan membuatnya ditolak supaya pembaca jadi termehek-mehek. Konon, cerita miris begitu biasanya lebih lekat di benak pembaca dibanding cerita-cerita bahagia.

“Oh, sad!”

Aku menoleh, mendapatinya menatap lurus pada layar laptopku. Wajahnya dibuat seolah-olah menahan sedih yang dalam. Senyumku merekah. Aku yakin, cerita ini akan berhasil mengaduk emosi pembacanya, lalu mereka semua terkesan. Yes!

“Sadis aja sih, tuh cewek.”

“Hoh.” Aku mengangguk. “Cowoknya juga nekat.”

“Ini cerita bakalan panjang. Enam halaman nggak akan cukup.”

“Cukup. Kan begini doang.”

“Logikanya di mana, Malih? Situ ngapain ngejalanin sekian lama sama cowok kalo nggak pengen serius? Situ player? Kalo tuh cowok udah sampe tahap ngelamar so sweet begini, berarti kan selama ini hubungannya serius dan udah bahas masa depan!” ceramahnya, sambil memperhatikan laptopku.

“Ntar gue bikin bokapnya si cewek yang nggak suka sama dia, tapi ceweknya nggak bilang.”

“Kenapa bokapnya masih izinin mereka jalan?”

“Bokapnya nggak tau. Cowok itu nggak nyamper ke rumah, ketemuan di pinggir jalan.”

“Itu sih, cowok nggak serius! Mustahil ada adegan ngelamar dari atas tembok begini. Mending juga nyamperin bapaknya cewek buat buktiin kalo dia pantes.”

Inginku berkata kasar atau lempar sendal. Berisik! Mood-ku hilang karena logikanya yang malas aku bantah lagi. Ribet banget makhluk satu ini! Cerita ini tidak lagi menarik buatku. Ocehannya pasti akan selalu terngiang di setiap huruf yang aku ketik. Hufth!

Aku bangkit dari bangku semen berundak. Entah ke mana tujuanku kali ini. Dia mengikuti setelah membuang gelas kosong bekas bubble tea. Hanya gelasnya, sebab sedotan besar ungu itu masih menempel di bibirnya. Aku menghela napas. Sejujurnya, aku lebih ingin dia diam saja di bangku berundak, main ponsel, atau lirik-lirik cowok jomblo. Aku akan menjemputnya nanti, saat cerpenku selesai.

Pengunjung alun-alun makin banyak, meski mentari semakin merunduk. Balita-balita berlarian bebas, dengan orang tua mereka yang mengikuti di belakang, membawa mangkuk isi makanan. Nyaris tidak ada lagi tempat duduk tersisa. Sekali dua, riuh dan tepuk tangan terdengar.

Aku melirik ke sisi kananku. Trek atraksi sepeda dan skateboard dipenuhi penonton yang berdiri di sekeliling. Aku akui, atraksi yang terlihat sepintas olehku itu keren. Anak-anak itu sangat ahli mengendarai sepeda di lapangan yang bentuknya seperti mangkuk. Mangkuk? Ya, legok. Untuk yang ini, aku memuji kecerdasan pemkotku. Lapangan ini multifungsi: saat musim panas jadi trek sepeda dan skateboard, musim hujan berubah jadi kolam renang.

Bruk!

Tubuhku bergoyang. Keseimbanganku hampir runtuh. Susah payah aku menahan laptop di tangan agar tidak jatuh. Seseorang, sepertinya bocah, menabrakku lalu lari begitu saja tanpa ada ucapan apapun. Seorang lagi masih berlari, sepertinya main kejar-kejaran. Bajunya basah penuh pasir. Aku yakin, bajuku juga. Mau marah, tapi ya sudahlah, yang terpenting laptopku aman.

“Lagian, lo kenapa segala bawa laptop, sih? Kan, bisa survei aja, foto-foto, ntar bikin cerpennya di rumah,” celotehnya. Sedotan ungu itu terlepas dari bibirnya.

“Kan, biar dapet feel-nya.”

“Tapi, kan lumayan juga kalo laptop lo jatoh. Mana dibuka begitu. Tutup, taroh tas!”

Masa bodoh! Dia berisik! Suka-suka aku mau bawa laptop dengan cara apa. Kepalaku pening karena ocehannya, ditambah lagi ide yang belum aku temukan. Keyakinanku menurun, sepertinya memang cerpenku tidak akan bisa dikumpulkan besok. Aku sudah siap dengan segala risikonya. Tapi, sebelum itu semua terjadi, aku akan tetap berusaha.

Langkahku melintasi bak pasir besar yang penuh anak-anak. Melihat mereka tertawa gembira, iriku timbul. Bahagia mereka sesederhana bermain pasir basah gratisan. Sementara aku? Mungkin bahagiaku datang saat aku sudah berhasil menyelesaikan cerpen. Ah ide, bersembunyi di mana kamu? Atau kamu takut akan sosoknya yang terus mengganggu dan menganggapmu remeh?

Kakiku berpijak di lantai lima, lantai tertinggi menara pandang Alun-Alun Depok. Dalam bayanganku, aku bisa melihat keseluruhan kota Depok dari tempat ini. Lalu, kenyataan itu hadir di depan mata. Sejauh aku memandang ke arah barat dan selatan, hanya komplek perumahan yang terlihat. Sedangkan di timur, ada rumpun bambu yang menutupi pemandangan. Tempat ini memang lebih rendah dibanding sekitarnya. Wajar saja pemandangannya jauh dari keren.

Dia di sini, di belakangku, membuat kudukku meremang. Harapanku, dia akan menungguku di bawah, tidak usah ikut ke lantai lima. Pengalamanku dengannya di lantai tinggi begini sangat buruk. Terlebih, saat aku memandang ke bawah, dan tubuhku hanya terhalang pagar dengan udara bebas.

Auranya menggelap, seperti yang sudah-sudah. Aku tahu dia akan mendominasiku, memaksa pikiranku sejalan dengannya. Aku benar-benar ingin mengabaikan. Kekesalanku padanya masih tinggi akibat dia mengusik semua ide yang muncul. Setengah siangku berada di tempat ini dan dia mengusiknya. Aku harap dia menjauh, aku ingin berpikir dengan tenang.

Seluruh sisi pagar penuh orang yang mengabadikan diri mereka dengan latar belakang langit yang mulai berwarna tembaga dengan mentari bulat yang sesekali muncul. Setiap ada satu tempat kosong, orang lain akan segera mengisinya dan memasang pose-pose keren. Sepasang alay di dekatku menggumam kesal. Mereka mengantre tempatku, dan aku tidak kunjung berfoto. Aku berjanji dalam hati, setelah ide itu aku temukan, aku akan menyingkir. Sangat tidak nyaman berada di dekat pagar pembatas seperti ini.

Namun, pikiranku kosong. Secuil ide pun tidak terlintas. Berkali-kali aku mengedarkan pandangan, melihat orang-orang yang ramai di lantai bawah, melihat anjungan kayu di atas kali yang kering, juga pedagang yang berkerumun di dekat parkiran. Bukan mereka yang tidak menarik, hanya saja ide yang aku tunggu belum datang.

“Nggak dapet ide?” tanyanya.

Aku diam. Mustahil dia mau membantuku mencari ide. Kelakuannya seharian tadi tidak mencerminkan niatnya untuk membantu. Mengabaikannya dan fokus pada hal-hal yang mungkin bisa menjadi cerpen adalah pilihan terbaik saat ini.

“Susah kan, nyari ide? Lo emang beda sama temen-temen lo. Mereka gampang-gampang aja, tapi lo susah banget. Artinya apa?”

Masa bodoh! Silakan ngoceh sendiri. Aku mau lihat mentari tenggelam saja.

“Lo masih yakin berbakat jadi penulis?”

Aku menoleh, terusik dengan ucapannya. “Kalau iya, kenapa? Toh, selama ini gue usaha, gue latihan. Kalaupun gue nggak berbakat, gue yakin akan berhasil.”

Really? Buat cerpen sesimpel ini aja lo nggak bisa.” Dia melipat lengannya di dada.

“Gue bisa! Lo yang resek, ngerusuhin ide gue melulu.”

“Nggak, lo nggak bisa! Buktinya, lo nggak bisa pertahanin ide lo.”

Aku mendengus kesal, meski membenarkan perkataannya. “Bisa nggak, lo nggak berisik?”

“Gue cuma bahas realita, Ra!”

Aku membelakanginya, kembali menatap langit yang semakin tembaga dan orang-orang yang lalu lalang di dekat parkiran. Keluarga-keluarga muda dengan balita sudah beranjak pulang, bergantikan dengan pasangan yang asyik bergandengan memasuki kawasan alun-alun. Napasku terhembus berat. Kesalku segunung. Namun, tekadku masih bulat: aku harus menemukan ide sebelum kembali ke rumah.

“Akhirnya, lo mau juga ngelaksanain saran gue.”

“Saran?” tanyaku tanpa mengalihkan tatapan padanya.

“Lompat.”

“Nggak akan gue laksanain saran itu. Lo gila!”

“Lo yang gila! Gila karena impian lo ketinggian.”

“Impian gue realistis! Lo yang ngusik gue dari tadi.”

Aku mendengar tawa setannya. “Realistis dari mana? Lo nggak pernah ngukur kemampuan. Begini aja lo nggak bisa. Terus, lo mau apa? Cita-cita lo apa? Nggak ada, kan? Lompat aja. Lo bisa terkenal.”

“Gue nggak serendah itu, ya.”

“Nyatanya iya. Lo lupa kalo lo a–”

“DIAM!!!”

Pasangan alay di dekatku mengerut ketakutan, lalu perlahan menjauh. Napasku terengah akibat emosi yang seketia meluap. Aku merunduk, secepat mungkin melarikan diri dari lantai ini. Aku tahu, semua mata mengarah padaku. Bisikan-bisikan mereka sempat singgah, menggambarkan dugaan mereka tentangku, mungkin juga tentang pasangan alay yang sejak tadi menggumam kesal di dekatku. Bukan pasangan itu yang membuatku marah. Sama sekali bukan. Tapi, itulah yang mereka lihat.

Di anjungan kayu, langkahku terhenti. Tubuhku menggelosor, bersandar pada pagar kecil pembatas anjungan dengan kali kering yang dalamnya tidak lebih dari setengah meter. Laptop di perutku naik turun, seiring napasku yang masih terengah. Tangan kiriku menggenggam sedotan ungu yang sudah tidak berbentuk karena terus aku gigit. Sekali lagi aku menarik napas dalam, melempar sedotan itu sejauh yang aku bisa.

Aku mengambil tumbler dari dalam tas dan juga kotak makanan. Seteguk choco bubble tea  yang sudah tidak dingin menyegarkan tenggorokanku. Laparku muncul, tepat saat aku melihat roti lapis selai strawberry dalam kotak makan. Aku baru mengunyahnya segigit saat sudut mataku menangkap sosok yang bersungut, di tiang anjungan yang berbeda dariku.

Senyumku merekah. Lekas aku mengusapkan jemariku di laptop agar layarnya kembali menyala. Melihatnya, ideku muncul seketika. Aku akan menceritakannya: sesosok elter gila yang tersudut karena berhasil aku kalahkan. Yah, meskipun aku harus mendapat tatapan terkejut dari semua pengunjung lantai lima menara pandang.

Aku tahu, kemenangan ini sementara. Dia tetap ada dan akan menguasaiku lagi, sesukanya. Tapi, untuk saat ini, biarkan aku merayakannya dulu.


Photo by Martino Pietropoli on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *