Sajak Lisvy Nael: Merdeka untuk yang Tercinta

4+

Mekarnya Puspa Svarga

Tentang taman dan bunga-bunga

Kepalaku laksana taman bermekaran bunga

Aromanya cukup memabukkan bak puspa swarga

Kepalaku laksana taman bermekaran bunga

Menarik kumbang dan lebah untuk singgah

Hinggap, bermesra, dan menyesap sarinya

Kepalaku laksana taman bermekaran bunga

Warni warnanya memesona

Memikat penikmat seni paling gila

Berdecaklah ia, memindahkan rona di atas kanvasnya

Kepalaku memang laksanan taman bermekaran bunga

Tapi di musim penghujan, hanya raflesia bertumbuh dengan suburnya

Menyimpan busuk dan berbangga atasnya

Mengelabui manusia dengan pikiran luar biasa

Membuat mereka abai betapa racunku menewaskan siapa-siapa

Kepalaku memang laksana taman dengan bunga bermekaran

Bersemi dari tangkai-tangkai perjalanan

Atau kisah-kisah yang kudengarkan:

Dari bisikan pasir bromo hingga sahara dan gobin,

Tiupan lembut udara di Mediterania hingga deru dari Palestina

Maupun janji-janji nyaring pengisi kemerdekaan di parlemen

Kepalaku memang laksana taman bunga dengan duri-durinya

Indah dan berbahaya, sebagaimana yang kulihat pada wajahnya

Yang berpura teriakkan merdeka, merongrong sejatinya

Berselingkuh dari keadilan, takluk pada rayuan kekuasaan

Mengangsur kepentingan, menimbun kekayaan

Mengabaikan keadaan, memacu ketamakan

Berpaling dari

Sirampog, 9 Agstus 2020


Kuteriak Merdeka!

Di bawah ini adalah mantra untuk mengingatkan cara mengeja percaya

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Negeri kita telah 75 tahun menyanyikan Indonesia raya

Dengan bangga, dengan suka cita

Merdeka! Merdeka! merdeka

Tapi ini juga tamparan buat kita semua

Benarkan kita merdeka?

Penjajah dari negeri tetangga memang sudah minggat

Tetapi saudara kita sesama berpeci masih menjerat

Mengikat dengan erat

Belum usai soal ini itu

Muncul lagi pandemi *su

Semua jadi serba bukan begitu

Tetapi tidak ada yang benar begini

Sekali lagi kuteriak Merdeka!

Apakah benar kita sudah merdeka?

Barangkali ini cuma neraka

Lapis ke empat setelah jatuh dari lapis tiga

keresahan kian merata, iming-iming prakerja memesona

Masih mending hilang pekerjaan dari pada semangat hidupnya

Memaksa menjadi terbiasa

Kewalahan karena ternyata tidak biasa

Ujung-ujungnya, kita sabar saja!

Pemerintah lelah, rakyat kalah

Belajar makin susah, semua jadi payah

Hati gundah hendak sumarah

Aku ingin teriak merdeka!

Semoga kita bangkit segera!

Sirampog, 10 Agustus 2020


Indonesiaku Tercinta

Indahkan negeriku, Indonesia yang kucintai

Negara berdaulat, bertumpah darah demi kemerdekaan

Dimenangkan dengan besarnya pengorbanan dan bulatnya tekad

Opresi bukanlah cara kami mengisi kemerdekaan, Jo!

Namun, belakangan penguasa dan pengusaha berkawin menyeramkan

Egoisme atas nama kemajuan bersama, haha, justru mereka buat hajat rakyat hanya sepele

Sediakan kesedihan yang cukup, tapi baiknya lebih banyak keteguhan karena ia asas

Indahkan negeriku, Indonesia yang gemilang harumi hati

Abadi ia kubela sekali dan seribu kali sampaipun mati, selamanya

Kuatlah berdiri membela harkat negeri, lantang berteriak atas nama hak

Untuk yang mendahului, atau masa depan esok anak cucu

Tetaplah kuat

Engkau yang terkece,

Rapat dewan bikin geger

Cipta kerajaan kapitalis serba gercep

Ingkar pada suara Tuhan, suara nurani

Ngeri, tak pandang jutaan manusia terancam disengsarakan

Takutlah bila rakyat berpaling, dengan keras kalian diseret

Aktualisasikanlah cita-cita mulia pendiri bangsa, bukan mencorengnya hina

Plompong, 10 Agustus 2020

Senja di Negeriku

Delima dipucuk senja tak hirau camar yang bernyanyi hendak pulang

Ombak sedemikian kuat memberi riak-riak memuja Tuhan

Matahari telah terbelah menjadi dua

Yang satu kini hilang ditelan segara

Keindahan itu mengantarkan kita akan kegelapan

Bangsa ini pernah begitu sangat indah

Kemudian dihancurkan penjajah

Lalu bangkit geloralah gairah memerdekakan

namun dikubur lagi oleh penjajah yang bukan berbendera negara

Kelopak mawar yang runtuh dari kuntumnya

Telah pertanda rentannya usia, kini senja tiba

Mengantarkan kita pada masa gelapnya nasib bangsa

Entahlah, kenapa gulita malam ini begitu amat lamat terasa?

Kapankah engkau fajar kan menyingsing?

Semoga esok pagi engkau rekah, memberi pengharapan pada hati-hati gelisah

Malam ini begitu gerah

Masalah satu ditumpuk berkali, berlipat

Bencana Tuhan dan malapetaka ciptaan manusia

Saling tersenyum menguji iman dan kewarasan

Apakah bertahan atau saling menyalahkan

Malam benar-benar telah sempurna

Ia menjarah negeriku dalam pekatnya gulita

Memerkosa negeriku menjadikanya hilang martabat,

Merampoknya menjadi tak berharta,

Memojokanya hingga merasa hilang asa

Merampas kemerdekaanya, merampas aksara dipapan-papan pelanjut negara

Perut-perut penguasa menggendut

Gedung-gedung indah sarang curut

Benarkah negeri ini akan bangkrut?

Malam cepatlah berlalu dan bawa gelap ini bersama beranjaknya dirimu

Kabarkan pada fajar bahwa kami menunggunya menyingsingkan harapan

Malang, 10 Mei 2012


Photo by Nick Agus Arya on Unsplash

4+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *