Jek!

1+

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” ― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

USIANYA sekitar 20-an tahun, bersandal jepit dengan membawa poster di tangan. Saat saya tanya namanya, dia jawab malu-malu, “Jek, Bang.”

Jek tidak sendiri, ia datang bersama kawan-kawannya. Ada juga ibu-ibu dan anak-anak yang ikut. Mereka diantar dengan Bus Kopaja. Ada sekitar lima bus yang mengantar rombongan Jek. Mereka datang dari berbagai kantung kemiskinan ibu kota. Jek dan kawannya dari Cakung, kebetulan ada yang nawarin ikut demo.

“Lumayan Bang, dapat tiga puluh lima ribu untuk makan sehari-hari,” katanya sambil nyengir.

Saat saya tanya demo apa, ”Nggak tahu, kita mah ikutan aja.”

Saya coba konfimasi ke beberapa orang, termasuk ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya. Jawabannya relatif sama, tidak tahu mereka demo tentang apa dan yang pasti mereka dibayar untuk itu.

“Nggak tahu, nggak tahu,” kata seorang ibu yang sedang berteduh di bawah tangga jembatan penyebrangan sambil menjauh menghindari saya.

Kisah di atas, tentu sudah biasa kita lihat. Hampir setiap kali ada aksi mendukung KPK, selalu muncul aksi tandingan yang menentangnya. Dan kita hafal betul, aksi-aksi tersebut berdurasi sekitar satu jam saja. Orator asyik dengan megaphone-nya, sedangkan peserta aksi berteduh di balik poster-poster yang mereka bawa. Setiap akhir aksi, mereka membakar ban, lalu berlalu meninggalkan asap hitam.

Saya membayangkan, nasib rakyat keci itul sehitam asap ban yang hangus terbakar. Asa mengirap seperti asap yang mengepul ke langit, bergulung-gulung mentertawakan hidup yang pelik. Sementara, broker demo yang -entah dibiayai oleh siapa- berkipas-kipas dengan lembar-lembar rupiah. Semakin chaos, semakin tebal kantong mereka.

Para pendemo yang rata-rata tidak tahu tujuan demo, juga tidak peduli dengan semua itu. Yang penting dengan 30-50 ribu rupiah di tangan, paling tidak bisa untuk menyambung hidup mereka sehari ke depan.

Lalu, saya ingat kawan-kawan saya dari Koalisi Masyarakat Sipil. Setiap KPK dirundung masalah, mereka dengan sigap mengawal KPK. Karena, masyarakatlah Guardians KPK sesungguhnya. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian besar dari mereka sudah saya kenal sejak saya bergabung dengan KPK. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka adalah kawan-kawan aktivis era reformasi yang tetap konsisten berjuang membela keadilan, hak asasi manusia (HAM), termasuk gerakan antikorupsi.

KPK adalah ‘anak kandung’ reformasi. Sebagai lembaga antirasuah, KPK harus kuat dan independen. Mereka membela dan mendukung KPK.

Apakah mereka di bayar? Tentu tidak.

Banyak tuduhan jahat yang kawan-kawan kita terima karena konsisten mengawal KPK. Tidak sedikit juga yang kemudian harus berhadapan dengan hukum, karena diadukan oleh orang-orang yang tidak jelas rekam jejak dan asal usulnya.

Apakah mereka surut langkah? Tentu tidak.

Begitu banyak orang baik di negeri ini yang dengan sukarela akan turun tangan membela KPK. Misalnya, Mantan Ketua PP. Muhammadiyah Buya Syafi’i Maarif, Ibu Negara, istri Alm. Gusdur Ibu Shinta Nuriyah, Romo Frans Magnis Suseno, Ketua PBNU KH, Said Aqil Siradj, para akademisi dan guru-guru besar dari berbagai kampus negeri ini, serentak tanpa pamrih turun gunung membela dan mendukung KPK.

Apakah mereka adalah tokoh-tokoh dan guru bangsa yang dapat dengan mudah dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu? Apalagi oleh ‘anak kemarin sore’, yang tergabung dalam Wadah Pegawai (WP) KPK yang dituduh turut berpolitik dan menguasai KPK. Apakah para tokoh tersebut tidak bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi sesungguhnya? Mereka semua besar dari berbagai kemelut bangsa, rekam jejak mereka jelas: Problem Solver. Mereka adalah negarawan yang berpikir melebihi apa yang terjadi. Mereka bukan trouble maker yang bisanya hanya mencari ‘kambing hitam’. Mereka turun gunung, karena melihat, mendengar, dan tentu merasakan dengan mata hati mereka yang jernih. Bukan, karena dibayar apalagi dihasut oleh ‘anak-anak kemarin sore’ seperti WP itu.

Mereka mengerti dan memahami dengan saksama, apa yang diperjuangkan oleh anak-anak muda WP itu. Mereka tulus mendatangi dan mendukung KPK. Mereka tidak melihat orang per orang yang ada di KPK, mereka melihat bahwa, KPK sebagai lembaga masih dibutuhkan oleh bangsa ini. Seperti kata Buya pada Tribunnews, Kamis, 29 Agustus 2019, menurutnya, sosok yang tepat menjadi Pimpinan KPK adalah ia yang mempunyai integritas, independen, berani, dan petarung, apapun latar belakangnya tak masalah. Itu saja.

Lalu bagaimana dengan kita?

Hari ini, esok, dan mungkin masa-masa yang akan datang, kemelut dan drama kehidupan seperti ini mungkin akan terus terjadi. Alhamdulillah, baru saja, rekening kita kembali terisi, otomatis- begitu setiap bulannya. Tidak sedikit, juga tidak besar, bagi sebagian orang: itu relatif. Sementara di luar sana, masyarakat yang peduli terhadap kita berjuang dengan segala cara membela KPK, tanpa pamrih.

Apakah akan kita biarkan mereka berjuang sendiri? Padahal yang mereka perjuangkan adalah kita, agar dapur kita tetap mengepul, anak-anak kita bisa mendapatkan gizi terbaik, sekolah di tempat favorit dengan diantar mobil terbaik, dan tinggal di rumah-rumah yang tidak reot.

Sebentar lagi, ya sebentar lagi, tidak lama lagi akan ada banyak peristiwa mengejutkan. Tapi satu hal, di atas langit ada langit. Ada Allah Maha Penentu segalanya. Dan kita harus yakin, bahwa setiap yang datang dari Allah Swt. pasti baik untuk kita. Kita hanya perlu berikhtiar dan berjuang sungguh-sungguh.

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” ― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.


Photo by Guillaume Issaly on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *