Indonesia Sudah Merdeka, Tapi Bohong?

6+

Oleh: Prima Sari

Sudah berapa lama Indonesia merdeka, Saudara-Saudara? Bukankah sekitar 75 tahun silam, sejak 17 Agustus 1945. Namun makna Indonesia merdeka ini tidak serta merta bisa dirasakan seluruh penduduk Negara Indonesia. Hingga tak sedikit yang merasa bahkan bergumam: “Merdeka tapi bohong”.

Setujukah kalian bahwa kita ini belum benar-benar merdeka?

Hem, tentu bukan hal mudah merebut kekuasaan dan memerdekakan negeri ini. Gugurnya banyak jiwa jadi bukti nyata ketidakmudahan hengkang dari masa penjajahan menuju masa kemerdekaan. Dalam keadaan sebenarnya belum siap untuk mempersatukan seluruh daerah, keberanian para pendiri bangsa perlu kita acungi jempol sehingga kita saat ini benar-benar merdeka. Merdeka untuk menikmati sumber daya alam kita sendiri, merdeka untuk membangun dan mengatur negeri kita sendiri, merdeka untuk bebas memilih menentukan cara menikmati hidup ini. Benar-benar sebuah kebebasan yang nyata.

Lantas hal ini yang mulai melenakan tak sedikit penduduk Indonesia. Hingga tiba saatnya, untuk kesekian kalinya, negeri ini menghadapi cobaan, wabah-covid-19. Masih saja dampaknya lebih kuat daripada ketahanan kita dalam bersama-sama menghadapi. Suguhan kabar yang tak enak didengar, membuat miris dan mengiris hati nurani. Sebut saja diantaranya, pemberitaan terkait pendidikan sistem daring selama covid-19. Ayah di Bandar Lampung maupun di Garut, Jawa Barat, memilih jalan kriminal untuk memenuhi kebutuhan buah hatinya agar tak ketinggalan pelajaran. Seorang anak didik yang mengorbankan waktu bermainnya untuk beberapa rupiah guna bisa membeli kuota serta anak didik yang mengorbankan nyawa demi mencari sinyal, sepatutnya jadi muhasabah di badan pendidikan negeri kita ini. Tentunya muhasabah kita sendiri sebagai manusia yang dalam dirinya jadi bagian negeri ini.

Merdeka belajar yang telah digaungkan pemerintah pun jadi kabar menarik sekaligus pengundang kritik pedas netizen +62 yang pesimis atau sebenarnya lebih realistis lantaran perubahan sistem pendidikan di negeri ini bukan lagi jadi hal pertama dan bukan satu-satunya. Pernah. Hasilnya? Ketidaksiapan menuntut penyesuaian pemerintahan agar lebih berpihak pada kondisi penduduk Indonesia kebanyakan. Tidakkah ini lucu tapi sekaligus prihatin? Lucu karena kita yang berjiwa merdeka justru dikalahkan kondisi, prihatin sebab adanya kenyataan ketidaksiapan memang bisa ditemukan di sana sini.

Makna kemerdekaan sejatinya bukankah identik dengan pendidikan. Indonesia merdeka karena ada orang-orang berpendidikan yang berani membuat keputusan besar. Dengan segala konsekuensi yang dipikul dan dipenuhi sehingga kita sebagai generasi penerus dapat menikmati kemerdekaan dan aneka warisan penyertanya. Sebut saja diantaranya lambang negara kita, garuda Pancasila lengkap dengan petikan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang jadi semboyan pemersatu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Pancasila dan UUD 1945, dasar negara yang jadi kiblat hukum di negeri ini. Nilai demokrasi, nilai keadilan sosial, semuanya jadi hal menarik untuk ditelaah, dijiwai bahkan mungkin dikembangkan untuk membuka kemungkinan-kemungkinan adanya warisan yang tak kalah indahnya untuk generasi selanjutnya.

Bak koin yang punya dua sisi, kemerdekaan juga memberi kita PR (pekerjaan rumah) besar. Yakni mengisi dan mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Pekerjaan rumah bersama ini tentu saja tidak bisa diselesaikan dalam kurun waktu yang sebentar, mengingat bentuk geografis negara kesatuan ini. Semakin menantang dan memerlukan kerjasama tak hanya satu badan, tak mungkin cukup satu individu.

Pendidikan sebagai hal yang dominan dapat mengubah pola pikir masyarakat, cikal bakal bentuk budaya masyarakat Indonesia. Sudah seyogyanya mendapat perhatian besar kita sebagai seorang individu yang telah diberi kebebasan dan dilindungi haknya sebagai warga negara. Pemerintah sebagai penyelenggara memang wajib mengukur kebijakan-kebijakannya memelihara kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab. Namun, bukankah kita yang justru berperan besar menentukan sebaik apa pendidikan yang ingin kita nikmati. Dalam rangka mewujudkan kebaikan hidup kita dan keluarga nantinya sebagai penduduk yang mendiami negeri ini.

”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-Alaq ayat 1)

Agama sebagai nasihat terbaik pun menjadi petunjuk terang bahwa kita semua diwajibkan belajar (membaca petunjuk). Sehingga merdeka tak hanya negara yang diakui kedaulatannya oleh dunia, tapi juga merdeka secara jiwa (ruhaniah). Dengan demikian artinya semakin ingin merdeka semakin suka berbuat (terus belajar dan berusaha). Mengambil peran tepat mengisi kemerdekaan negara dan turut mempertahankan dengan sumbangsih terbaik untuk negara. Setidaknya pada keluarga sebagai koloni terkecil pembentuk negara.

 Salah satu contoh nyata di sekitar kita adalah seorang Ustadz bernama Bobby Herwibowo. Perhatiannya pada anak didik melahirkan karya pembelajaran yang unik dan berbeda-beda. Alat pembelajaran dibuat sesuai kebutuhan tipe pembelajar anak didik. Metode menghafal melalui komik untuk anak didik dengan tipe belajar cenderung visualisasi─misalnya.

Jadi masihkah merdekanya Indonesia itu halu belaka? Tentu itu tidak benar. Sama sekali tidak karena masih ada kita yang saling mengingatkan untuk terus berbuat (mengisi dan mempertahankan kemerdekaan). Bebas caranya sesuai pilihan masing-masing. Seberapa lama lagi merdeka, tergantung kita kembali. Salam literasi untuk Hari Kemerdekaan Indonesia ke-75.

Panjat pinang itu lain daripada lain
Termodifikasi memenuhi tuntutan jaman
Pinangnya berbentuk waktu
Panjat memanjatnya?
Transparan
Tak terlihat untuk jadi riuh
Tapi tetap saja ia butuh
Kamu dan aku

Panjat Pinang 2020
Semakin tenang dan fokus
Semakin elegan dan menawan
Hadiah indah memang tak melulu barang baru


Photo by Ali Yahya on Unsplash

6+

2 Comments on “Indonesia Sudah Merdeka, Tapi Bohong?”

  1. Indonesia adalah orang tua yang harus dijaga sepanjang masa, teruntuk penulis terimakasih telah membuka wawasan saya terhadap negara NKRI semoga kedepanya semakin luar biasa. Semangat untuk kita semua

    0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *