Cerpen Mardiyanto: Mutiara Lereng Gunung

1+

Wida adalah seorang perempuan desa di lereng Gunung Slamet yang cantik, lincah dan cerdas. Sejak kecil sudah tampak kemampuan yang dimilikinya. Di kelas 5 sudah meraih juara penghafal UUD 45 tingkat kecamatan. Dia juga seorang anak yang aktif di kegiatan pramuka. Di bidang seni dia pandai menyanyi dan juga seorang penari yang selalu tampil di panggung 17 Agustus di desanya.

Aktivitas Pramukanya berlanjut di SMP bahkan ketika duduk di bangku SMEA. Semua guru di sekolah mengenalnya. Hampir semua orang mengenalnya sebagai anak yang ceria, energik dan cerdas. Itulah sosok Wida yang cantik,lincah dan ceria.

Di sisi lain, kehidupanya sangatlah rumit. Dia anak pertama dengan satu adik laki-laki dari pasangan muda. Ibunya menikah pada usia 12 tahun seperti layaknya wanita di desanya. Dia lahir ketika ibunya berusia 13 tahun. Orang tuanya sudah bercerai sejak mereka masih kecil. Setelah menjanda ibunya bekerja di Jakarta. Wida dan adiknya dititipkan pada neneknya.

Ketika ibunya menikah lagi, Wida dan adiknya kembali tinggal bersama ibunya. Bapaknyapun kemudian menikah lagi dengan wanita lain. Saat masih SD aktivitasnya sepulang sekolah adalah menjual gorengan keliling kampung. Pada hari minggu atau hari libur dia biasa mencuci pakaian di kali di pinggir desanya. Dia menjalani hidupnya dengan tetap ceria terutama ketika bersama teman-temanya.

Sebenarnya Wida bukan dari keluarga yang miskin atau sengsara. Neneknya seorang petani yang memiliki sawah, kebun cengkih dan teh yang luas cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan setiap kali selesai panen, Wida pasti diajak neneknya ke pasar. Sepulang dari pasar maka lengkaplah perhiasan dari gelang, kalung, cincin, anting. Satu demi satu perhiasan itu berkurang dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada saat panen neneknya akan membelikan lagi perhiasan lagi dan begitulah seterusnya ibarat mata rantai yang tak terputus.

Wida menjalani hidup layaknya anak perempuan desa lainya. Yang membedakan Wida dengan lainya adalah dia tetap bersekolah sampai tingkat SMEA pada waktu itu. Anak perempuan di desanya kebanyakan hanya lulus SD, ada juga sampai SMP. Jenjang sekolah sampai SMEA itulah yang membuka cakrawala berpikirnya yang lebih luas. Aktivitas Pramuka semakin mantap ketika berada di SMEA. Bahkan di kelas 2 dia terpilih menjadi ketua OSIS. Saat menjadi ketua OSIS mempertemukannya dengan Ardi, seorang mahasiswa UNSOED yang saat itu mengisi meteri pembekalan. Pertemuan berlangsung biasa saja sperti tidak ada apa-apa.

Setelah lulus SMEA, Wida sempat bekerja menjadi kasir Rumah Makan di Jakarta. Hanya beberapa bulan bekerja dia terkena penyakit alergi yang membuat badanya gatal-gatal. Akhirnya Wida pulang kembali ke desanya. Sejak pulang dari merantau Wida memutuskan berhijab dan kembali beraktivitas di Karang Taruna.

Dalam aktivitas Karang Tarunanya Wida bertemu kembali dengan Ardi yang dulu ketika masih mahasiswa pernah mengisi kegiatan di SMEA. Ardi menjalin kerja sama dengan Karang Taruna dalam kegiatan agrobisnis yaitu penanaman tomat. Dari kerja sama itu hubungan Wida dengan Ardi semakin erat.

Wida adalah bunga desa yang sedang mekar menjadi incaran pemuda. Ini merupakan tantangan bagi Ardi yang juga sudah mulai menaruh hati padanya. Malam Minggu selesai sholat Isya Ardi sengaja berkunjung ke rumah Wida. Jarak kerumah Wida sekitar 15 km memerlukan waktu 15 menit menggunakan sepeda motornya. Ketika sampai ada sebuah mobil putih parkir di depan rumah Wida. Pintu depan terbuka dan ada seorang pemuda sedang bertamu.

Ardi mengurungkan niatnya dan berbalik pulang dengan hati yang panas di bakar api cemburu. Malam Minggu berikutnya setelah kejadian itu Ardi berkunjung kembali ke rumah Wida. Kali ini seelesai sholat Maghrib Ardi sudah meluncur dengan harapan akan sampai lebih dulu dibanding lelaki yang lain. Rencana sudah disusun matang tapi apa daya ketika sampai di sana kejadian malam Minggu kemarin terulang lagi. Mobil putih itu sudah terparkir di depan rumahnya dan lelaki pemilik mobil itu sedang bertamu di dalam.

Ardi berbalik dan pulang dengan hati yang semakin panas. “Laki-laki itu datang jam berapa sih kok sudah nongkrong di sana, padahal aku sudah berusaha lebih gasik,” gumam Ardi dalam hati. Besoknya Ardi datang ke rumah Wida waktu sore jam 4 dengan alasan mau melihat tanaman tomatnya. Wida menyambut ardi dengan hangat dan mereka ngobrol akrab.

“Bagaimana perkembangan tanaman tomat kita apakah sudah tumbuh ?” tanya Ardi

“Alhamdulillah sepertinya perkembang tanaman kita cukup bagus,” jawab Wida.

“Bisa kita melihat ke lokasi sekarang ?” pinta Ardi.

“Oh tentu bisa, mari kita ke sana. Kebetulan saat ini teman-teman sedang memasang lanjaran,” jawab Wida.

“Apa itu lanjaran ?” tanya Ardi.

“Lanjaran itu tiang bambu penyangga yang ditanam disamping pohon tomat untuk menopang agar pohon tomat tidak roboh saat tumbuh tinggi dan berbuah lebat,” wida menjelaskan sambil berjalan bersama menuju kebun.

Ardi dan Wida berjalan ke lokasi kebun tomat yang berjarak hanya sekitar lima menit. Sesuai rencana yang sudah disusun Ardi mereka akan berjalan berdua sehingga tetangga sekitar melihat. Sudah menjadi tradisi yang baik di desa ketika bertemu pasti saling menyapa maka kamipun sepanjang perjalanan ke kebun beberapa kali bertemu penduduk mesti saling menyapa.

“Mau ke kebun mba Wida? Ini siapa ? Calonnya yah? “ pertanyaan senada banyak sekali muncul sehingga membuat pipi Wida bersemu merah.
Sambil berjalan santai Ardi dan Wida ngobrol akrab dan sesekali bercanda sehingga terlihat sangat mesra layaknya orang yang sedang berpacaran. Perjalanan menuju kebun tomat tidak terlalu jauh tapi menyenangkan. Keluar dari rumah adalah jalan aspal, kami menyeberang dan belok ke kanan melalui pinggiran selokan kecil sampai sebuah sungai irigasi. Kami menyeberangi jembatan kecil tanpa pengaman yang terbuat dari besi rel kereta api di sisi kanan kirinya dan bagian tengah disemen lebarnya paling 60 cm di seberang sungai sudah mulai tampak perkebunan sayuran karena musim kemarau kebanyakan petani tidak menanam padi tapi diganti sayur.

“Yang mana kebun tomat kita?” tanya Ardi.

“Kita belok kiri berjalan sebentar lagi,” jawab Wida singkat.

Cuaca cerah sehingga pemandangan sangatlah indah. Kami menyusuri tepi sungai irigasi sampai akhirnya pada belokan sungai dekat pintu air pembagi selokan di situlah kebun yang sedang kami garap.

Kebun tomat kami berlokasi di pinggir sungai irigasi. Tanahnya kami sewa dari orang tua anggota karangtaruna, aku menyediakan modalnya dan karangtaruna sebagai pelaksana. Terlihat beberapa remaja memasang lanjaran dan ada yang menyirami tanaman. Kami berdua mengitari kebun mengecek tanaman. Kami cukup lama berada dikebun dan ngobrol-ngobrol dengan anggota karang taruna sampai tanpa disadari waktu sudah sore.

“ Sepertinya hari sudah sore kita kembali ke rumah dulu,” ajaku.

“Oke.”

Kami kembali menyusuri pinggiran sungai, kemudian menyeberangi jembatan kecil tanpa pembatas. Jalan berupa tanah keras dan batu berlumut agak menanjak sehingga kami harus berjalan pelan dan berhati-hati. Jalan ini menjadi berlumut karena tidak terkena sinar matahari. Di kanan-kirinya pohon kelapa dan pohon kayu yang rimbun.

Sampailah kami di mulut jalan setapak yang merupakan jalan aspal desa. Bertepatan munculnya kami dari mulut jalan setapak sebuah mobil Carry putih lewat dan berhenti di depan kami. Ternyata pemilik mobil Carry putih yang beberapa kali sempat parkir di depan rumah adalah pemuda satu desa dengan Ardi dan sudah saling mengenal walaupun tidak begitu dekat. Kami sama-sama terkejut namun dengan segera bisa menguasai keadaan.
“Gasik mas, dari mana nih,” tanya Andi si pemilik Carry.

“Iya nih habis nengok kebun tomat,” jawab Ardi sambil tersenyum ramah.

“Mau ke mana ?” lanjut Ardi.

“Biasa urusan bisnis tuh sama Pak Carli rumah sebelah, aku duluan yah,” pungkas Andi sambil menjalankan mobilnya.

“Mas Ardi kenal sama mas Andi?” tanya Wida.

“Masih satu desa ya tahu cuma ngga kenal banget. Kelihatanya dia sering kemari, jangan-jangan calonnya kamu,” kataku menyelidik.

“Loh Mas Ardi kok tahu dia sering ke sini,” Wida balik tanya.

“Beberapa kali aku lewat sini mobil itu terparkir di depan rumah kamu.”

“Mas Ardi lewat sini dari mana kok ngga mampir ?” tanya Wida polos.

“Ah… cuma kebetulan lewat saja lagian sudah malam dan di rumahmu ada tamu pakai mobil itu.” jawabku diplomatis.

“Dia ada hubungan dagang dengan bapakku, dia itu penakutnya minta ampun. Kalau datang jam-jam segini nanti kalau malam mau pulang ngga berani sendiri dan ngajak anak-anak sini ikut ke rumahnya.” Wida menjelaskan.

“ Oh pantesan..” Ardi bergumam.

“Pantesan gimana maksudnya Mas?” tanya Wida lagi.

“Ah engga, cuma barangkali ada mau juga sama kamu.” kataku.

“Ngga tahu juga urusan dagang sama bapakku aku ngga mau tahu., jawabnya. Tanpa disadari kami sudah sampai depan rumah Wida.

“Mas tunggu dulu di pintu depan, aku buka dari dalam,” kata Wida sambil terus berjalan ke samping rumah masuk lewat pintu samping.

Sambil menunggu aku duduk di teras depan rumah yang asri menghadap ke jalan. Ternyata tempat yang enak buat tongkrongan. Sambil duduk di teras yang letaknya cukup tinggi sekitar satu meter di atas jalan aspal dan halamanya ditumbuhi rumput jepang. Ada pohon Palm Merah yang sudah cukup tinggi kalau di kota harganya sudah mahal. Di sudut halaman dekat jalan ada pohon rambutan dan jeruk bali yang sedang berbuah.

“ayo masuk dulu Mas,” Wida membuka pintu dan menyilahkan Ardi masuk.

“ Di sini saja, asyik sekali tempatnya,” jawab Ardi.

Ardi sengaja duduk di depan rumah agar orang tahu Wida sudah punya teman laki-laki. Ardi juga melihat mobil Carry putih terparkir tidak jauh dari rumah Wida. Tampak Andi si pemilik Carry putih melihat mereka dari kejauhan dengan perasaan yang kurang suka. Setelah hari cukup sore Ardi segera pamit pulang.

“Aku pulang dulu yah, terima kasih sudah mengantarku melihat kebun tomat. Aku yakin panen kita akan bagus. Jangan bosan yah kalau aku sering ke sini,” kata Ardi.

“ Ngga kebalik, jangan-jangan Mas Ardi nyesel main ke sini ngabisin waktu,” tukas Wida.

“Boleh ngga kalau malam aku main ke sini?” tanya Ardi.

“Boleh sih cuma masa malem-malem mau lihat kebun tomat?” Wida heran.

“Apa kalau main ke sini harus ke kebun tomat? Kan aku juga pengin tahu siapa yang main ke sini kalau malam, terutama kalau malam Minggu,” ledek Ardi membuat pipi Wida bersemu merah. Ardi tersenyum senang melihat Wida yang tersipu malu dan langsung menstarter motornya meninggalkan rumah Wida.


Sabtu sore Ardi sudah mandi dan berdandan dengan penampilan sebaik mungkin. Selesai sholat Maghrib Ardi menstater motornya dan melaju dengan tenang menuju rumah Wida. Ardi memarkir motornya di samping rumah, dan Wida sudah keluar membuka pintu seperti sudah hapal suara motornya. Kami duduk di ruang tamu dan ngobrol santai. Saat kami asyik ngobrol tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.

“Assalaamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salaam,” jawab Ardi dan Wida bersamaan.

Wida membuka pintu dan menyilahkan tamunya masuk, sementara aku tetap duduk membelakangi pintu.

“Silakan duduk Mas Ozi, oh ya kenalkan ini Mas Ardi,” Wida mengenalkan.

Ketika Ardi menengok agak terkejut juga karena yang datang adalah Ozi anggota perkumpulan TPQ yang dipimpinnya.

“Eh Mas Ardi sudah lama? jauh sekali mainnya,” sapa Ozi dan kami berjabat tangan.

“Ternyata kamu Ozi yah lumayan lama, sekitar 30 menitan,” jawab Ardi santai.

“Aku mau mengembalikan buku yang kemarin kupinjam,” Ozi langsung menyerahkan buku pada Wida. Ardi bisa membaca modus lama mendekati cewek dengan meminjam buku. Bagi Ardi itu sudah terlalu kuno dan dia malas menggunakan model itu. Ardi membiarkan Ozi ngobrol sebentar dengan Wida dan akhirnya Ozi segera pamitan pulang.

“Aku pulang dulu Mas Ardi silakan dilanjutkan,” kami berjabatan tangan. Ardi dan Wida mengantarkan kepergian Ozi sampai ke tepi jalan. Ternyata Ozi membawa sebuah mobil Carry open cup.

“Mas Ardi kenal sama mas Ozi di mana ?” tanya Wida.

“Bareng-bareng aktivis TPQ ,” jawab Ardi santai.

Ardi dan Wida melanjutkan obrolan sampai jam 21.00 WIB lalu Ardi berpamitan untuk pulang. Satu demi satu pesaing mulai tersingkir. Ardi bertekad membentengi Wida agar tidak ada laki-laki lain yang mendekati selain dia sendiri. Dia ingin tahu siapa lagi yang sedang mengadakan pendekatan. Wanita seperti Wida tidak boleh hanya menjadi wanita biasa seperti wanita desa lainya. Jika dia diarahkan dengan benar maka akan menjadi wanita yang luar biasa. Dia adalah mutiara lereng Gunung Slamet yang masih original menunggu sentuhan seniman agar auranya bersinar terang.


Bulan Agustus menjadi bulan yang cukup sibuk bagi seluruh bangsa Indonesia tak terkecuali Wida. Selain menjadi panitia lomba desa, mempersiapkan malam resepsi, dia juga melatih anak-anak menari dan bermain drama untuk mengisi acara hiburan. Ardi selalu datang dan menemani Wida melakukan aktivitasnya. Ardi dengan sabar menunggui sampai malam dan semakin banyak mengenal dan di kenal masyarakat sekitar. Hampir semua orang menganggap Ardi adalah calonnya Wida sehingga tidak ada lagi laki-laki yang berusaha mendekatinya.

Kerja sama agrobisnis yang mereka lakukan sudah sukses dan mendapatkan keuntungan yang lumayan. Ardi sendiri sudah tidak begitu tertarik dengan pembagian hasil dari kerja sama tersebut. Bagi Ardi yang terpenting adalah menemukan Wida sebagai calon pendamping hidupnya.

Pada saat malam resepsi 17 Agustus Ardi sengaja datang lebih awal karena ingin melihat tampilan Wida yang bertugas menjadi MC pada acara tersebut. Ardi melihat dari awal sampai akhir penampilan Wida di atas panggung. Semakin bulat tekad Ardi memilih Wida tidak diragukan lagi.

Tanggal 15 September bertepatan dengan hari kelahiran Wida, Ardi menyatakan maksudnya menjadikan Wida sebagai istrinya dan Widapun menerimanya. Bulan Oktober bertepatan kelahiran Ardi keluarganya secara resmi datang melamar Wida. Setelah keluarga Wida berkonsultasi para sesepuh dan tetua adat setempat maka mereka menyarankan pernikahan harus dilaksanakan bulan depan. Bulan November mengakhiri perjuangan Ardi mendapatkan Mutiara Lereng Gunung Slamet.


Photo by Darya Tryfanava on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *