Di Bawah Langit Jakarta

4+

Sore itu langit Jakarta bersalut awan tebal, kelabu. Gedung-gedung yang berebut tinggi menggapai langit yang biasanya terlihat jelas, seakan hilang ditelan bumi. Jarak pandang dari jendela ruanganku biasanya bisa sampai ujung Timur Jakarta. Daerah Guntur yang hanya berjarak sejengkal dari pandangan pun tidak jelas terlihat, berselimut kabut.

Dingin menembus ruang kerja dengan AC sentral itu, semakin membuat tubuhku bekerja keras menahan gigil. Aku beranjak dari kubikal meninggalkan laptop menyala. Menikmati kopi dalam suasana dingin begini tentu mengasyikkan. Mumpung kerjaan sudah tidak begitu banyak. Yang namanya kerjaan kalau dicari-cari pasti ada saja, tak akan ada habisnya. Bukankah, kerjaan itu usianya seumuran dengan usia manusia?

Jakarta basah habis diguyur hujan. Padahal siangnya panas begitu terik, tak ada tanda-tanda akan turun hujan.

Kantin yang berada di belakang, di area gedung penunjang sepi. Saya memilih duduk di luar saja di pojok tempat favorit. Sambil menunggu pesanan kopi datang, saya buka ponsel. Ada satu pesan masuk. Khamid, nama yang tercantum di layar ponsel. Saya buka pesan itu.

“Uda apa kabar?” sapanya singkat.

“Alhamdulillah,” jawabku tak kalah singkat.

“Ada di Kuningan? Kalau ada, saya merapat,” lanjutnya.

“Ada, mampirlah. Ngopi kita. Saya tunggu, ya Bung”.

Janjian ngopi sore itu nyaris batal. Lantaran hujan. Masa pancaroba, cuaca tak menentu. Sebentar panas, tetiba hujan. Pun sore itu. Alam tak salah, semua akibat ulah manusia juga. Alam hanya merespons apa yang manusia buat.

“Ntar, kalau hujan reda saya kabari,” katanya.

“Hanya hujan, Bung!” balas saya sambil mengirim emoji tangan terkepal.

Saya dan Khamid sudah berteman cukup lama. Saya mengenalnya saat Serikat Buruh yang diorganisiasinya datang memberi dukungan kepada KPK tahun 2012. Sejak saat itu kami saling berkomunikasi dan berdiskusi tentang banyak hal, terutama tentang keresahannya akan kawan-kawan seperjuangannya. Buruh.

Penerima Beasiswa Munir Said Thalib Schoolarship dari Sekolah Tinggi Hukum Jentera ini bernama lengkap Khamid Istakhori. Lelaki pengguncang tembok pabrik itu, selain lincah mengorganisasi gerakan buruh, juga piawai menulis. Suatu ketika dia mengirim pesan pendek via WA meminta saya membaca tulisan-tulisannya. Mau dijadikan buku katanya, lalu saya juga diminta untuk menuliskan testimoni dalam buku itu. Singkat cerita, bukunya terbit dengan judul, “Berlawan! Pengalaman Pengorganisasian Serikat Buruh Kerakyatan Indonesia.”

“Dahsyat!” batin saya.

Sebagaimana halnya lika-liku kisah perburuhan, apa yang ditulis Khamid tak jauh dari isu pemecatan (PHK), upah, perjuangan buruh bersama serikatnya, konflik dengan manajemen, dan dinamika politik perburuhan itu sendiri. Saya merasa beruntung mengenal konco satu ini. Banyak pelajaran yang saya petik.

Sekitar pukul empat sore, selepas Ashar Khamid datang. Saya pesan kopi tanpa gula, Khamid memesan teh manis hangat. Ya begitulah kehidupan tak semuanya harus sama. Pahitnya kopi dan manisnya teh jika dinikmati bersama, seru juga. Setelah saling bertanya kabar ini-itu dan kami juga saling bercerita tentang pergerakan buruh di masa pandemi ini, termasuk soal pegawai KPK yang akan menjadi ASN. Lalu kutunjuk kaos yang Khamid pakai. Kaos hitam bergambar wajah Bapak Republik yang mati dibunuh bangsanya sendiri.

Ingat, Tan pernah bilang, “Air berkumpul dengan air, minyak berkumpul dengan minyak. Setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya.”
Obrolan kami melantur ke mana-mana. Menembus ruang dan waktu, kadang mampir memanjati dinding istana. Kami tertawa bersama, kadang terdiam bersamaan. Badan dan kepala mulai panas, mengingat banyak hal yang tak beres di negeri ini. Aku teringat kemeja Wadah Pegawai KPK yang kupunya. Aku juga teringat seragam Korpri almarhum Bapakku. ASN.

“Saat ini, KPK merupakan simbol penting gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia melalui upaya penindakan dan pencegahan, ketika lembaga penegak hukum lain mandul. Upaya pelemahan KPK terus terjadi dan dipertontonkan secara terbuka oleh Pemerintah, partai politik, dan berbagai kalangan. Contoh paling nyata adalah adanya revisi UU KPK dan perubahan status pegawai KPK menjadi ASN yang berpotensi mengamputasi independensi mereka. Komisioner KPK hanya bertahan di sana untuk masa jabatan empat tahun sehingga gerakan antikorupsi yang dimotori KPK sejatinya sangat tergantung dengan kesatuan gerak pegawai KPK dan masyarakat sipil. Untuk itulah menjadi sangat penting agar KPK menjadi satu kesatuan dengan gerakan masyarakat sipil dan gerakan massa untuk memenangkan isu melawan korupsi,” sobat saya itu mulai berapi-api.

“Tinggal kasih toa nih,” seloroh saya.

“Padahal tinggal KPK harapan bangsa ini, Bung. Nasib kami sebagai buruh kecil sejak dulu dihantam pagebluk. Wabah kemiskinan,” kata sobatku itu sambil tertawa. Namun, bagiku kata-katanya itu seperti mendapat serangan mendadak Covid-19 yang membuat dada saya sesak. Kuhabiskan kopi hitam. Pahit kopi semakin terasa pahit.

Langit mulai gelap, adzan yang berkumandang dari toa mushala belakang Gang Gembira mengingatkan masuknya waktu magrib. Kuajak Khamid beranjak dari kantin. Tapi, Khamid malah pamit pulang, mau shalat di kosan saja katanya. Setelah salaman, sambil jalan kuperhatikan Khamid berjalan menyusuri koridor samping Gedung Merah Putih. Di kejauhan umbul-umbul Merah Putih bertulisan Dirgahayu 75 tahun Kemerdekaan RI- Indonesia Maju melambai-lambai ditiup angin.

Tak penting lagi aku KPK atau bukan, apa yang disampaikan Khamid terus terngiang di kepala.

Ah, Sudahlah Nang!

Jakarta, menjelang 75 tahun Indonesia Merdeka.


Editor: Lufti Avianto

Photo by David East on Unsplash

4+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *