Flash Fiction Windystone: Alarm

1+

Ufuk timur merona jingga saat seonggok tubuh terbungkus selimut menggeliat. Dipan kayu tempat sandarannya terlelap, bergeming. Maklum, baru keluar dari toko yang dipesan oleh orangtua si anak sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-24. Suara adzan dari kejauhan samar-samar menyusupi telinga anak itu. Si anak hanya menyipitkan mata, memandang ponselnya sejenak, lalu menyembunyikan kepalanya lagi di bawah selimut.

“Dan … Dan … subuh, Dan!”

Tak ada sahutan dari si empunya nama. Anak yang dipanggil Dan ini telah sempurna kembali ke alam mimpi. Merasakan sulur demi sulur waktu yang menua bersama usia. Pilihan ibunya soal fashion memang tak pernah salah. Ranjang empuk kualitas premium menjadi surga baru bagi Dan, anak bungsunya.

Pukul sebelas siang, Dan baru membuka mata. Itu pun setelah pintu kamarnya diketuk dengan ketukan yang masif oleh sang ibu. Ia baru ingat, semalam minta dibangunkan pukul sepuluh. Ada janji dengan dosen pembimbingnya pukul dua belas di kampus. Sedangkan waktu tempuhnya dari rumah ke kampus tak kurang dari satu jam jika jalanan tidak macet. Menyadari keterlambatan itu, Dan melemparkan selimutnya ke sembarang arah. Mandi lima menit, lalu bersiap berangkat.

Sembari menjinjing tas punggung hitam, Dan keluar kamar dan menggeloyor tanpa menyapa ibunya. Jangankan mengecup dahi, mencium tangan sang ibu pun ia alpa. Sampai di kampus tepat waktu barangkali menjadi prioritas utama Dan saat ini. Menghindari amarah dosen pembimbing adalah salah satu tips agar penyusunan skripsinya tak dipersulit dosen pembimbing.

Beruntung, ojek online pesanan Dan segera tiba. Ia menerima helm dari pengemudi lalu naik ke motor dengan sedikit melompat. Pengemudi itu terkejut, tapi tetap sabar men-starter motornya, berharap kemacetan tidak menyulitkan pekerjaan super penting ini. Tanpa aba-aba, Dan mencengkeram besi belakang motor. Si pengemudi sigap melintasi panasnya aspal. Tiga, empat kali motornya lincah menyalip kendaraan yang mengadang.

Jika skripsinya harus direvisi, Dan sepertinya akan menambahkan nama tukang ojek online itu ke dalam kata pengantar. Jasanya begitu besar dalam penyelamatan masa depan Dan. Hati Dan bangga dengan dirinya sendiri. Meski sering menunda-nunda waktu mengerjakan skripsi, setidaknya kali ini Dan berhasil membuang kemalasannya itu.

“Dan, selamat ya.”

Dan menoleh ke asal suara. Angel, gadis bermata indah itu tersenyum merekah. Di tangannya terjinjing sebuah kotak berwarna biru metal.

“Nih, untukmu. Hadiah lolos skripsimu sekaligus hadiah ulang tahun.”

“Makasih ya.” Ucap Dan sambil membalas senyum Angel yang seperti mawar.

“Buka.”

Tanpa disuruh dua kali Dan membuka kotak itu. Dahinya mengernyit saat mengeluarkan isi kotak. Sebuah jam weker antik berwarna hitam membuatnya terkesima. Sepanjang hidup Dan baru kali ini ia melihat jam weker yang begitu indah. Kacanya terlihat cemerlang seperti terbuat dari berlian. Warna hitamnya melekat kuat di badan weker seperti bermaterial pualam. Lonceng kembar di atas badan weker berbentuk bulat telur itu yang Dan tahu akan mengubah hidupnya.

“Suka?”

“Banget. Aku gak akan telat bangun lagi dengan ini di kamarku.” Antara memuji Angel atau hadiahnya, kalimat Dan semakin meronakan pipi gadis blasteran Sunda-Medan itu.

“Lihat bagian belakangnya.”

Telunjuk Dan menemukan sebuah kalimat timbul bertuliskan, “Untukmu yang menginginkan kesempurnaan.”

Bola mata Dan berbinar. Tambah cinta saja dia dengan gadis yang sudah dipacarinya selama enam semester. Barang antik begitu pasti mahal. Bagi mahasiswa biasa seperti Dan, seperti mimpi memiliki benda semahal itu. Tapi bukan masalah besar bagi Angel, keturunan konglomerat Kerajaan Sunda.

“Solusi masalah bangun pagimu ‘kan? Habis ini janji, jangan sampai lupa meneleponku lagi.”

“Janji.”


Adzan subuh menggema indah, menyelusup masuk ke dalam telinga Dan. Ia sudah berjanji bangun pagi, tapi mimpi Dan sedang seru-serunya. Merasa terusik, Dan melingkarkan kembali seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, menutup telinganya. Pintu kamar Dan kembali diketuk oleh ibu. Memanggil sang anak bungsu untuk berkhidmat menyembah Sang Pencipta. Namun tetap saja nihil. Ibu pun menyerah. Hatinya kecewa, tapi masih selalu berharap suatu saat Dan akan menepati janjinya untuk bangun pagi.

Esok harinya dan esok harinya, sampai seminggu kemudian, Dan tetap pada kebiasaannya. Weker hadiah Angel hanya menjadi pajangan di kamarnya yang tidak pernah ia setel. Hanya satu janji yang ia tepati. Menelepon Angel setiap hari.

Suatu sore, saat sedang merapikan pakaian di kamar Dan, ibu melihat weker hitam antik itu. Ia takjub dengan keindangan weker yang bagai permata di atas pualam. Telunjuknya segera menangkap tulisan timbul di bagian belakang dan tersenyum. Otomatis ia setel weker itu pukul empat pagi agar anaknya bisa bangun tanpa harus digedor-gedor dulu pintu kamarnya.

Malam harinya Dan tidur tanpa rasa curiga. Sebagai pelampiasan waktu yang terbuang saat mengerjakan skripsi, Dan baru tidur setelah menyelesaikan game online hingga pukul tiga dini hari. Wajahnya lelah, tapi puas. Hingga pukul empat dini hari, weker itu berbunyi. Tapi Dan tetap bergeming. Iya hanya menyentuh tombol belakangnya dan menonaktifkan suara weker itu, lalu kembali tidur.


Pukul sebelas siang, Dan membuka mata. Badannya terasa aneh. Langit-langit kamarnya yang berbintang tidak langsung tampak. View pertama kali yang ia lihat justru lemari pakaian yang seharusnya baru bisa ia lihat jika bangun dari dipan. Kasur premiumnya yang empuk juga terlihat rapi. Sesaat kemudian, seorang laki-laki setinggi dirinya masuk ke dalam kamar.

Percaya tidak percaya, Dan ingin mengucek matanya, namun tidak bisa. Tangannya raib. Yang ia punya sekarang hanya lonceng dengan badan pualam hitam. Matanya indah bagai berlian seperti weker yang dihadiahi Angel, kekasihnya. Atau, ia memang menjelma weker? Walau tak punya bulu, Dan merasakan badan pualamnya meremang saat laki-laki yang menyerupainya tersenyum ke arahnya. Mengelus-elus badannya yang mulus dan sempurna.

“Bermimpilah, Dan. Mulai hari ini aku akan menyempurnakan harimu tanpa cacat. Sebaliknya, sebagai kesempurnaanku, panggil aku Wildan.”


Editor: Lufti Avianto

Photo by David von Diemar on Unsplash

1+

One Comment on “Flash Fiction Windystone: Alarm”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *