Cerpen Lisvy Nael: Tak Ada Jalan Kembali

+2

Ceplak! Tamparan sandal oleh Bu Barkah tepat mengenai wajahku. Aku pun ditendangnya ke luar rumah. Dia tampak sangat marah. Bahkan wajahnya terlihat sangat merah. Apalagi matanya melotot seperti mau copot. Aku tidak mengada-ngada, Bu Barkah memang terlihat seperti itu saat mengusirku ke luar. Dia amat sangat muntab dan muak denganku.

Jadi, dalam beberapa hari, tingkahku menyebalkan bagi Bu Barkah dan keluarganya. Sepanjang siang, aku hanya tidur dan tidak melakukan apa-apapun. Tetapi saat malam, aku terjaga. Meresahkan semuanya yang sudah terlelap setelah bekerja seharian. Bu Barkah dan Irawati masak dan mengurus warung. Sementara Pak Barkah memiliki jadwal menjaga rumah pejabat di kawasan Widyachandra pun berubah-ubah. Sekalinya jaga siang, pasti malamnya sangat dimanfaatkan untuk istirahat. Hana, adik Irawati, kalau tidak mengerjakan tugas kuliah, dia pun memilih untuk tenang di dalam kamarnya. Sehingga kehadiranku bersama teman-teman saat malam, pasti sangat menjengkelkan bagi mereka yang ingin istirahat.

“Ya ampun berantakan sekali. Ini paling kerjaan Si Coro,” teriak Bu Barkah memandang perbuatanku.

Oh ya, aku memang tak punya ikatan darah dengan keluarga Barkah. Tapi sejak tahun lalu, aku masuk ke dalam keluarga mereka. Bukan sebagai siapa-siapa, hanya menumpang kepada keluarga yang baik budiman. Aku bahkan diberikan makan terbaik dan tempat yang nyaman. Karena 75 persen aktivitasku hanya bermalas-malasan dan tak membantu sama sekali keluarga Barkah, kurasa itu yang membuat mereka tambah geram. Hingga peristiwa malam itu terjadi. Melayangnya sandal Bu Barkah ke kepalaku dan aku terusir padahal saat itu hujan sedang turun.

“Biar kau mati kehujanan sana!” rutuk Bu Barkah seraya mengancungkan sandal yang baru dia daratkan pada kepalaku. Tangan kirinnya berkacak pinggang. Hana hanya mengintip dari pintu kamar saat huru hara terjadi.

Aku mencicit meminta ampun. “Maafkanlah saya Bu.”

Meski aku yakin suaraku tak sampai keluar karena ketakutanku lebih kuat terlepas ketimbang gelombang yang mampu pita suaraku buat.

“Enak sekali, tak pernah bekerja hanya menerima hasil jerih payah orang, lanjutnya, Dan sekarang justru merusak dagangan paling mahal.” Kepala Bu Barkah menghadap ke atas dan kedua tangan ditangkupkannya ke wajah. Sandal wedges-nya ikut menutupi wajah meski tidak langsung karena terhalang tangan.

Mungkin orang kira ini hanya perkara sepele. Tapi sandal dengan wedges kayu yang benar-benar tebal itu hampir membuat putus kepalaku. Pusingnya minta ampun. Aku tidak beranjak dari rumah itu, bersikukuh tetap di teras sampai Bu Barkah atau anggota keluarga lain timbul iba dan akhirnya mengajakku masuk. Nyatanya, harapanku hanya tinggal angan dan tak pernah terjadi.

Selama tiga hari secara sadar dan menderita, aku diam di teras. Diabaikan sama sekali meski Irawati maupun Hana, yang paling sering lewat teras depan sementara Pak Barkah dan Bu Barkah lebih nyaman dengan pintu samping, terkadang melemparkan pandang ke arahku. Tetapi tak pernah sebatas itu. Pada akhirnya, aku harus berbahagia tidak diusirnya dari teras. Tetangga? Mereka tidak ada yang lewat.

Pernah suatu sore kawanku berkunjung tapi tak membantu sama sekali.

“Maaf, aku turut prihatin dan berduka cita atas apa yang menimpamu,” ucapnya lirih.

Dan aku tak ingin sama sekali ada siapa pun datang melihat keadaanku yang terlampau menyedihkan.

Pada malam pengusiran itu, hujan yang deras semalaman membuat tubuhku basah terciprat tampias dari genting teras. Aku menggigil kedinginan dan sedikit demam. Tak ada selimut apalagi makanan, aku kira aku masih akan kuat tanpa minum selama aku membuka mulut untuk menadah air hujan.

“Sudahlah, kamu pergi saja sebelum Bu Barkah melihatmu dan meremukkanmu juga.” Nasihatku sangat lirih terucap, hampir seperti bisik-bisik. Tetapi aku tulus mengatakannya. Aku tak ingin ada yang terluka lagi karena hubunganku dan tentu saja karena keluarga Barkah. Hingga detik itu, kekaguman dan kecintaan pada keluarga pekerja keras itu pun menguap.

Tanpa air hujan yang membuat perutku kembung, aku sudah kentut puluhan kali dalam sehari. Masih malam itu, air hujan dan angin yang bersekongkol membuat malam semakin menggigil dan akibatnya perutku semakin kembung. Hasilnya? Tak lagi puluhan kali aku menguarkan gas tak sedap. Kalau sudi, mungkin peneliti di tingkat dunia akan mengataiku tamak dan tak tahu diri karena dalam situasi genting pun, aku tetap mengeluarkan gas. Satu lagi yang paling kubenci, aku dituduh sebagai salah satu penyebab pemanasan global karena masalah kentut yang tak terkendalikan dan tak terhitung jumlahnya.

Jauh sekali dari kata romantis, di mana langit tampak penuh bintang-bintang bercahaya. Hanya aku yang tergeletak terlentang tak berdaya. Bahkan kurasai satu dua semut membuat percakapan hendak memanggil teman-temannya mengangkutku.

Saat pagi, lantai menjadi sedikit berembun karena hujan semalaman. Dan tubuhku pun kuyup. Aku terus berupaya mengais angkasa, berharap dapat membalikan badan untuk sekadar merangkak mencari tempat lebih baik. Nyatanya aku tak kuasa.

Sementara sejak Subuh suara dapur di sebelah yang juga menempel warung makan terdengar sangat ramai. Terdengar spatula dan wajan beradu menyatukan bumbu dan sayur mayur. Ada suara air di tuang ke dalam termos. Tak kalah nyaring suara Bu Barkah memberikan intruksi pada Irawati yang memang sehari-hari membantunya di dapur, dan Hana yang seringkali terpaksa berada di sana pagi-pagi buta.

“Nasinya lima menit lagi diangkat ya Han, pindahkan ke magic jar,” perintah Bu Barkah pada Hana.

Yang punya nama hanya menyahut sekadarnya dengan ya saja.

“Nanti masukin jengkolnya setelah bumbunya matang ya, Ra.” Kali ini Bu Barkah menoleh ke samping kirinya, tempat Irawati berdiri. “Jangan lupa garam dan gula arennya.”

Kepalaku pun dipenuhi bayangan makanan enak. Padahal aku tahu tak ada harapan untuk menyicip apalagi menyantap. Dapat menyium aromanya saja sudah kenikmatan tersendiri. Di saat seperti ini, aku baru bisa berandai, andai aku dapat membantu keluarga Barkah, mungkin aku tidak akan terusir dan dibiarkan begini saja.

Saat matahari mulai merangkak naik, sedikit hangat badan dibuatnya. Ah, ini sih nikmat. Tubuhku pun mulai kering dan terasa lebih ringan. Rasa pegal dan puyeng perlahan pergi. Tapi aku masih lemas tak berdaya. Masih tak bisa membalikkan badan untuk mencoba merangkak atau mengesot. Kaki tanganku tak dapat menggapai pegangan apa pun. Menyulitkanku untuk membalikkan badan.

Keinginan untuk melakukannya semakin kuat tatkala matahari di atas ubun-ubun. Aku memang tidak secara langsung terpapar sinarnya, tetapi suhu meningkat dan rasanya sebentar lagi aku akan jadi keripik karena matahari terlalu terik. Dan kesusahan ini terulang dalam tiga hari. Melelahkan. Aku yakin di hari ke empat atau paling telat hari ke tujuh, aku takkan bertahan.

Sebenarnya sebab aku diusir cukup sepele.

Malam itu, dengan mata terbelalak, Bu Barkah mendapatiku bersama teman-teman diam-diam berpesta menyantap rendang di atas satu kuali besar untuk dagangan warungnya. Seketika, Bu Barkah naik pitam. Dia muntab dan segera melayangkan sandal wedges kebanggaannya sekena-kenanya. Tak peduli jika panci dan piringnya jatuh kena hantam sandal sendiri. Nahasnya, wedges itu mengenaiku. Aku tak selamat. Sementara teman-teman berhasil tancap gas melarikan diri.

Setelah seharian terpanggang matahari, malam ini suhu ternyata turun. Rasanya dingin sekali. Perutku kembung dan aku semakin sering buang gas. Yang paling parah, aku merasa sudah dekat ajal di sini. Tungkai kaki-kaki dan tangan-tanganku semakin lemah. Mulutku bahkan terkunci, tak lagi dapat berteriak meminta tolong. Berbisik pun sudah tak mungkin.

Benar saja, setelah semalaman tak dapat memejamkan mata barang sejenak. Tanda-tanda aku mendekati ajal semakin kentara. dua ekor semut merah kecil datang bersamaan. Jangan dikira mereka sedang berjabat tangan saling sapa. Mereka bersepakat menggotongku. Dengan memanggil teman-teman prajurit semut tentunya.

Tak sampai satu menit, rombongan semut itu berdatangan. Membentuk barisan rapi seperti sebuah garis lurus yang bergerak. Perlahan, kurasai tubuhku geli. Seperti seekor semut yang berjalan di atas kulit. Bukan lagi seperti, memang semut-semut tak berbelas kasih itu berjingkat-jingkat di tubuhku tanpa malu. Tuhan, inikah waktunya? Kusempatkan berdoa sebelum nyawaku benar-benar dibawa paksa para semut.

Ah, sial. Semut-semut ini perkasa sekali untuk menggotongku bergeser. Tubuhku terasa ringan dan mengambang. Kawanan semut itu menggotongku dengan semangat. Sambil meneriakkan yel-yel kerajaan mereka. Mereka sungguh bersemangat dan gila. Dengan tubuh sekecil itu mampu membopong kecoa berumur 25 hari dengan mudah.

Semut-semut brengsek. Mereka tak hanya menyentuhku dari luar tetapi kini merasuki jantungku lewat mulut. Paru-paruku menyempit. Semut-semut ini mengokupasi tubuhku. Otakku. Tuhan, kurasa sebelum satu menit berhargaku lenyap, aku mohon tempatkan aku di surga setelah ini. Jangan lagi di tempat kotor dan dibenci, aku berdoa setulus mungkin. Siapa tahu Tuhan akan menjawab.

Sirampog, 27 Mei 2019

#SeriCoro
#TakAdaJalanKembali

Photo by Matt Duncan on Unsplash

+2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *