Cerpen Fatimah Jahro: Tangisan Menjelang Magrib

3+

Suara radio tua dan suara hujan memecahkan keheningan. Sesekali suara petir saling bersautan, seakan ada yang ingin disampaikan. Di rumah kontrakan seharga 300 ribu inilah aku dan bapak tinggal. Dengan harga kontrakan segitu sudah dapat dipastikan bahwa rumah yang kami tinggali tidak layak huni.

 “Pak rupanya hujan akan lebih deras lagi,” ucapku pada Bapak memberitahu.

“Ya sudah kamu ambil baskom-baskom di dapur dan letakaan di tempat yang biasanya bocor, agar ketika hujan deras kita tidak kewalahan,” jawab Bapak memerintah.

“Iya Pak, Bapak fokus saja menjahitnya agar cepat selesai dan cepat istirahat,” sahutku. 

Bapak pun diam, mulai fokus akan kerjaanya. Aku langsung bergegas mengerjakan perintah Bapak. setelah itu aku lekas istirahat, agar esok tidak kesiangan untuk berjualan koran di perempatan lampu merah. Ya seperti itulah kerjaanku, Setiap hari menjual koran di lampu merah dari pagi hingga sore untuk mengumpulkan biaya sekolah.

Sebenarnya Bapak tak tega jika aku harus berjualan koran dari pagi hingga sore. Dia hanya ingin aku belajar, agar nanti di sekolah aku sudah bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Tapi, aku tak tega jika hanya bapak yang bekerja seorang diri untuk mengumpulkan biaya sekolahku. Apalagi keinginan untuk aku bisa bersekolah bukan hanya keiginan Bapak seorang, tapi juga merupakan keinginanku.

Selama ini Bapak juga sudah bekerja cukup keras, ia bekerja sebagai tukang jahit keliling dari pagi sampai sore dan terkadang jika ada pakaian pelanggan yang belum selesai dijahit, bapak akan membawanya ke rumah dan mengerjakannya hingga larut malam. 


Lambat-laun keinginan aku dan Bapak begitu kuat, sehingga membuat Bapak bekerja terlalu keras. Setelah Bapak mengerjakan pakaian jahitnya di malam hari, Bapak langsung pergi bekerja sebagai kuli panggul di pasar yang memang buka pada malam hari.

 Setelah kerja keras yang Bapak lakukan, uang untuk sekolah pun terkumpul. Tapi saat itu uang kami hanya cukup untuk biaya pendaftaran. Walaupun begitu aku dan Bapak sangat bersemangat untuk pergi mendaftar. Kata Bapak kami bisa mencari uang lagi untuk membeli seragam sampai aku masuk.


Matahari perlahan mulai menampakkan dirinya. Begitu juga sebagai tanda bahwa aku dan Bapak harus kembali untuk bekerja. Aku dan Bapak segera bangun, dan bergegas untuk bersiap. Padahal ini masih terlalu pagi untuk berjualan koran. Tapi, kata Bapak jika kita mencari uang di siang hari keburu uang kita di patok ayam. Padahal ayam mana yang ingin mematok uang. Toh, ayam lebih suka beras dari pada uang. Tapi, aku hanya anak-anak yang mempunyai satu orang tua yaitu Bapak. Mana mungkin aku tega membantah ucapan Bapak. Bapak pun mulai mengeluarkan sepeda jahitnya, dan aku sudah siap dengan segenggam koran di tangan, serta sebagian koran lainnya kusimpan di dalam tas selempang hijauku. 

Seperti biasa, aku dibonceng Bapak menuju lampu merah tempat biasa berjualan koran. Sesampainya di sana, aku dan Bapak berpisah. Namun, jika matahari sudah tenggelam Bapak akan kembali untuk menjemputku. Kadang, Bapak suka berandai -andai bahwa seharusnya ia mengantar atau menjemputku untuk sekolah. 

Aku pun mulai menawarkan koran-koran di setiap mobil dan motor yang berhenti dengan senyuman yang mengembang. Tak bisa aku tutupi aku begitu bersemangat hari ini.  Karena, besok adalah hari pertama aku masuk sekolah. Tapi hari ini cuaca tidak berpihak kepadaku. Dari siang sampai sore hujan beserta angin tidak juga reda. Ini membuat aku gelisah dengan keadaan Bapak. Ke mana ia keliling jika hujan terus menerus turun seperti ini. Matahari perlahan mulai tenggelam. Sudah Maghrib rupanya.  Namun, bapak masih belum terlihat. biasanya bapak sudah tiba menjemputku.

“Rahman!” Terdengar suara teriakan memanggil dari kejauhan.

“Ahh akhirnya bapak datang juga,” bisiku sendiri. 

Bapak mulai mengayuh sepedanya, membelah hujan untuk menghampiriku. Namun, tanpa Bapak ketahui bajaj melaju kencang ke arah Bapak. Aku pun lekas berlari ke arah Bapak, dan berteriak sekencang mungkin, berharap Bapak mendengar dan segera minggir dan berhenti. Namun, suaraku dikalahkan suara hujan.

 “Brakkkkkkkkkk!” terdengar suara bajaj menabrak sepeda jahit bapak.

 Suara itu mengagetkanku, membuat dadaku sesak. Waktu seakan berhenti sejenak. Pemandangan macam apa ini? Batinku tak bisa menerima saat melihat sepeda jahit Bapak terpelanting, dan Bapak yang terkapar di tengah jalan, dengan pewarna merah yang mengalir di kepala Bapak.

Tunggu, itu bukan pewarna, itu darah segar milik Bapak. Aku pun segera sadar dan berlari ke arah Bapak. Astagaaa! Kenapa begini ya Tuhan? Kuletakkan kepala Bapak di pangkuanku.

“Pak!  Bapak!” berharap Bapak mendengar dan bangun. 

Tangisku pecah saat  Bapak tak kunjung sadar.

“Tolong! Tolong!” pintaku pada semua orang. 

Perlahan, ada mobil mewah yang berhenti di depan aku dan Bapak. Seorang pria turun dari mobil dan menghampiriku. Dia langsung menggendong Bapak dan membaringkannya  di dalam mobil.

“Ayo Dek, kamu masuk ke mobil saya, akan saya antarkan ke rumah sakit,” serunya.

Akupun mengikutinya masuk. Di dalam mobil aku terus menangis melihat kondisi Bapak yang memprihatinkan. Rasa khawatir dan takut  terus menggerogoti pikiranku.

Sesampainya di rumah sakit akupun langsung keluar dari mobil dan meminta tolong kepada semua orang di rumah sakit.  Suster pun segera mengambil bangsal yang ada di rumah sakit dan membawanya menghampiriku. Dibaringkannya tubuh Bapak di atas bangsal, dan segera diantar ke ruang UGD itu. Saat aku ingin ikut masuk ke ruangan itu, seorang suster tua yang menghalangiku. 

“Adek tunggu sini saja ya.” 

Belum sempat aku menjawab, pintu UGD itu sudah tertutup. Rasa khawatir terus menyerangku. Tangisku pun tak kunjung bisa kuhentikan. Akupun terduduk di kursi ruangan UGD ini. Pikiranku masih terbayang akan Bapak, aku sangat takut dengan keadaan Bapak. Tak bisa ku bayangkan jika aku hidup tanpa Bapak.

Ya Tuhan!  tolong Bapak, aku berdoa. Sudah hampir setengah jam Bapak di dalam, dan dokter tak kunjung keluar dari ruangan itu untuk memberi kabar kepadaku bagaimana keadaan Bapak. Ingin rasanya aku menerobos masuk ke dalam melihat bapak. 

Saat aku mengarah ke pintu itu untuk masuk, tiba-tiba Pintu UGD itu terbuka. Terlihat pria tua ikut keluar dengan mengenakan jas putih yang sedikit ternodai bercak darah.

“Bagaimana keadaan Bapak saya Dokter?” aku menodong pertanyaan lebih dulu. 

“Maaf Adek, saya sudah mencoba berbagai cara, tapi Tuhan lebih sayang kepada Bapakmu,” jawab Dokter itu. 

“Maksud Dokter?” aku tak mengerti. 

“Bapakmu sudah dipanggil Tuhan Dek.” jawabnya.

Seketika aku terdiam tak bisa menerima. Seperti dihantam ribuan benda tajam. Itulah yang aku rasakan pertama kali saat mendengarnya. Otakku seakan berhenti bekerja karena tak mampu menerima kabar itu.

Aku langsung berlari masuk ke ruangan itu menghampiri Bapak. Di dalam aku melihat suster tua yang sedang membereskan alat-alat. Ia langsung  menatapku saat aku masuk. Terlihat jelas tatapan sendunya. Aku pun langsung mengarahkan pandanganku ke bangsal tua di samping suster itu. Kulihat tubuh yang sudah tertutup kain putih dari kaki sampai kepala. Kudekati tubuh itu tanpa berkata apa-apa. Kutarik napas dan berharap tubuh itu bukan tubuh Bapak. 

Kubuka kain putih itu untuk melihat wajahnya. Kulihat wajah lelaki tua tertidur, itu wajah Bapakku. Terlihat tenang raut wajahnya dengan sedikit senyuman di bibirnya.

“Pak!” kupanggil namanya sambil kutepuk pundaknya berharap ia bangun.

“Pak! Bapak!” masih terus kupanggil disertai guncangan di pundaknya.

Lagi-lagi kupanggil nama Bapak sambil teriak dan masih berharap ia akan segera bangun. Namun Bapak masih terdiam. Aku masih terus berusaha untuk membangunkannya. Aku goyangkan tubuhnya sekencang-kencangnya serta meneriakinya agar ia bangun.  Aku tak peduli Bapak sakit saat aku goyangkan begitu kencang seperti ini. Aku hanya ingin Bapak bangun.

Suster tua itu langsung menghampiriku dan memelukku. Ia mencoba menenangkanku. Kudorong suster itu agar ia menjauhiku. Aku masih menggoyangkan tubuh Bapak dan memanggil-manggil namanya. Tubuhku lemas, kakiku tak kuat lagi menopang tubuhku, aku pun terjatuh di lantai. Pikiranku sangat tak karuan. Aku hanya terdiam dan meringkuk di lantai. 


Selama proses pemakaman Bapak, aku hanya tetap terdiam. Masih ada yang mengganjal di dadaku.

Sekarang aku berada di kamar Bapak. Kuarahkan pandanganku ke sekeliling kamar. Terasa kosong. Pandanganku terhenti pada celengan ayam yang bertuliskan UANG SEKOLAH DAN SERAGAM RAHMAN. Kuambil celengan itu, sudah sangat berat rupanya. Apa Bapak begitu keras bekerja sampai bisa mengumpulkan uang sebanyak ini? Akupun teringat bahwa besok adalah hari pertama aku masuk sekolah. Aku terdiam sejenak, seharusnya hari ini, aku memecahkan celengan ini bersama-sama Bapak. Dan pergi ke pasar untuk membeli seragam sekolahku. Karena Bapak sudah tidak ada, aku pun menyiapkannya seorang diri.

Hari pertama aku masuk sekolahpun tiba. Aku sudah rapi dengan seragam baru yang kemarin aku beli dengan uang Bapak. Aku pun segera berangkat. Sebenarnya sebelum aku ke sekolah aku ingin ke kuburan Bapak dahulu. Tapi sekolah dan kuburan Bapak terlalu jauh. Aku yakin Bapak tak ingin aku terlambat di hari pertama aku sekolah. Di Sekolah aku disambut dengan teman-teman baru yang begitu ramah. Guru-guru pun begitu baik memperhatikanku. 

Sepulang sekolah akupun menyinggahi kuburan Bapak. Telihat tanah yang masih basah dan batu nisan bertuliskan nama Bapak. Akupun tersenyum di samping kuburan Bapak.

“Bagaimana Pak? Apa aku tampan memakai seragam sekolah ini?” di tepi kuburan itu aku bersimpuh, membelai dan menciumi nisan bapak dengan perasaan haru. Lalu mengalirlah cerita tentang hari pertamaku sekolah.

Aku tahu, dari atas sana, Bapak menyimak ceritaku.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Darya Tryfanava on Unsplash

3+

One Comment on “Cerpen Fatimah Jahro: Tangisan Menjelang Magrib”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *