Cerpen Zaid Malbar: Potret Perubahan

3+

Ayan terperanjat melihat situasi yang ada di hadapannya kini. Ia merasa awalnya bisa mengubah kondisi sekitarnya dengan usahanya menjajakan minuman, yang digadang-gadang bergizi serta dilengkapi nutrisi seimbang. Namun, tak disangka oleh pria berkumis tipis itu. Ia justru menjerumuskan banyak nyawa balita dan bayi mungil ke dalam jurang maut.

“Ini sering terjadi, Dok?” tanya Ayan kepada pria yang memakai jas putih dan tengah memegang stetoskop. Biasanya pria berahang tegas itu begitu antusias menjawab pertanyaan tentang suatu kasus penyakit yang tengah dihadapinya. Namun, ketika pertanyaan tersebut keluar dari mulut Ayan, ia terlihat lesu untuk menanggapinya. Bukan berarti ia tak melayani pertanyaan Ayan barusan, hanya saja lidahnya seolah kelu seketika. Terlebih saat melihat sumber suara yang menanyakan tentang apa yang dialami oleh pria berjanggut lebat itu belakangan ini. Akhirnya sang Dokter pun menjawab.

“Ini adalah kasus kedua puluh dalam sebulan terakhir,” timpal sang Dokter dengan air muka yang datar tanpa arus.

Sayangnya salesman dari sebuah perusahaan minuman pengganti ASI itu belum menyadari apa yang sedang terjadi. Perubahan besar di rumah sakit itu disebabkan olehnya. Daya arungnya yang tinggi untuk memasarkan produk yang ternyata punya reaksi samping dengan air pemukiman warga.

Pria berambut klimis itu masih saja dilanda kebingungan. Apalagi pernyataan dari sang dokter spesialis anak tadi malah menambah banyak pola pertanyaan di kepala Ayan. Namun ia hanya mampu mengeluarkan beberapa kata dari lisannya. “Mengapa hal ini dapat terjadi, Dok?”

Tentu saja pria yang berwajah khas Timur Tengah itu melahirkan ekpresi yang menakjubkan. Keheranan tiada tara tengah menyergap pria yang akhir-akhir ini memperjuangkan untuk peradaban wong cilik di daerah pinggiran Bekasi. Harapan Ayan yang sempat bergelayut pada benaknya dulu yaitu bisa membantu warga Cikarang Barat yang dinilai kumuh oleh pemerintah daerah.

Ayan pun sempat observasi dan survei di lapangan sebelum ia membuat program pemasaran barang dagangannya. Ia menemui salah satu keluarga yang mendiami desa yang tak jauh dari perusahaan tempat ia bekerja.

“Bu, anaknya kenapa dikasih air putih bukan susu?”

Saat itu, Ayan begitu miris melihat kondisi anak-anak di sana yang tak bisa menikmati susu layaknya anak di belahan bumi lainnya. Lalu, sejurus kemudian mendengar pertanyaan Ayan barusan. Sang ibu menjawab dengan santainya. “Oh, itu bukan air putih, Mas. Itu air tajin. Soalnya, ASI saya udah gak keluar. Kami juga gak ada uang buat beli susu formula.”

“Kalau kami dari perusahaan susu ingin menawarkan susu gratis sekaligus mengajarkan pemasaran susu kepada warga di sini. Gimana Bu?” tanya Ayan yang sebenarnya agak ragu. Namun, dibulatkannya itikad baik dalam hati. Aku harus membantu warga Cikarang untuk bisa lebih maju, setidaknya mereka bisa mengubah kehidupan menuju yang lebih layak lewat susu, gumam Ayan.

“Wah! Bagus banget itu, Mas! Tapi, ini gak ada politik-politikan ‘kan Mas? Kami sering dimanfaatkan soalnya. Terlebih kalau mau Pemilu,” ungkap ibu yang tengah menggendong anak bayinya itu dengan begitu lugas dan gamblang. Ayan tak menyangka warga yang sudah terpinggirkan itu malah sering dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab.

Mendengar keluhan dari saudara setanah air tadi, Ayan cukup berang dan naik pitam. Mukanya mendadak memerah. Namun, gunungan amarah itu ditahan Ayan sambil menghela napas panjang. Ia pun angkat bicara, “Saya akan turun langsung, Bu. Jangan khawatir.”

Memang benar setelah pengamatan yang dilakukan Ayan secara diam-diam. Keluarga di desa yang masuk area Jawa Barat itu cukup maju secara ekonomi. Mereka juga terbantu dengan pemenuhan kebutuhan susu untuk anak-anak mereka. Gerakan mengganti ASI yang gencar dilakukan oleh Ayan bersama warga di sana, ternyata berbuah manis awalnya.

Alhamdulillah, Engkau ubah takdir hamba-Mu di sini sesuai usaha dan daya upaya mereka, batin Ayan.

Namun semua berbanding terbalik kini. Apa yang terjadi di rumah sakit dan membludaknya pasien anak-anak di sana, sungguh sama sekali tak diharapkan Ayan. Di tengah upayanya banting tulang siang dan malam untuk perubahan peradaban di Bekasi. Akan tetapi, sekarang harus dihadapkan pada sebuah realita yang menyayat hati. Hal ini tak disadari oleh Ayan sama sekali bahwa selama ini ia telah menjadi agen rahasia dari sebuah perusahaan multinasional di Bekasi yang memiliki konspirasi di balik susu formula.

Sontak sang Dokter pun kaget mendengar pertanyaan dari Ayan barusan. Pria yang selama ini begitu gigih membuat program penjualan hingga bisa menjangkau level terendah warga Bekasi. Kini sama sekali tidak tahu-menahu akan perubahan besar yang telah terjadi. Ataukah ia sengaja membutakan mata dan hatinya demi mencari nafkah.

Tak sabar akan hal ini sang Dokter pun akhirnya mencoba menampar Ayan lewat perkataannya agar Ayan tersadar, “Ini karena ulah orang-orang sepertimu, Ayan.”

Sang dokter menghantam Ayan tepat di ulu hati bukan dengan upper cut layaknya petinju profesional, melainkan dengan pernyataannya tersebut. Ayan sepertinya tak mau disalahkan atas kasus yang menimpa anak-anak di Bekasi selama empat pekan terkahir ini. Lagi-lagi ia bertanya seakan membela diri.

“Maksudnya?”

Akhirnya si Dokter pun harus mengurai benang kusut yang terjadi di depan mata menurut analisis medisnya.

“Lihat itu! Wanita yang tengah menjaga bayinya dalam keadaan dipasangi selang dan infus sedang anaknya yang satu lagi menemani ibunya merawat saudara kandungnya tersebut,” bentak sang dokter pada Ayan.

“Kau tak ingin tahu mengapa pemandangan itu bisa tercipta?” tanya sang dokter yang memancing rasa penasaran Ayan terhadap sebuah ironi di depan mata mereka. Ayan hanya terdiam dan tak mampu berkata apa-apa, kemudian detik selanjutnya sang dokter menimpalinya dengan sebuah kuliah singkat yang benar-benar menikam hatinya.

“Ibu itu menyusui anaknya yang satu sehingga anaknya tumbuh dengan kuat. Lalu, yang satunya …”

Sang dokter hampir tak bisa melanjutkan kata-katanya. Kegeraman menyelimuti hatinya kini. Bagi tenaga medis di sana, Ayanlah yang paling bertanggung jawab atas kasus yang menimpa warga saat ini. Ikhtiarnya yang masif, telah berhasil mendustai warga sekaligus dirinya sendiri. Ayan pun sebenarnya tak menyangka kondisi ekstrem yang menimpa warga bisa berlangsung. Sejatinya Ayan pun hanya korban dari para pengusaha konglomerat yang punya kuasa dengan dalih memanfaatkan Ayan bersama warga, dengan mimpi-mimpi mereka tentunya.

Akan tetapi, paramedis tak begitu memahami secara menyeluruh apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ada misteri besar di balik peristiwa perih saat itu. Mereka hanya tahu kalau Ayan yang mengimbau warga untuk mengganti ASI menjadi susu formula. Dokter dan perawat di rumah sakit hanya mendapatkan sebagian info saja. Kemudian langsung menyimpulkan bahwa Ayanlah yang patut dijadikan terdakwa.

“Itu karena susu formula yang kau jual dengan giat pada mereka yang kebanyakan buta aksara. Mereka tak mampu menjangkau dunia bahwa di dalam susu tak ada kolostrum seperti pada ASI apalagi untuk melek komposisi susu formula dan interaksinya yang bercampur dengan air kotor dan menimbulkan diare. Inilah yang harus kami hadapi sehari-hari.” Sang Dokter pun langsung menuju ke pasiennya yang sedari tadi menunggu dan mengakhiri kuliah singkatnya dengan Ayan.

Ayan banyak belajar dari mimpi yang dulu sempat dibangunnya agar mencapai perubahan dalam kebaikan. Lewat sebuah pergulatan kehidupan dan idealisme yang harus terus diperjuangkan. Karena nilai kemanusiaan bukan angka kredit yang siap dipertaruhkan di atas kasur putih di bawah naungan rumah sakit. Ia pun bergegas mencari tahu dan mengusut tuntas kasus ini.

Perubahan besar dalam hidupku harus dimulai kini, bisik Ayan dalam hati.

“Aku harus resign dari perusahaan. Tapi, sebelum itu aku harus menyelidiki sampai tuntas kasus ini dulu,” ujar Ayan pada sang dokter yang sempat menoleh padanya saat mendengar kabar gembira barusan.

“Baiklah, aku di pihakmu, Ayan!” Senyum tipis dan anggukan dari sang dokter menutup pertemuan mereka.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Johannes Plenio on Unsplash

3+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *