Perpisahan dan Harga Diri (Bagian 2-Habis)

Di awal tahun 2017, ternyata kami diuji dengan tawaran jabatan baru untukku, tidak lama setelah selesai ibadah umrah. Aku berusaha menolak mesekipun kampus daerah terus mengisyaratkan aku harus mengambilnya karena tidak ada lagi orang lain yang memenuhi persyaratan selain diriku.

Dilema kembali kuhadapi, “Bagaimana mau bisa leluasa bolak-balik ini jika menjabat?” pikirku.

Semua kolega tahu akan problema LDM-ku, namun mereka meyakinkanku bahwa urusan pribadiku tetap akan baik-baik saja. Mr. A pun berulang-ulang kali aku tanyakan harus diambil atau tidak tawaran jabatan tersebut, dan berulang kali pula dia selalu menjawab, “Ambil!”

“Kita ini sama-sama sedang mencari posisi dan koneksi, kita perlu mengumpulkan pundi-pundi untuk bisa bersama lagi jadi gapapa Unda ambil aja tawaran itu,” saran Mr. A.

“Lah tapi ntar jadi susah ini pasti mau lama di Jakarta, Yah, dan itu jabatan sampai empat tahunan loh,” ujarku berargumen untuk lebih mendapatkan jawaban pasti dari suami.

“Ya diatur-atur aja kan bisa, katanya juga udah pada tahu kan Unda punya suami jauh? Kalau soal waktu itu ya nanti kan bisa disiasati juga, belum tentu bisa sampai empat tahun kalau misal ada yang ajak Unda ke Jakarta dan harus mengundurkan diri kan gapapa,” jawab Mr. A.

Aku hanya menghela napas dan masih belum terpikir harus mengambil keputusan apa. Mr. A juga ditanya oleh bapakku, apakah boleh aku mengambil jabatan tersebut? Jawabannya tetap boleh. Akhirnya aku pun mencoba mengambil jabatan tersebut.

“Yah tapi nanti si Abang tamat SD kita kumpul lagi kan ya?” Aku mencoba memastikan kesepakatan kami.

“Iya insyaaAllah tapi tanggung juga ya anak kedua kan tinggal selisih 2 tahun lagi juga tuh?”.

“Aii… lama lagi dong Yah kalau harus nunggu anak kedua tamat SD juga,” ujarku. “Ya sudah lihat nanti, siapa tahu Ayah juga dapat promosi jabatan tahun ini,” ucapnya.

“Aamiin” jawabku.

Suatu hari tidak begitu lama berselang, aku kehilangan kontak lagi dengan Mr. A. Agak susah aku mencarinya hingga menanyakan ke kantornya pun dijawab belum masuk. Tiba-tiba siang hari baru dapat komunikasi dengannya, namun aku terkejut mendengar keluh tangisnya menyesali bahwa dia belum dapat promosi, sedangkan teman yang di bawah dia malah sudah mendapatkan bagian di pelantikan.

“Padahal Ayah mau menelpon Ibumu, mau mengabarkan bahwa Ayah sudah dapat promosi !” ujarnya.

Aku coba menenangkan dan menyabarkannya. Namun aku agak janggal mendengar keinginannya untuk bisa menelpon ibuku mengabarkan prestasinya.

“Kenapa dia seperti ingin sekali memamerkan itu ke ibuku?” pikirku. “Apa dia ingin lebih “berharga” dan memiliki power di hadapan orangtuaku?” aku bertanya sendiri tanpa berani bertanya langsung padanya. Namun  aku yakin persoalannya adalah harga dirinya. Dia ingin punya kekauatan untuk bisa menarikku dan anak-anak kembali ke Jakarta dengan modal yang dia punya sendiri.

Hari-hari setelah itu aku terus memompa semangatnya meskipun hanya dari jauh. Dia mengeluh bahwa pekerjaan kantor sangat sepi, dinas luar lagi jarang. Waktu itu dia betul-betul berada dalam keadaan down namun sebagai laki-laki dia berusaha untuk menyembunyikannya.

Aku berusaha tetap menjenguknya meskipun sudah memangku jabatan di kampus daerah. Akupun berusaha mengejarnya untuk quality time ketika pernah kami terlibat dalam dinas luar di kota yang sama, namun dia harus cepat kembali ke Jakarta. Walapun agak kesal dan bertanya dalam hati, “Kenapa sih seperti nggak mau berkorban sama sekali demi istri sebentar saja? Padahal kan kesempatan untuk bersama jarang terjadi?” pikirku, tapi selalu kutepis pikiran-pikiran negatif itu.

Dia pun kembali seperti tidak antusias terhadapku. Sering tidak memiliki waktu bersama meskipun aku sedang berada di Jakarta menemaninya.  Aku kembali banyak menemukan kemisteriusannya. Sebagai istri tentu ada perasaan curiga menemui kondisi yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Pernah aku bertanya sambil bercanda ringan, “Yah, Unda masih cantik ga?” 

“Cantik tapi lebih cantik ibuku, adikku, Afifa baru Unda,” jawabnya.

“Ooh berarti Unda nomor empat ya sekarang? Hahahha,” aku tertawa dan dia pun mengangguk. Lain dari biasanya memang tapi kuanggap ya sudahlah tidak mengapa.

“Kalau sekarang Ayah masih cinta apa udah agak kurang ya?” tanyaku lagi.

Dia terperanjat dan menjawab, “Ya cinta laah tapi beda seperti dulu, kalau dulu cintanya banyak memikirkan Unda aja tapi sekarang memikirkan bagaimana kelanjutan hidup kita, jadi cintanya lebih ke bagaimana memikirkan keuangan yang cukup dan mapan,” ujar Mr. A.

“Oh begitu…” jawabku. Meskipun kesannya tetap positif namun entah mengapa aku merasakan feeling  yang tidak enak terus. Aura Mr. A terlihat tidak menyukaiku lagi, sangat berbeda.

Pernah suatu kali aku mendengar kabar kematian seseorang dari cluster di komplek perumahanku yang tidak diketahui oleh keluarga dan tetangga sekitar sehingga mayat lama terkurung di dalam rumah. Aku agak panik dengan keadaan Mr. A yang kerap susah dikontak itu, lalu mencoba menanyakan ke tetangga depan mengenai keberadaan Mr. A di rumah. Tetanggaku tidak terlalu memperhatikan, namun menjawab, “Memang sepertinya jarang kelihatan di rumah karena mobil tidak setiap hari kelihatan,” ujarnya.

Lagi-lagi Mr. A marah dengan jawaban tetangga yang coba kutanyakan ulang kepadanya. “Lain kali tanya aja tuh sana sama tetangga! Dia sepertinya lebih tahu tentang Ayah!” ujarnya ketus.

“Bukan begitu yah… unda khawatir karena sayang, apalagi kemarin ada kejadian menyeramkan begitu di cluster sebelah. ya sekedar buat saling peduli aja antar tetangga,” jelasku. Pokoknya aku selalu salah ketika mencoba menelusuri kecurigaannku sendiri. Aku juga selalu salah terhadap berbagai hal-hal kecil yang tidak disukainya. Mulai dari model hijab, model pakaian, dan sebagainya.

Termasuk ketika aku mengetahui bahwa Mr. A tidak sedang ada jadwal rapat di hotel M seperti yang dinyatakannya kepadaku. Aku tetap membujuknya pulang meskipun dia marah dan kecewa serasa dimata-matai. Waktu itu jelang subuh ketika dia kembali ke rumah dengan tenang kusiapkan mental untuk sedikit mengancamnya, “Jika memang sudah tidak suka kepadaku, tidak mengapa, kembalikan saja aku baik-baik ke orangtua sebagaimana diamemintaku dulu,” ucapku tenang.

Dia langsung terperanjat, “Oh begitu?”

Akupun mengangguk. Lalu dia memelukku erat sambil berkata, “Ayah tertekan… Ayah ingin kejar setoran pada kalian… Ayah berusaha membahagiakan kalian… Unda terlihat banyak tidak puas, Unda percaya Ayah, Ayah orang baik! Semuanya demi kalian, rasanya serupiah yang bisa Ayah berikan kepada Unda itu bisa membuat dada Ayah semakin besar,” ujarnya pelan.

Aku terharu namun sedih juga dia berpikir seperti itu, “Maafin Unda, Yah, tapi Unda kan ngga pernah menuntut dan memaksa Ayah harus ada ketika apa yang diinginkan belum tercapai, kalau bisa Unda yang atasi, ya seperti biasa tidak mengapa Unda atasi sendiri dulu,” jawabku.

“Iya… tapi Unda masih kurang sabar,” ujarnya. Aku hanya diam menerima komentarnya. “Ayah mau seriusin mutiara, mau pinjam modal ke Ibu, mau buka outlet kecil di mall, buat sambilan kerja,” ujarnya lagi. ‘

“O gitu… terus yang jaga siapa Yah? Unda aja ya Yah? Jangan orang lain, Unda pindah lagi aja ke Jakarta buat bantu Ayah,” tawarku.

“Lha kok gitu? Ntar anak-anak bagaimana? Jangan dulu lah, lihat dulu bagaimana perkembangannya,” ujar Mr. A.

“Unda takut entar ayah kan tiap hari interaksi sama penjaganya pasti perempuan kan?” ujarku.

“Tuh kan mulai deh pikirannya… Masa Ayah begitu sih? Ntar cari yang cowok aja deh kalo gitu penjaganya,” sungutnya agak kesal.

Suasana berhasil mencair kembali pagi itu. Emosi wanita mudah diredam dengan pelukan dan kata-kata lembut laki-laki ya ternyata . Jika kesal mudah tebersit ingin berpisah namun jika sudah mendapatkan kelembutan buyar dan lupa sudah. Meskipun aku pernah mengutarakan hal-hal pisah itu namun tidak pernah kulanjutkan dengan serius karena memang masih sayang kepada Mr. A. Akupun punya pemikiran yang sama bahwa dia juga tidak akan berani berpikir untuk melepasku.

Aku memang masih harus belajar mengendalikan dan mengelola perasaan cemburu dan kekhawatiran berlebihan terhadap suamiku, mungkin karena aku tidak terbiasa banyak bergaul dengan lawan jenis sehingga aku pun agak terganggu jika suami harus banyak bergaul dengan lawan jenis.

Hari berlalu, kondisi komunikasi kami masih naik turun, namun masih dalam batas kewajaran dan tidak sampai hilang kontak sampai berhari-hari. Hingga suatu malam ketika Mr. A sedang berkunjung ke daerahku terjadi percakapan  di dalam kendaraan antara orangtuaku dan kami. Ibuku lebih banyak mendominasi pembicaraan.

“Jadi kalian ini mau seperti apa? Sampai kapan harus berjauhan terpisah seperti ini?” tanya ibuku kepada Mr. A.

“Ya nanti kalau saya sudah mapan, istri dan anak-anak akan saya bawa ke Jakarta,” ujarnya.

“Ukuran mapan itu sampai kapan? Hidup ini tidak bisa mengalir saja seperti air, bagaimana jika Iis ini masih tetap susah pindah ke Jakarta? Apakah tidak ada alternatif lain untuk berkumpul?” tanya ibuku kembali.

“Tidak, ya alternatifnya tetap ke Jakarta!” ucap suamiku. Aku dan bapak hanya terdiam waktu itu, karena kami tidak ingin semakin menambah suasana panas. Ibu memang agak susah berkata-kata dengan tenang sehingga kami sudah hafal jika banyak ditanggapi akan lebih runyam takutnya.

“Kenapa Unda diam saja tadi?” protes Mr. A setiba di rumah.

“Lah, seperti tidak hafal saja dengan ibu… biar ngga tambah ributlah yaah…” sahutku.

Mr. A terlihat masih kesal, “Ayah mau pindah saja ke daerah ibu!” ujarnya. Aku terhenyak dan membayangkan situasi yang lebih runyam mengurus kepindahan ke Jakarta saja betapa sulitnya, apalagi sampai ke daerah yang lebih jauh dan kamipun harus mengurus kepindahan berdua ke daerah ibu mertua pastinya lebih memakan waktu lama.

“Ha? Terus Unda dan anak-anak bagaimana yah?” tanyaku.

“Ya ikut semuanya…” ujarnya.

“Lah apa ngga menambah kerepotan kita Yah kalau pindahnya jauh lagi? Berarti aku dan kamu harus sama-sama mengurus kepindahan, berbeda dengan jika aku pindah ke Jakarta atau Ayah yang pindah ke sini” ujarku. Mr. A terdiam, aku pun diam masih bingung harus bagaimana.

“Kita lebaran di Jakarta saja tahun ini,” pinta Mr. A. Aku pun terdiam, dan tidak menyangka giliran lebaran tahun 2017 adalah di Jakarta, setelah tahun 2016 kami telah berlebaran di daerah ibu mertua. Aku berharap tahun 2017 adalah saat berkumpul berlebaran lagi bersama orangtuaku yang hanya memiliki anak semata wayang ini.

“Ooo begitu… ngga bisa di sini ya Yah?” tanyaku.

“Nggak, karena kan mau fokus urusan jualan mutiara juga,” jawabnya.

“Ooiya… sudah dapat ya Yah penjaga outletnya?”

“Ngga ada pertanyaan lain ya selain itu?” ujar Mr. A ketus dan sinis terhadapku. Akupun terdiam.

Meskipun diwarnai dengan riak-riak keributan sepele itu, kami tetap bisa mempertahankan romantisme komunikasi dalam chatting-an kami. Sampai suatu hari ketika orangtuaku ke Jakarta untuk suatu urusan, aku mendapat kabar bahwa mereka harus kembali ke daerah bersama-sama dengan suamiku yang kebetulan ditugaskan ke daerahku. Surprise dan senang sekali rasanya waktu itu mendapat pesan dari Mr. A yang akan datang bersama-sama orangtuaku.

“Hei, Ayah mau ke sini, datang ke sini! Mudah-mudahan bisa sampai weekend ya? Karena datangnya sudah hari Kamis”, ujarku mengabarkan anak-anak dengan riang, dan anak-anak pun bersorak riang mendengar ayahnya akan datang. Anak-anak memang memilki komunikasi yang sangat kuat dengan ayahnya. Mr A begitu pintar memperlakukan anak-anak dan masuk ke dunia mereka yang masih santai dan tanpa beban itu dengan sikap romantisnya yang semakin membuat anak-anak nyaman, agak berbeda denganku yang cenderung lebih kaku dan lebih ingin disiplin terhadap aturan-aturan, dan lebih cerewet ala emak-emak tentunya.

Akupun mempersiapkan diri karena sudah hampir sebulan tidak berjumpa dengannya. Dengan dandanan spesial kami menjemput Mr. A dan orangtuaku di bandara malam itu. Betapa kaget dan sedihnya hatiku, ketika jelang kami istirahat bersama, Mr. A mengeluh kepadaku tubuhnya begitu letih karena padat kerjaan dan keesokan harinya dia harus kembali ke Jakarta lagi.

“Oh kok cepat banget Yah? Ga bisa nyambung sampai wiken biar bisa bareng sama anak-anak kita?” ujarku memelas.

“Nggak bisa, ini perintah Bu Dirjen harus ada dialog RRI hari Jumat jadi Ayah harus kembali.”

“Oiya, Unda ada bicara apa sih ke orangtua? Sampai-sampai kemarin malan di tengah kemacetan, keletihan pulang kerja ayah nyetirin mereka dan mereka ngomel-ngomel ke ayah tentang kita? Katanya Ayah menyuruh Unda keluar PNS, katanya dia ngga ridho kalau sampai Unda keluar PNS, katanya kita belum punya apa-apa, katanya eselon IV di Jakarta itu juga belum ada apa-apanya!” suara Mr. A yang agak meninggi mengagetkanku di malam itu.

Aku kalut dan bingung kenapa sampai terjadi seperti itu dalam kondisi aku yang tidak tahu apa-apa dan tidak pernah bercerita demikian kepada orangtua. Aku hanya terdiam dan menyesali sikap orangtuaku kepada suamiku.

“Kenapa, Unda sedih ya?” tanya Mr. A.

“Iya kok gitu ya, beneran Yah aku ga ada bicara atau mengeluh apapun ke orangtua, aku gatau apa-apa,” ujarku.

“Ayah lebih sedih lagi, Ayah ngga taulah Unda tahu atau tidak tapi kenyataannya begitu!” sungut Mr. A seolah tidak percaya dengan penjelasanku.

“Besok aku akan bicara ke orang tua perihal itu Yah!”.

“Oh jangan, yuk kita tidur saja,” jawab Mr. A waktu itu. Tentu aku tidak bisa tidur dan tidak bisa terima alasannya melarangku untuk mengklarifikasi ke orangtuaku.

“Kenapa bukan teguran ke aku saja sih ya?” pikirku. “Nanti kalau aku diapa-apain dalam kondisi LDR ini bagaimana ini? Pikiran buruk berkelabat dan aku tidak bisa tidur malam itu meskipun Mr. A sudah pulas. Sampai pagi subuh aku bertekad untuk tetap bicara dengan orangtuaku karena akupun tidak setuju dengan sikap orangtuaku.

“Sayang bangun subuh, aku mau bilang ke ibu bapak dulu ya?” pamitku sambil membangunkan Mr. A. Setengah sadar dia masih saja menahanku, “Ngga usah Nda,” jawabnya.

Entah mengapa aku tetap bulat menemui orangtuaku untuk menanyakan yang sebenarnya agar semuanya tenang kembali. Ternyata reaksi marah kudapat dari orangtuaku.

“Kenapa ini jadi masalah lagi? Semalam kami itu hanya bertanya baik-baik apakah benar dia meminta kamu keluar PNS? Suamimu itu hanya diam tanpa keluar sepatah kata pun untuk menjawab iya atau tidak Is,” ucap ibuku yang diiyakan bapakku.

“Kami pikir diamnnya itu pertanda iya sehingga kami coba untuk menasihati sebagai orangtua jangan gegabah karena anak-anak masih kecil-kecil dan tentu butuh biaya besar, dan kami telah meminta maaf kepadanya malam itu juga agar jangan sampai dianggap memarahi,” lanjut ibuku.

“Jadi kami pikir telah dapat diterima, selesai! Jadi rupanya belum bisa terima ya?”

“Ya, dia kan memang diam karena ngga mau ribut dan melawan orangtua kali, Bu, harusnya ya ga usah lanjutin nasihatnya panjang lebarlah,” sahutku.

“Loh kami kan punya persepsi juga sebagai orangtua, apa iya ditanya ngga bisa dijawab sedikit pun? Kalau memang ngga benar ya tinggal jawab saja tidak betul, begitu kan?” lanjut ibuku.

“Ya sudahlah Bu, aku ngga mau ada ribut-ribut lagi, kita sudahi saja dan kalau mau nasehatin lagi mending ke aku langsung saja,” pintaku sambil keluar kamar ibu bapak.

Setiba di kamar ku lagi, aku langsung melapor ke Mr. A bahwa sudah mengklarifikasi dengan  orangtua dan meminta mereka agar tidak lagi banyak menasihati.

“Apa? Dasar ini istri yang paling tidak penurut! Istri yang tidak butuh Imam!” Mr. A langsung naik pitam memarahiku.

“Loh kok aku salah lagi? Aku hanya ingin membelamu Yah, aku berusaha menjelaskan sifat, kebiasaan dan keinginannmu Yah! Aku tidak pernah bercerita apapun ke mereka tentang kekuranganmu!” aku berusaha beragumen membela diri.

Rupanya ibuku pun tersinggung dengan sikapku yang mencoba mengklarifikasi itu, dan dia langsung memanggil suamiku yang saat itu sudah hendak berangkat bertugas sambil mengantar anak-anak sekolah. Mr. A mulai agak berani melawan ibuku yang juga keras itu. 

“Tolong ajarin anaknya patuh sama suami ya Bu! Sudah dibilang jangan, masih juga nyampein jadinya kan begini!” sahut Mr. A.

“Kamu kenapa marah-marahi dia lagi? Bukannya semalam kami sudah meminta maaf kepadamu?” ucap ibuku. “Jangan hanya kamu yang minta dipahami! Kami ini orangtua, kami orang sumatera jadi ya beginilah kami!”

“Ooh orang Sumatera ya?” Mr. A seolah meledek ibuku dan menganggap adat Sumatera itu angkuh sendiri sebagaimana dia pernah menyatakan itu juga padaku. Percakapan agak sengit itu akhirnya diputus oleh bapak yang tidak ingin anak-anak terlambat sekolah.

“Sudah-sudah berangktlah nanti telat,” ujar bapak. Mr. A pun tetap menyalami ibuku waktu itu, dan sejak percakapan terjadi anak-anak sudah masuk ke dalam mobil sehingga tidak mendengar keruwetan pagi itu.

Aku pikir dengan pamit dan salamnya Mr. A kepada ibuku masalah tersebut cukup disudahi saja. Aku yag mengantarnya ke tempat tugas dan menyalami seperti biasa, dia kembali ke Jakarta selepas acaranya juga masih biasa walaupun tidak sempat lagi mampir dan pamit ke orangtuaku. Dugaanku salah, karena ternyata itulah awal segala perpisahan kami. Itulah awal kebulatan tekadnya untuk melepaskanku, di saat anak tertua kami akan memasuki ujian nasional.

Sejak itu komunikasiku dengannya menjadi kian sulit, hampir tidak pernah ditanggapi kecuali anak-anak yang melakukannya. Orangtuaku pun mencoba untuk menanyakan sikapnya juga tidak pernah membuka diri, kompromi tidak ada sama sekali. Bapak menghubungi kakaknya pun tidak didapat hasil yang baik. Aku yang berusaha menemui diam-diam pun mendapat reaksi yang sangat tidak baik. Mr. A telah membangun tembok pemisah, membentuk lingkarannya sendiri dan mengeluarkan aku dan kedua orangtuaku.

Kudengar dia mengeluhkan kepada keluarganya tentang sikap orangtuaku yang sangat mengganggu harga dirinya, serta sikapku yang kurang taat terhadap perintahnya, walaupun aku juga masih bingung perintah mana saja yang fatal kulanggar. Sikapku yang dianggap durhaka terhadap ibunya pun juga membingungkanku, karena jarang sekali bertemu ibunya, dan komunikasi lewat telepon menurutku masih dalam batas kewajaran saja.

Semua upaya membujuk sudah kutempuh. Kutemui ibu dan kekuarganya juga sudah, kubawa anak-anak lebaran bersamanya sesuai saran orangtuaku juga sudah, aku meminta maaf memohon-mohon padanya agar minta diberi kesempatan memperbaiki diri demi kelangsungan rumah tangga dan kebahagiaan anak-anak juga sudah. Namun tekadnya masih saja bulat untuk mengembalikanku di Juli 2017 itu.

Mr. A seperti sangat terganggu dengan harga dirinya, padahal aku merasa dialah yang selalu setuju dan mendukungku untuk maju. Dia juga yang tidak terlalu mempermasalahkan sikap orangtuaku yang masih banyak fokus memikirkanku selama ini. Aku pikir dia benar-benar bisa memahami dan memaklumi keadaanku, namun ternyata mungkin aku keliru. Aku merasa banyak salah dan tidak peka terhadap harga diri dan kebutuhannya, meskipun telah berulang kali kuajak berani untuk mandiri lepas dari semua atribut orangtuaku. Mr. A Nampak masih tidak tega terhadap diriku jika harus “susah” bersamanya.

Kami seperti saling menunggu satu sama lain, tidak tegas satu sama lain. Aku menananti sikap berani dan tegas darinya, dan dia pun menanti aku berani dan tegas terhadap orangtuaku, dia pun menanti sikap membujuk dari orangtuaku yang belum bisa didapatkan hingga kini. Posisiku sangat sulit di tengah-tengah pihak yang bertahan dengan kerasnya ego martabat, kehormatan dan harga diri.  Senjataku kini hanya doa dan menanti yang terbaik dari Tuhan yang Mahakuasa. Ya, perpisahan ini karena alasan harga diri tanpa memikirkan harga diri anak-anak titipan-Nya pada kami.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Hutomo Abrianto on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *