Cita-cita Kemerdekaan Ingki

+4

Barangkali tak banyak yang tahu bagaimana proses pembuatan dan penyusunan tema kemerdekaan RI setiap tahunnya. Sejak 15 Januari 2020, Kementerian Sekretariat Negara RI meluncurkan tema dan logo peringatan hari ulang tahun (HUT-RI) ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2020 dengan tema besar: Indonesia Maju.

Tema Besar ini diharapkan menjadi representasi dari Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Belakangan, Kementerian Sekretariat Negara mengeluarkan Surat Edaran Menteri Sekretaris Negara tentang Penyempurnaan Penggunaan Tema dan Logo Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-75 Kemerdekaan Republik lndonesia Tahun 2020 tentang penambahan logo “Bangga Buatan Indonesia” untuk digunakan sebagai satu kesatuan dengan logo Peringatan HUT Ke-75 Kemerdekaan Rl Tahun 2020.

Sejak wabah Covid-19 menyerang, kita nyaris mati gaya. Sebab, kita hanya bisa di suruh #DiRumahAja tanpa tahu kapan wabah ini akan berakhir. Jadilah kita dan anak-anak kita manusia-manusia daring.

Entah ada hubungannya atau tidak, wabah korona mempercepat revolusi Industri 4.0. Betapa tidak, hampir sejak bangun dari tidur kita sudah terhubung dengan berbagai daring, ntah itu untuk keperluan belajar anak, rapat-rapat kerja, atau pembelian kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Dampak lainnya terjadi peningkatan otomatisasi berbagai layanan, komunikasi machine-to-machine, komunikasi human-to-machine, yang tentu berimbas juga kepada pengeluaran yang signifikan untuk biaya internet. Satu hal lagi yang harus dipersiapkan untuk menyongsong Revolusi Industri 4.0 adalah mentalitas manusianya.

Tujuh hari menjelang Peringatan HUT RI ke-75, gayung bersambut. Seorang kawan tiba-tiba menghubungi saya melalui pesan WA. Lalu kami saling bertukar kabar.

Ingki, begitu panggilannya mengajak saya bergabung dalam inisiatif pendidikan. “Wah, menarik,” tanpa pikir panjang saya langsung menyatakan siap.

“Jadi gerakan ini, dalam jangka panjang, diniatkan untuak mengadvokasi kebijakan pendidikan menjadi praktik tata kelola multipihak. Tak hanya pemerintah, tapi juga ada masyarakat sipil, korporasi, dan siapa pun yang ingin berkontribusi di dalmanya.

Oh, ya Da, itu salah satu poin diskusi bersama kawan-kawan tentang gerakan Sekolah (Milik) Publik. Hal penting yang disepakati tatkala menjelaskan ihwal gerakan ini adalah berangkat dari sisi kebutuhan dan menggali kesepakatan tentang keterlibatan publik di sekolah. Jika ada pihak-pihak yang mau melakukan gerakan ini tanpa harus bergabung dengan Sekolah (Milik) Publik, itu merupakan hal yang baik. Jika ada pihak-pihak yang merasa perlu bergabung dengan Sekolah (Milik) Publik untuk bersama-sama mewujudkan keterlibatan publik di dalam sekolah, itu juga baik,” jelas Ingki.

Saya membayangkan, jika para milineal yang dipekerjakan istana bisa berpikir seperti Ingki tentu banyak anggaran negara yang bisa dihemat. Para pemuda dan kalangan pra kerja bisa menjadi bagian dari gerakan ini. Pendidikan bukan untuk menjadi pintar saja tapi bisa membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak yang terlibat.

INDONESIA MAJU, bisa diwujudkan bersama tanpa harus membebani rakyat.

Ingki dan kawan-kawan telah memulai, karena ruang guru sesungguhnya adalah mengembalikan haknya kepada publik. Sekolah (Milik) Publik ini tak perlu mengiklankan diri di seluruh televisi nasional, karena pasti biayanya sangat mahal.

“Pada intinya ‘bendera’ Sekolah (Milik) Publik tidaklah penting dan tidak menjadi tujuan. Tujuannya adalah, keterlibatan publik yang meluas di setiap sekolah. Mirip dengan gerakan meraih kemerdekaan, seseorang tidak harus bergabung dengan laskar tertentu untuk bisa berkontribusi dalam mencapai kemerdekaan. Bahkan, bisa saja dilakukan sendiri-sendiri. Paling penting adalah semangatnya untuk mewujudkan kemerdekaan. Memastikan ada keterlibatan publik di sekolah,” jelas Ingki menutup pesannya.

Saya termangu, betapa di era media sosial ini dimana orang-orang berlomba-lomba mencari peluang mendekati kekuasaan untuk meraup rupiah. Tak peduli apa yang mereka dapatkan itu berasal dari keringat dan darah rakyat. Mereka para pendengung yang entah siapa, lebih banyak membuat kegaduhan daripada kontribusi untuk Negara. Alih-alih mewujudkan Indonesia maju, yang ada kepribadian bangsa Indonesia yang terkenal ramah, sopan, dan penuh kesantunan itu berubah menjadi a sosial, dan penuh pertikaian. Perbedaan itu Indah, hanya menjadi jargon saja.

Ingki, satu dari sekian banyak pemuda Indonesia yang masih peduli akan kemajuan bangsa ini.

Pemuda kelahiran Jakarta ini bahkan rela meninggalkan pekerjaan yang banyak memberikan pelajaran hidup untuknya sebagai jurnalis di Harian Kompas, sejak Oktober 2003. Berbagai pengalaman dalam tugas jurnalistik membuatnya semakin memaknai hidupnya. Mengalami banyak sekali keajaiban, termasuk melakukan kesalahan dan kebodohan yang tak terhingga, tulisnya di blognya. Ini pula yang menguatkan Ingki untuk terus berupaya memperbaiki kesalahan dan kebodohan itu dalam kelipatan yang tak terhitung.

Saya kira, Ingki paham betul apa yang katakan Tan Malaka bahwa, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”.

Dan itulah sejatinya reperesentasi dari pengamalan Pancasila.

Depok, 16 Agustus 2020


Editor: Lufti Avianto

Photo by Doug Linstedt on Unsplash

+4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *