Merawat Perasaan di Masa Pandemi

1+

Fiksi menjadi cara paling ampuh untuk merekam perasaan sebuah bangsa. Pernyataan ini bukan tanpa dasar, tetapi terbukti telah memberikan gambaran yang jujur terhadap centang-perenang realitas sesungguhnya.

Albert Camus lewat novel La Peste (1947) telah merekam perasaan penduduk kota Oran, sebuah koloni Perancis di Aljazair, ketika wabah pes memporak-porandakan kota itu. Novel yang diterjemahkan Nh Dini menjadi Sampar itu kemudian memenangkan Hadiah Nobel tahun 1957. Camus merekam bagaimana kecemasan, ketakutan, kelicikan, kemunafikan, dan upaya gigih seorang dokter bernama Bernard Rieux membawa warga kota berjuang melawan wabah.

Contoh lain dari Tanah Air, kita mewarisi novel tetralogi Pulau Buru dari Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988). Keempat novel ini telah mengolah fakta-fakta peristiwa sejarah menjadi rekaman terhadap bangkitnya nasionalisme di Hindia Belanda antara 1898-1917. Kebangkitan itu bahkan mendahului munculnya himpunan kebangkitan nasionalisme yang diusung Boedi Oetomo, yang berdiri 1908.

Ketika menulis novel ini Pram sedang menjalani masa pembuangan di Pulau Buru karena dianggap terlibat G30S/PKI. Tahun 1979 ia dinyatakan bebas karena tidak terbukti terlibat, tetapi harus menjalani tahanan rumah sampai dua tahun kemudian. “Dunia ini sebatas halaman rumah saya,” kata Pram dalam satu wawancara. Perjalanan tetralogi ini tidak mudah. Pemerintah Orde Baru telah menuding bahwa karya-karya Pram mengandung ajaran Marxisme dan komunisme. Oleh sebab itu setahun setelah peredarannya, dua novel pertamanya diberangus pemerintah. Mereka yang masih membaca apalagi mengedarkannya dicap subversif, karena melawan pemerintah. Bisa diadili dan dijebloskan ke penjara. Hebatnya, keempat novel inilah kemudian yang menjadi salah satu dasar pemberian gelar pahlawan kepada RM Tirto Adhi Soerjo tahun 2006 yang difiksikan Pram lewat tokoh Minke.

Karya kedua pengarang besar dunia ini, memberikan pegangan kepada kita bahwa fiksi tak sekadar ditulis untuk memenuhi hasrat manusia akan hiburan. Fiksi adalah suara hati yang terkubur di dasar peristiwa. Jika jurnalistik “hanya” mencatat peristiwa, maka fiksi merekam perasaan-perasaan yang terpendam di balik peristiwa itu.

Ruang Kreatif #ProsaDiRumahAja yang diinisiasi Arcana Foundation dan Galeri Indonesia Kaya, dan dilaksanakan pada 18-19 April 2020, di tengah-tengah amukan pandemi korona, telah menerima tak kurang dari 172 aplikasi dari para penulis di seluruh pelosok Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya dikirim dari kota-kota di dunia. Dengan berbagai pertimbangan, “hanya” 50 penulis yang kemudian dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti kelas bersama saya. Lima puluh peserta itu kemudian ditambah dengan tiga peserta kehormatan, yakni aktris Sha Ine Febriyanti, Maudy Koesnaedi, dan Annisa Hertami. Mereka semua mengikuti kelas prosa
dari rumah masing-masing secara daring. Kelas ini menjadi bentuk pencapaian lain dalam dunia berkesenian di Tanah Air.

Selama dua hari, selain memperoleh teoriteori membangun sebuah dunia lewat kekuatan imajinasi, para peserta juga diberi kesempatan untuk mengikuti author speed dating, sebuah forum konsultasi secara perorangan. Sesi ini dibutuhkan untuk melakukan evaluasi sejauh mana teori-teori yang telah dipaparkan berhasil
diterapkan dalam praktek menulis.

Secara khusus, kelas ini sesungguhnya membawa dua misi. Pertama, ingin membuktikan bahwa kreativitas bisa dilakukan dari mana saja, tidak terkecuali selama
menjalani masa karantina di rumah masingmasing. Kedua, mencoba menggabungkan teori-teori jurnalisme dengan teori sastra untuk kemudian diterapkan dalam penulisan fiksi.

Kedua misi ini rasanya telah berhasil dilaksanakan secara baik, terbukti para peserta kelas begitu tekun, aktif, dan penuh dedikasi mengikuti seluruh tahapan kelas yang dilakukan secara berjenjang. Sejak tahap seleksi awal, Arcana Management telah menerima begitu banyak aplikasi dari para penulis dengan menyertakan karya-karya fiksi yang menjanjikan sebagai karya yang baik. Namun, apa boleh buat hanya 50 penulislah yang bisa ditampung di dalam kelas.

Pada bagian akhir, kita mendapatkan gambaran hampir seluruh peserta berhasil menyelesaikan tugas dengan merampungkan sebuah cerpen untuk kemudian saya kurasi. Di dalam buku ini kita bisa membaca 20 cerpen yang telah dinyatakan lolos kurasi itu. Seluruh cerpen mengambil tema “Rumah sebagai Ruang Bersama Melawan Pandemi”, hanya sebagai titik berangkat untuk kemudian mengamalkan teori-teori yang telah diterima selama kelas berlangsung.

Mereka semua mengikuti kelas prosa dari rumah masing-masing secara daring. Kelas ini menjadi bentuk pencapaian lain dalam dunia berkesenin di Tanah Air.

Bukan berarti, puluhan cerpen yang tidak berhasil lolos kurasi secara otomatis menjadi cerpen yang buruk, tetapi dengan berbagai pertimbangan estetik dan tematik, cerpen-cerpen itu dikembalikan kepada para penulisnya. Pengembalian itu bertujuan agar para penulis memiliki kesempatan mengirimkan cerpen-cerpen hasil kelas itu kepada berbagai media di Tanah Air atau memuatnya dalam blog-blog pribadi.

Dokumentasi sosial

Pertama-tama yang harus dicatat dalam pengantar ini, keberhasilan kita bersama melakukan dokumentasi sosial terhadap keguncangan global yang disebabkan oleh virus Covid-19. Apa pun hasilnya, seluruh karya yang termuat dalam buku Cerpen Pilihan #ProsaDiRumahAja Pandemi ini, telah melakukan tugas-tugas kepengarangan dengan mencatat, merekam, dan mengabadikan berbagai gejolak perasaan manusia sebagai warga negara.

Catatan-catatan tentang perasaan ini, telah menjadi ekspresi paling jujur yang selama ini tidak terekam secara baik oleh dunia jurnaslistik dan media sosial. Jurnalisme kita bergerak ke arah formalisme informasi dengan “cuma” menulis fakta-fakta keras yang berasal dari realitas formal. Sementara media sosial telah membombardir kita dengan informasiinformasi bias, bahkan tak jarang berupa hoaks. Dalam kondisi centang-perenang seperti itu, membaca kisah berjudul “Pada Suatu Siang” dari Asih Prihatini yang sederhana, kita seolah diajak memasuki bagian terdalam dari kenyataan dan perasaan warga di tengah pandemi. Keprihatinan itu berlapis-lapis, tidak tunggal. Seorang ibu harus berusaha keras mencari pinjaman uang membeli pulsa telepon pintar untuk keperluan sekolah anaknya.

Sementara ia juga sedang tidak punya uang untuk membeli beras. Rezeki kejutan ia dapatkan dari seorang guru yang membayar berasnya di warung. Asih kemudian
mengejutkan kita dengan menyodorkan fakta, bahwa guru yang memberi pinjaman pun tak lebih baik nasibnya. Ia juga turut serta mengantre bantuan sembako. Ternyata, uang yang ia pakai membayar beras wali muridnya itu berasal dari uang pinjaman juga.

Bukankah itu pengungkapan sebuah masalah yang berlapis-lapis yang kini terus mendera kita? Kisah Aziz Azthar yang berjudul “Perempuan dalam Kotak”, telah merekam secara lebih detil kenyataan yang harus ditanggung kelompok urban perkotaan yang hidup dalam bilik-bilik apartemen. Aku seorang istri yang harus berhadapan dengan suaminya selama berhari-hari, karena harus kerja di rumah. Ia mengandaikan dirinya seperti seekor hamster, yang kebetulan dipelihara
keluarga muda ini. Aktivitasnya cuma bisa menggelinding di sebidang bilik kecil, yang lama-lama menimbulkan gesekan.

Konflik dipertajam karena perbedaan kultur yang terjadi di antara Aku dan sang suaminya yang berdarah Jepang. Kultur kerja bagi orang-orang Jepang nomor satu melebihi urusan keluarga. Ryo anak pasangan ini yang menangis keras pun luput dari perhatian suami, lantaran ia sibuk bekerja. Sementara aku sedang mengerjakan sesuatu yang tak bisa ditinggalkannya. Bukankah ini potret sosial yang sangat mungkin terjadi pada banyak keluarga di seluruh dunia saat lockdown diberlakukan pemerintah?

Nasib orang kecil yang berusaha tetap tegar berjualan martabak di musim pandemi, dituturkan dengan sangat menyentuh oleh Dwi Alfian Bahri lewat cerpen berjudul “Dingin Loyang Terang Bulan”. Penghayatan itu berasal dari kedekatan Dwi dengan para pedagang martabak di Surabaya, di mana ia juga menjadi
pelakunya. Sam, yang ia tuturkan, adalah nasib sahabatnya di masa pandemi. Loyang martabak yang biasanya hangat, karena pembeli yang silih berganti, malam itu terasa dingin oleh gerimis dan nasib yang tak pasti. Uang sisa di laci warung, bahkan kemudian ludes digondol pencuri yang berkedok pembeli. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitu pepatah menyebutnya. Banyak peristiwa yang diungkap para penulis mengisahkan tentang keterjebakan orang-orang di rumah mereka sendiri dengan berbagai persoalan yang tak mudah diselesaikan.

Cerpen Wida Waridah berjudul “Rumah Ibu” terasa istimewa bagi tokoh aku yang bisa jadi teladan bagaimana semestinya berbakti kepada ibu. Aku dengan penuh cinta kasih merawat ibu yang harus menjalani karantina akibat terinfeksi korona. Diduga infeksi itu justru trasmisi dari anak tertuanya yang baru pulang dari negeri seberang. Meski memiliki suami dan anak, aku dengan sangat telaten memenuhi seluruh protokol kesehatan untuk merawat seseorang yang terinfeksi.

Hal yang serupa terjadi pula pada Rara Sekar tokoh dalam cerpen “Empat Belas Hari” karya Sasti Gotama. Rara harus berjarak dengan anaknya, Gita, kendati mereka berada dalam satu rumah. Sangat menyedihkan, seorang dokter pun punya akses yang terbatas untuk memperoleh layanan kesehatan. Sampai pada akhirnya ia harus berpisah dengan Gita, karena menjalani karantina di sebuah bilik kesehatan.

Entah bagaimana nasib Gita dan pengurus rumah tangganya sepeninggal Rara Sekar, itu belum lagi terungkap. Kisah yang ditulis Dwi Klarasari berjudul “Jurnal Sang Muarikh” berkisah terntang sebuah keluarga yang bahagia, tetapi tiba-tiba dalam waktu singkat berubah muram. Ayah atau Opa, merasa terlalu banyak goyonan
yang menyedihkan hatinya. Bahkan guyonan tentang wabah pun ia terima dari para cucunya. Oleh sebab itu ia memutuskan mengurung diri di dalam kamar. Meski kemudian berakhir gembira, Klara sukses melakukan kilas balik, tentang wabah di zaman kolonial di mana kakek buyut keluarga ini menjadi saksi sejarah.

Kepahitan itulah yang membuat Opa sensitif bila menerima guyonan seputar wabah. Cerpen “Namaku Mbiw!” dari Rendy Aditya Paraja, juga menjadikan rumah sebagai ruang yang sempit untuk melawan pandemi. Tokoh Kayut harus menjalani isolasi setelah terpapar virus korona. Hal yang ia takutkan, adiknya yang bernama Mbiw, akhirnya akan pulang ke rumah dan itu bisa berarti bencana. Konflik batin terperangkap di rumah sendiri sementara orang-orang hanya menyapa dari kejauhan sembari mengantarkan makanan, menjadi peristiwa yang sangat mungkin terjadi di berbagai daerah.

Cerita-cerita di atas telah memperkaya khasanah “peliputan” terhadap dampak pandemi, yang entah sampai kapan akan berakhir. Setelah menjelma menjadi
dokumentasi sosial yang berharga, lantaran tak cuma merekam peristiwa fisik, tetapi juga mencatat peristiwa batin, maka karya-karya ini mengembuskan kesadaran, bahwa tak mudah menjalani hari-hari walau berada di rumah sekali pun.

Barangkali dokumentasi sosial, kultural, dan bahkan sejarah itu, tercatat menjadi lebih nyata ketika kita membaca cerpen-cerpen “Rumeksa ing Wengi” (Galuh Sitra Harini), “Jimat Malowopati” (Tegsa Teguh Satriyo), “Doa-doa Kreweng” (Fadlillah Rumayn), dan “Menjelang Ramadan, Dilarang Menziarahi Makam Ayah” (Ahmad Ijazi Hasbullah). Cerpen-cerpen ini tak hanya membahas pandemi yang kini sedang mengharu-biru kita semua, tetapi memberi perspektif kultural yang justru menjadi sumber konflik.

Tradisi meletakkan thethek melek di depan rumah sebagai upaya menangkal pagebluk menjadi warisan nenek moyang Nusantara. Tradisi ini menjadi terdengar irasional di tengah-tengah masyarakat urban-religius yang mulai berjarak dengan kampung halaman. Tokoh Syarifah dalam cerpen “Rumeksa ing Wengi” adalah representasi masyarakat urban, tetapi mendapatkan pendidikan agama secara sepenggal-sepenggal. Maka ia menjadi seolah-olah melihat prilaku masyarakat desa
sebagai musyrik. Beruntung Syarifah kemudian mencari tahu tentang thethek melek dan sayur lodeh tujuh macam, yang ternyata secara kesehatan memiliki kegunaan yang kuat.

Tradisi selalu dianggap menjadi penghalang bagi masyarakat yang tengah berubah pesat untuk bertindak secara rasional. Tradisi meron di Kampung Malowopati sebagai puncak perayaan Maulud Nabi, hampir saja batal karena pagebluk menyerang kampung itu. Tetapi “juru kunci” kampung Mbah Gurit tetap bersikeras melaksanakan meron. Ia menyimpan catatan buruk tentang penundaan atau pembatalan meron, di mana warga kampung silih berganti menuju liang kubur. Warga berada dalam dilema besar. Jika meron dilakukan tertumbuk pada peraturan pemerintah yang harus melakukan social distancing, jika tidak ada sejarah kelam di kampung itu.

Seorang pemuda bernama Kang Subur memberi jalan tengah. Meron tetap dilaksanakan pada Sabtu Pahing, tetapi tetap dengan mengindahkan aturan dari pemerintah: menjaga jarak dan mengenakan masker. Sebulan setelah pelaksanaannya Mbah Gurit menyerahkan tugas “juru kunci”, semacam pengemban adat kepada Kang Subur. Mbah Gurit pun kemudian tertidur panjang.

Relasi sosial yang tidak harmonis akibat berbagai persekongkolan terjadi pada cerpen Ratna Ayu Budhiarti berjudul “Lorazepam Terakhir”, “Alasan Yadi Maryadi Membenci Biru” karya Oktabri, “Semesta Menaburkan Segala di Kota Ini” karya Lidya Pawestri Ayuningtyas, “Pernikahan” karya Agus Pribadi, “Kutunggu di Tanah Surga” karya Lufti Avianto, “Menuju Rumah Bapak” karya Ni Nyoman Ayu Suciartini, dan “Pesta Ulang Tahun” karya Nafri Dwi Boy.

Karya-karya ini seolah menjadi pemetaan terhadap berbagai masalah yang muncul pada diri seorang individu, yang kemudian terekspose menjadi konflik sosial ketika kebijakan lockdown atau pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan pemerintah. Ekspose terhadap konflik sosial itu bisa menimbulkan berbagai ketegangan antar individu, tetapi juga bisa mendorong sebuah konflik yang lebih besar seperti dalam “Lorazepam Terakhir”. Ia berawal dari tugastugas pekerjaan seorang jurnalis, kemudian berkembang menjadi ketegangan atasanbawahan, yang lalu menyulut konflik dalam diri sendiri.

Mengolah sejarah

Dua cerpen lainnya, “Jendela” karya Tannia Margaret dan “Malam Panjang di Laut Banda” karya Ni Kadek Ayu Winastri, harus diakui sebagai dua cerpen yang secara baik mengolah fakta-fakta sejarah menjadi sebentuk karya fiksi yang mengesankan. Kedua cerpen kemungkinan meletakkan latar peristiwa pada masa kolonialisme di Hindia Belanda.

Sekitar tahun 1931, di Hindia Belanda merebak wabah penyakti pes atau sampar, yang diduga dibawa oleh beras-beras impor dari Burma. Namun, pemerintah Belanda dengan berbagai alasan menolak mengatakan itu sebagai pes yang dibawa oleh kapal-kapal pembawa beras. Mereka bahkan menyalahkan prilaku penduduk yang tidak bersih.

Tannia, yang kebetulan berumah di Malang, menelusur awal mula wabah dari kota itu untuk kemudian menyebar sampai ke negara-negara lain seperti Bangladesh, India, dan seterusnya. Pada kata “jendela”, Tannia tak hanya menggunakannya sebagai cara memandang kenyataan di luar rumah dari tokoh bernama
Gendhis, tetapi telah menjadi semacam kisi-kisi masa kini untuk melihat masa lalu yang kelam.

Ayah Gendhis seorang dokter pribumi, di mana keahliannya sebagai dokter diremehkan oleh para dokter Belanda. Ia tidak bisa membiarkan rakyat mati bertumbangan tanpa ada usaha dari pemerintah. Oleh sebab itu, ia meninggalkan Gendhis seorang diri di rumah untuk membantu rakyat miskin keluar dari
belitan hidup. Rakyat yang miskin, kini harus menghadapi wabah ganas yang belum ada obatnya.

Jika dalam La Peste, pemerintah kolonial Perancis melakukan lockdown terhadap kota Oran, tidak demikian dengan pemerintah kolonial Belanda di Malang dan kota-kota lain di Hindia Belanda. Mereka hanya “menyingkirkan” rakyat yang tertular pes di satu wilayah karantina tanpa pengobatan apa pun. Tannia merekam kejadian itu menjadi peristiwa yang amat memilukan. Rakyat mati bertumbangan di jalan-jalan, tanpa mendapatkan penguburan yang layak sebagai manusia. Bahkan pada ending cerita, seorang dokter muda membawa kabar duka atas kepergian ayah Gendhis. Sebagai seorang dokter pribumi ia telah berbuat dan mengabdi kepada tanah airnya agar memiliki alternatif jalan keluar dari wabah.

Tannia menutup cerita secara mengejutkan ketika menulis,”Namun dari balik pandangan matanya yang mengabur oleh butir-butir airmata, Gendhis masih bisa melihat ujungujung jari pemuda itu menghitam ketika ia mengangkat topinya memohon pamit”. Seorang dokter muda pun akhirnya tertular pes ketika bergabung untuk menyelamatkan rakyatnya dari amukan wabah. Memilukan…

Perjalanan Kapten Andi membawa kapal Mutiara Biru yang berisi para wisatawan tersendat-sendat di tengah laut Banda. Mereka berangkat dari Surabaya menuju Ambon. Seorang anak buah kapal bernama Julius tiba-tiba mengeluh karena gatal di sekujur tubuhnya. Sesungguhnya gatal-gatal itu telah dirasakan Julius ketika Mutiara Biru pulang dari Pulau Komodo. Tetapi kemudian menjadi semakin parah ketika mereka berlayar menuju Ambon.

Pada cerpen “Malam Panjang di Laut Banda” itu, Ayu Winastri berjuang mengolah kisah sejarah tentang penyakit pes dan mewujudkannya dalam sebuah pelayaran. Latar peristiwa yang spesifik ini menuntut pengetahuan yang memadai mengenai selukbeluk kapal, pelayaran, cuaca, gelombang, navigasi, dan karakter para pelaut di dalamnya.

Ayu dengan cermat melukiskan semua itu dalam tuturan penceritaan yang memikat, sehingga seolah kita berada di atas dek kapal Mutiara Biru. Konflik dibangun tak hanya karena Julius makin frustrasi menghadapi penyakitnya yang makin parah, tetapi mengimbas pada kekacauan di antara para awak kapal Mutiara Biru. Selain itu, cuaca yang tidak bersahabat juga menjadi faktor lain keinginan untuk secepatnya tiba di Ambon. Kapten Andi sebagai pimpinan tertinggi di atas kapal dihadapkan pada persoalan yang tidak mudah. Ia harus mengambil keputusan setepat-tepatnya untuk menyelamatkan seluruh awak kapal, jika memungkinkan.

Puncak peristiwa terjadi ketika Julius mendatangi Kapten Andi dengan putus asa dan (mungkin) memohon pamit. Tetapi tiba-tiba badai dan gelombang besar mengobrak-abrik kapal. Tubuh Julius terpental di anjungan kapal. Ia muntah-muntah, seluruh tubuhnya kini telah bentol-bentol. Dengan perasaan yang campur aduk, Kapten Andi merasa pelayaran menuju Ambon menjadi pelayaran paling lambat dalam hidupnya. Badai tak hanya terjadi di laut, tetapi juga bergejolak di dalam dirinya.

Pada kedua cerpen ini sejarah telah luluh ke dalam karya fiksi yang secara gemilang mencatatnya dengan melibatkan segenap perasaan penulis dan kemudian pembacanya. Sejarah telah direkam dengan perasaan yang mendalam dan penuh empati, sehingga ia melekat sebagai kisah yang terus-menerus hidup. Begitulah kekuatan fiksi. Seluruh karya yang Anda nikmati dalam buku ini akan menjadi sebuah kesaksian tentang sebuah zaman di masa pandemi. Dulu atau sekarang sama pentingnya dicatat melalui fiksi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jujur terhadap perasaan bangsa-bangsa di dunia.

Semoga karya-karya ini terus hidup di antara kita untuk menjadi tonggak pengingat agar kita lebih waspada dan siap untuk segala kemungkinan di masa depan.


Jakarta, Mei 2020
Putu Fajar Arcana
Pendiri Arcana Foundation, penggagas
dan pengajar Ruang Kreatif #ProsaDiRumahAja

Unduh e-book cerpen pilihan #ProsaDiRUmahAja “Pandemi”

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *