Perpisahan dan Harga Diri (Bagian 1)

1+

Penulis: Lisa Adhrianti

“Pagi sayaang…”

“Have a great day pearl.”

“Lagi ngapain sayang?”

“Sayang, mau ngapain aja hari ini?”

Good night sayang… kiss!”

“Sayaang… I miss u!”

“I love you with all my heart.”

Sapaan-sapaan ini sering aku terima setiap harinya dari Mr. A, terlebih dengan kondisi berjauhan darinya. Meskipun kesepian itu pasti melanda, namun yang lebih kerap mengeluh dan mengutarakan kesepian adalah aku. Sapaan hangat itu pasti kubalas dengan kehangatan yang sama, sehingga itu seperti vitamin yang menguatkan, dan ketika itu mulai jarang maka akulah yang panik mencari dan mengeluhkannya.

“Unda, semakin unda khawatir dan menggenggam sesuatu dengan erat maka peluang sesuatu itu terlepas akan semakin besar,” ujar Mr. A yang sering mengingatkanku yang seperti terlalu ‘takut’ terhadapnya.

Entah apa yang dirasakan oleh Mr. A, namun dia terlihat begitu kuat dan enjoy menjalani long distance marriege (LDM) itu, begitu percaya padaku sehingga tidak pernah rewel terhadapku. Sangat berbeda denganku yang agak ‘rewel’ dan kerap sekali menagih janji padanya kapan bisa kumpul lagi. Setiap akhir pekan penyakit galau biasanya semakin parah menghampiriku karena banyak kehilangan kebiasaan bersama-sama melewatinya, namun Mr. A sepertinya berhasil membunuh galaunya.

Kerap setiap akhir pekan dia memamerkan karya-karya masakannya kepadaku melalui What’sApp. Dia memang jago dan senang memasak makanan untuk kami jika ada waktu senggang. Nasi dan mie goreng, sushi, jamur enoki crispy, tahu dan tempe crispy, omlet susu adalah menu andalannya yang menjadi kegemaranku dan anak-anak.

“Mau nggak, Nda?” tanyanya beserta gambar foto yang dibikin sangat menarik dan memancing selera itu.

“Ah, mau banget!” biasanya aku membalas dengan antusias. Akupun terkadang tak mau kalah memamerkan masakan-masakanku kepadanya dan dia pun pasti dibuat kepengen.

Kebersamaan kami di akhir pekan adalah saat yang paling membuatku terasa kehilangan dengan LDM yang dijalani. Kecupan dan candaan mendadak yang kerap menghampiri dan mengagetkanku ketika sedang memasak di dapur pun sudah tidak pernah dirasakan lagi.

“Yah, sepi nih, nggak enak banget,” biasa keluhku.

“Sabar ya sayang,” selalu begitu jawabnya.

Kondisi LDM ini berbeda dengan LDM ketika selesai magister lalu yang sangat terlihat betapa dia selalu merindukanku. Mungkin kali ini kesibukannya lebih banyak dan fokusnya tersita lebih ke pekerjaan, pikirku. Mungkin juga dia telah menjadi sosok yang lebih dewasa dan menuntutku untuk bersikap dewasa pula. Mungkin begini mungkin begitu pikirku untuk menepis semua perasaan aneh dan negatif terhadap berbagai hal yang menurutku agak ‘misterius’ dari Mr. A.

Sejak tiga bulan pertama berjauhan aku seperti merasakan sesuatu yang berbeda dari sosok dan kebiasaan Mr. A. “Dia ‘kan laki-laki, dia sendiri, dia hanya datang sebulan sekali dua hari dan aku pun hanya bisa menjenguknya sesekali dalam beberapa hari. Sisanya? Jika dia tidak berkabar dan susah dicari ya mana aku tahu? Tidak ada yang menemani, teman-temannya pun aku tak mengerti, entah dia butuh teman dalam sepi ya bisa jadi?” pikiranku mencoba menganalisis sendiri jika sedang merasakan kemisteriusannya.

“Yah, kalau berjauhan begini harus lebih intens dong komunikasinya. Video call tiap hari dong,” pintaku.

“Hehe… iya sayang,” jawabnya ketika aku sering agak protes terhadap kebiasaan komunikasi yang semakin memburuk menurutku. Dia menjadi seperti sangat sibuk sekali, bahkan ketika berkunjung menemuiku dan anak-anak yang hanya dua hari sebulan sekali itu keletihan dan kesibukannya tidak bisa ditutupi sejenak.

“Yah, kok tiap ke sini sakit lemes terus tapi sibuk hape juga sih?” sering aku melontarkan pertanyaan kekesalan.

Dia pun menjawab dengan nada kurang suka, “Ya… capeklah kemarin-kemarin begadang terus, kerjaan banyak!”

Alhasil waktu bertemu yang singkat itu, menurutku menjadi tidak berkualitas. Anak-anak tetap banyak sibuk main gadget masing-masing dan kami pun kerap terlibat perdebatan kecil.

Aku berupaya untuk menebus waktu yang kurang berkualitas itu dengan membagi hari untuk lebih lama di Jakarta. Sekitar dua mingguan dalam sebulan aku harus menitipkan anak laki-lakiku kepada orangtua, agar dapat menunggui suami di Jakarta dengan kerap ditemani putri bungsuku, Afifa. Saat di Jakarta, sekalian aku mengajar paruh waktu di kampus swasta. Mr. A tetap terlihat sibuk walaupun kami sedang menemaninya. Jadwal pulang kantornya pun tetap sering larut malam, namun setidaknya aku lebih tenang jika sedang menemaninya.

Aku pun sangat bersyukur dia masih mau banyak membantuku jika misal harus tugas luar kota, aku menitipkan Afifa bersamanya. Afifa sangat senang jika bersamanya karena bisa ikut masuk dan bermain  di tempat penitipan anak, di kantor ayahnya sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas Mr. A.

Meskipun kulihat Mr. A jadi lebih sensitif dan gampang emosi terhadapku, namun dia masih kerap bersikap manis dan memanjakanku. Aku pernah menanyakan seputar aktivitasnya kepada rekan yang sering bersamanya dan sekaligus kukenal, ketika aku panik menungguinya tidak kunjung tiba di rumah, sementara aku harus segera berangkat keluar kota dan menitipkan Afifa.

“Apa sih pake nanya-nanya ke temenku segala? Jadinya mereka pada ngeledekin ayah kan!” ujarnya marah.

“Ya… maaf yah, Unda panik banget nggak tahu harus tanya ke siapa dan kebetulan punya kontak temen ayah itu. Memang, dulu aku ambil kontaknya tanpa sepengetahuan Ayah buat darurat aja,” ujarku minta maaf. Perangkat handphone kami memang dibuat untuk saling bisa membuka akses.

“Bikin malu ayah aja! sekalian aja tuh nanya ke bos ayah ambil kontaknya juga! Sampe dicari-cari begitu jadinya diledekin temen-temen, seperti aku habis ngapain aja kelayapan padahal Unda kan tau sendiri kerjaan lagi banyak dan ayah ketiduran di kantor! Sudah dibilang berkali-kali jangan terlalu mau menggenggam jika tidak ingin terlepas, kalau begitu terus jangan heran kalau nanti suami sudah di atas maka dia akan cari yang lain!” ujarnya marah dan tersinggung sekali dengan aksiku yang memang betul-betul panik waktu itu.

Aku terperanjat dengan kata-katanya tersebut dan kemudian teringat pernyataan salah seorang rekan seniorku yang pernah bilang, “Hati-hati kalau suami sudah mulai sering marah-marah itu sudah warning dia ada ‘sesuatu’, ibu pernah mengalami itu dahulu,” ujar seniorku waktu itu. Namun aku tidak mau terlalu percaya dengan itu, aku tetap berusaha menanamkan keyakinan bahwa Mr. A masih menyayangiku dan tidak mungkin berani mengkhianatiku setelah banyak melewati riak gelombang dan pencapaian hebat yang telah kami alami hampir dua belas tahun berumah tangga.

Alhamdulillah setiap Mr. A lagi keras dan marah aku selalu diam dan tidak pernah menanggapi dengan balik melawan keras juga. Karena rasa tulus menyayangi, akupun selalu bisa mengendalikan emosi walaupun juga harus dengan menahan kekesalan. Ketika mereda barulah biasanya aku mengeluh, “Ayah katanya gamau merasa dicurigai, dirongrong, diatur tapi ayah membuat kondisi yang memancingku harus seperti itu dengan kemisteriusan ayah ya,” kritiku.

“Hehe… iya sayang maaf ya…” jawabnya jika lagi ‘dingin’.

“Coba Ayah selalu komunikasi terbuka, banyak cerita seperti dahulu pasti Unda juga santai aja sih, nggak mungkin kasak kusuk sehingga Ayah nggak terima,” jelasku.  

“Iya sayangku,” dia tertawa menanggapi kalau mood-nya lagi bagus.  

Dahulu ketika masih bersama, dialah yang sering panik dan merintih dengan ‘antainya’ diriku terhadap aktivitasnya karena memang aku merasa tidak ada keganjilan apapun terhadapnya jadi mungkin terkesan dia dicuekin.

Kata orang feeling suami istri itu tajam. Akupun mencoba memahami posisinya yang sulit dan sering menawarkan diri untuk kembali memboyong anak-anak, namun dia masih memintaku tetap bersabar mengingat anak-anak yang kasihan jika harus terlalu sering pindah sekolah.

Jelang setahun terpisah jarak, Allah mengabulkan hajatku untuk dapat ke Tanah Suci jika dapat menyelesaikan studi. Rejeki Allah itu datang melalui orangtuaku lagi di akhir 2016 dan kami pun dihadiahi keberangkatan gratis berdua. Mr. A awalnya senang sebagaimana diriku yang sangat bersyukur dengan hadiah itu sampai suatu kejadian miss communication menerpa kembali.

Kali itu aku dianggap tidak menghargai ibu mertua dan Mr. A menjadi sangat marah terhadap diriku. “Pergi saja kamu sendiri! Aku tidak mau menemani!” ujarnya ketika mengetahui aku menghubungi ibunya untuk meminta bantuan agar berkenan datang menemani anak-anak kami selama kami umrah.

Mr. A merasa tidak dihargai olehku karena membujuk kembali ibunya setelah aku mengetahui dari suamiku bahwa sang ibu tidak bisa memenuhi permintaan kami untuk menunggui cucu-cucu dengan alasan harus tetap menemani nenek yang telah sakit-sakitan. Nenek hanya mau dirawat dan ditemani ibu sebagai anak tertua dibanding dirawat dan ditunggui oleh anak-anak dan saudaranya yang lain.

Aku merasa terjadi kasalahpahaman kata-kata dalam berkomunikasi antara aku dan ibu Mr. A yang tidak aku sadari sehingga membuat Mr. A begitu marah terhadapku dengan kejadian tersebut. Tidak ada keributan apapun antara aku dan ibunya ketika itu, tidak ada juga kata-kata kasar yang memaksakan kehendak. Aku hanya berusaha membujuk dan memohon pertolongan sementara waktu, sesuai dengan apa yang juga disarankan orangtuaku, mengingat kesibukan mereka yang khawatir tidak bisa maksimal menjaga anak-anakku ketika ditinggal lama beribadah. Namun mungkin itu dipahami sebagai bentuk ‘pemaksaanku’ terhadap ibunya. Aku sungguh takut dengan kemarahan Mr. A waktu itu. Permintaan maaf terhadap ibunya pun kulayangkan atas ketidaknyamanan komunikasi yang terjadi. 

Ibu Mr. A tidak menyalahkanku dan menganggap tangisannya kepada Mr. A bukan karena diriku, melainkan karena sikap Mr. A yang sering misterius dan emosi terhadap diriku. Begitu pengakuan ibunya terhadapku.

“Ndak kok, Is ga salah apa-apa sama Ibu… Ndak kok… Ibu ga apa-apa, Ibu nangis ke dia itu karena sedih kenapa dia jadi sering marah kepadamu padahal kalian lagi berjauhan,” begitu ujar ibunya waktu aku mencoba meminta maaf sekaligus mengklarifikasi. Ini sudah kali kedua sejak awal menikah, Mr. A kecewa terhadap sikapku yang dianggap menyakiti ibunya sehingga membuat ibunya sedih menceritakan perlakuanku. Aku berusaha menganalisis bahasaku sendiri yang dianggap menyakiti itu.

“Apakah karena aku terlalu bicara apa adanya atau memang lawan bicaraku yang terlalu sensitif dalam menerima bahasaku?” aku coba mengintrospeksi diri.

“Unda sudah minta maaf sama Ibu, dan Ibu bilang aku tidak salah apa-apa, dia justru menangisi Ayah yang banyak berubah sikap ke Unda,” aku melapor kepada Mr. A sesuai apa yang dinyatakan ibunya.

“Oiya baguslah… Mana ada ibuku seperti ibumu yang bisa blak-blakan menyalahkan orang!” sungut Mr. A waktu itu.

Aku terkaget lagi dan hanya bisa diam merenung sambil bertanya “manakah yang benar?” Ahentahlah, yang penting waktu itu Alhamdulillah Allah masih memberikan jalan bagi kami untuk dapat pergi umrah bersama, Mr. A tidak jadi membatalkan diri, yang pasti membuat aku lebih pusing lagi harus menjelaskan apa pada orangtuaku.

Namun semenjak itu perangkat seluler Mr. A berganti baru dan terkunci rapat dengan akses sidik jarinya saja. “Unda ga perlu terlalu kepo aktivitas suami lagi, terserah ayah saja, wong ibaratnya kalau laki-laki mau menikah lagi juga bisa kan ga harus pamit-pamit istri?” ujarnya kala itu.

“Ooh gitu ya? Ya… ya… ya…” aku pun hanya bisa menganggukkan kepala.

“Iyalah kalau Ayah sudah nggak mikirin, sudah keluar juga kok dari rumahmu ini!” jawabnya masih dengan kekesalan waktu itu.

Ah kenapa dia sudah jadi begitu berbeda ya? Aku hanya bisa pasrah dan berharap perjalanan ibadah itu dapat membuat hubungan kami jauh membaik, lebih hangat seperti dahulu lagi.

Ternyata sensitivitas dan emosi Mr. A masih berlangsung di Tanah Suci. Aku kerap bingung dan terheran-heran mengapa hal-hal kecil harus menjadi sumber kekesalan dan kebenciannya terhadapku di saat seharusnya kami menikmati rasa syukur yang besar sebagaimana orang lain yang dapat kesempatan ke Baitullah. Lagi-lagi aku hanya bisa meminta maaf, berdoa dan tetap menegurnya dengan baik, walaupun air mata kesedihan kerap membanjiri dan menemani langkah-langkahku yang sendiri jika dia sedang diliputi amarah dan tidak mau menemaniku melewati jalan-jalan di Tanah Suci.

“Aku sangat mencintai rumah tanggaku ya Allah. Dalam kekesalan hati dan rasa ingin putus asa aku tidak pernah melewatkan permohonan agar Engkau kumpulkan kami lagi bersama-sama tenang dan bahagia dalam satu atap,” selalu kulangitkan doa itu.

Kulihat hari-hari Mr. A di Tanah Suci juga tetap sibuk kontak sana sini. Mungkin untuk urusan pekerjaannya. Kuperhatikan dia juga sudah menjadi lebih dekat, sering kontak dan curhat dengan ibunya tidak seperti dahulu yang agak cuek. Dia banyak berpikir hadiah untuk ibunya tapi tidak tampak terpikir juga untuk orangtuaku. Ketika kutanyakanpun hal itu membangkitkan amarahnya dan menganggap aku terlalu berprasangka buruk terhadapnya.

Kuakui memang hubungan antara keluargaku dan keluarga Mr. A tidak terlalu dekat dan harmonis selayaknya hubungan manis antar besan. Jarak yang jauh dan kekerapan bertemu yang jarang mungkin menjadi sebabnya. Kontak jaringan seluler antar mereka pun sangat jarang. Aku merasa restu orangtuaku tidak terlalu penuh terhadap Mr. A dan keluarganya, begitu juga sebaliknya restu ibunya Mr. A juga tidak terlalu baik untukku dan keluargaku.

Soal restu tersebut rasanya terlalu egois jika masih harus ditajamkan ketika kami sudah berpuluh tahun bersama dengan anak-anak yang sudah hadir tiga.  Aku mencintai rumahtanggaku, maka aku selalu berusaha dekat dengan keluarga Mr. A, walaupun Mr. A kurang berusaha dekat dengan keluargaku karena pembawaannya yang lebih banyak diam juga.  Semua itu berusaha kuterima dengan lapang dada saja bersama doa-doa.

Sekembali dari Tanah Suci aku melihat upaya Mr. A untuk memperbaiki diri bersamaku. Aku pun semakin ingin memanjakannya, semakin merasa menyayanginya, semakin ingin menjadi istri yang shalehah untukknya. Aku tidak sabar menanti waktu berkumpul bersama lagi.


Editor: Lufti Avianto

Photo by jurien huggins on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *