Apa yang Sebenarnya Kita Risaukan dari Kematian?

1+

Oleh: Lufti Avianto

Saya tahu, belakangan, kita semua lebih kerap berduka. Wabah Covid-19 seolah menjadi penyebab kematian orang-orang tercinta. Entah kerabat, sahabat bahkan anggota keluarga kita.

Tapi, apakah kalau tidak ada wabah ini, mereka akan tetap hidup? Dengan pemahaman bahwa kematian adalah takdir yang takkan diundur barang sedetik pun, kita pada akhirnya paham, bahwa Covid-19, hanyalah ‘jalan’ menuju takdir lain yang telah Dia gariskan jauh sebelum kita dilahirkan.

Jumat pagi ini, salah satu sahabat dan mantan rekan kerja berpulang akibat Covid-19. Kabarnya, ia yang bertugas di Sumatra, harus pulang ke Ibukota untuk mengurus keluarganya yang didera Covid-19. Ia justru kemudian yang tertular, lalu mengalami perburukan, dan harus pergi lebih dulu.

Saya pribadi berteman di dunia nyata dan Facebook dengan almarhum. Saya kenal beliau sebagai orang yang tak hanya cerdas, tapi juga berintegritas. Karena itu, kontribusinya nyata dalam tugas-tugas negara. Saya kagum dengan beliau, dan menyimpan iri seandainya peran saya sama penting dengannya, tentu bisa menyumbangkan kebaikan buat bangsa ini.

Jumat pagi itu, grup WA kantor gempar dengan kabar kepergiannya. Seperti biasa, kalau ada kabar duka di grup WA, hampir semua anggota grup akan menyatakan duka, dan berucap doa. Tapi saya diam, merinding dan tak mampu menulis apa-apa selain hanya berdoa dalam hati semoga beliau dirahmati.

Kemudian, hati saya tergelitik dan kekuatan saya terkumpul untuk menulis hal ini, ketika salah seorang di grup berkomentar dengan kalimat sejenis ini, “Kasihan anak-anaknya ya…”

Saya bertanya-tanya dalam hati, siapa yang seharusnya kita kasihani dengan datangnya kabar kematian?

Lalu, memori saya berputar mundur 29 tahun lalu, ketika telepon yang baru dipasang beberapa pekan, berdering, mengabarkan kematian bapak. Kabar di sore itu, telah menasbihkan saya sebagai anak yatim di usia 8 tahun. Bapak pergi di usia yang masih relatif muda, 39 tahun, sama seperti rekan kerja itu. Mungkin, usia saya saat itu, sama dengan salah satu anak almarhum rekan itu. Saya bisa merasakan keharuan itu menjalar.

Sebagai anak yatim yang berpengalaman sejak usia 8 tahun, saya tahu betul rasanya kehilangan. Saya tahu tiap lekuk pedih dan perihnya. Sungguh, bahkan saya masih ingat ketika bapak yang paling saya segani dan sayangi itu, membeku di sudut ruang jenazah di RSCM.

“Kasihan ya anak-anaknya…” kalimat itu kembali terngiang dan menyadarkan saya.

Saya tahu arah kalimat ini akan bermuara ke mana.

Kasihan, istrinya menjadi janda, dan anak-anaknya menjadi yatim sejak masih kecil. Empat anak serta ibu saya, telah merasakan itu. Status janda dan yatim, memang tidak enak. Apalagi bagi ibu saya yang tak menikah lagi. Berat, tapi Allah Swt. telah kuatkan kami.

Nanti hidupnya gimana ya? Alhamdulillah, Allah masih beri kami rezeki, sejak bapak pergi dan sampai hari ini. Kami bisa makan, dan tak kurang gizi. Kami bisa sekolah, meski tak semua merasakan bangku kuliah. Bahkan yang saya syukuri, saya bisa kuliah master di kampus terbaik di negeri ini.

“Kasihan ya anak-anaknya…”

Saya tahu arah kalimat ini akan bermuara ke mana. Kecemasan atas nasib duniawi keluarga yang ditinggalkan.

Apa itu salah? Tentu tidak. Tapi pernahkah kita merenung dan belajar dari kematian, entah sebagai keluarga yang ditinggalkan, atau kita berandai-andai menjadi si mayit.

Siapa yang patut kita kasihani?

Keluarga yang ditinggalkan, seperti halnya saya, tiga saudara dan ibu saya -menurut saya saat itu- tak perlu dikasihani. Sebab Allah telah menjami rezeki setiap makhluk-Nya yang masih hidup.

Apa yang lebih penting kita risaukan?

Bukan soal nasib dunia, tapi apakah nasib masing-masing kita akan selamat saat hisab-Nya kelak?

Bagi saya, itulah kerisauan hakiki yang perlu terus terngiang ketika kabar kematian datang. Dari kematian kita belajar meyakini bahwa hidup hanya sesaat. Dari kematian kita tahu, bahwa ia akan memutus nafsu akan duniawi. Dari si mayit, kita belajar kebaikan-kebaikannya, dan memaafkan segala kihlaf salahnya. Dan dengan kabar kematian, kita berupaya memperbaiki diri untuk menjadi hamba yang lebih baik lagi. Apa sudah kita taubat? Apa masih terus suka maksiat? Padahal usia sudah menjelang kepala empat.

Jadi, apa yang sebetulnya kita tangisi dari kematian?


*) Renungan random di hari Jumat

Photo by Alessio Lin on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *