Ora Ngapak, Ora Kepenak: Sini Belajar Ngapak!

1+

Oleh: Lisvy Nael

Saat masih kecil, saya ikut tertawa demi melihat Cicik Tegal melawak di teve dengan logat ngapaknya. Lalu, belakangan ada Kartika Putri yang nongol di program lawak di teve swasta yang juga melawak bermodal ngapak. Padahal, Karput, sapaan Kartika Putri, adalah perempuan asal Palembang dan tidak ada keturunan ngapak (sajauh yang saya tau lho ya… ).

Beberapa bulan terakhir juga, ada program di teve swasta yang menampilkan bocah-bocah asal Kebumen dengan guyonan organik berbahasa ngapak. Sebelum ditayangkan di teve, saya sudah akrab dengan akun instagram @sinarendra18 atau @polapikeofficial yang menayangkan potongan-potongan lawakan anak-anak yang sederhana dan ngapakers can relate.

Dari dua komedian di atas, perasaan yang timbul pun berbeda sekali. Saat melihat pelawak di teve, dulu jadi merasa sedikit malu dengan bahasaku. Seolah memang ngapak itu wagu alias malu-maluin. Sedangkan saat nonton Bocah Ngapak, perasaan bangga dan suka dengan bahasa sendiri sudah muncul. Jadi menontonnya benar-benar dengan perasaan suka.

Rentang waktu antara menonton pelawak berlogat ngapak dan anak-anak melucu cukup lama, mungkin belasan tahun. Jadi, dengan tidak membahas proses yang membentuk, kini saya bisa dengan rendah hati mengatakan, saya senang berbahasa ngapak dan bahkan mulai membuat logat dalam berbahasa Indonesia yang juga tak selalu baik dan sempurna.

Katanya, seoarang ahli bahasa dari Belanda, E. M. Uhlencbeck yang punya buku Kajian Morfologi Bahasa Jawa mengelompokkan dialek-dialek di Jawa menjadi tiga, yakni yang digunakan dalam wilayah Jawa bagian Tengah, Jawa wilayah Barat, dan Jawa kawasan Timur. Yogyakarta, Solo, dan Semarang masuk dalam kawasan yang menggunakan dialek bandhek atau Basa Jawa dengan logat O. Sementara yang teramasuk wilayah Barat adalah Kebumen, Banyumas (Banjarnegara, Purwokerto, Purbalingga, Cilacap), Pemalang, wonosobo, Brebes, Slawi, Tegal, Pekalongan, Cirebon, dan Banten Utara. Sedang yang ketiga, adalah dialek yang umumnya berada di wilayah Jawa Timur.

Antara dialek Jawa Timuran dan Jawa Tengah bagian Tengah mungkin sedikit terdengar mirip, yakni dengan penggunaan vokal O untuk huruf-huruf A. Sementara Ngapak tidak membedakannya. Setiap huruf A dalam kata akan tetap dibaca apa adanya, tidak berubah mejadi O.

Basa Ngapak di dalam unggah-ungguh Basa Jawa termasuk dalam kategori ngoko atau informal yang tak jarang dinilai kasar karena bersifat humilific (ngasorake atau merendahkan). Sementara lawannya, bandhek, termasuk ke dalam ngoko alus (ngoko halus), madya (tengah), hingga krama (tinggi).

Perbedaan kedua, pada akhiran kata. Beberapa huruf di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian Tengah akan dimatikan. Misalnya dalam kata katok (celana) dibaca kato’ saja, sementara orang ngapak akan tetap membacanya katok (dengan K diakhir kata dibaca jelas).

Saya jadi ingat, sewaktu kuliah di Malang, seorang teman pernah cerita jika ada temannya yang ngapak datang ke warung. Dia hendak membeli tempe. ““Tuku tempe sanga,”” begitu yang dia ucapkan pada pemilik warung. Ternyata, pesan berisi niatan membeli tempe tidak diterima dengan baik lantaran bingung dengan kata sanga. Di Jawa Timur, sanga dibaca songo sementara kami, wong ngapak, akan tetap membacanya begitu, sanga.

Selama kuliah juga, teman-teman di Jawa Timur selalu menggodaku untuk mengucapkan sepatah dua patah kalimat dalam Basa Ngapak. Saat itu selalu kubilang kalau agak sulit karena tidak punya lawan bicara ngapak. Aku jujur soal itu karena terlalu sering menggunakan Bahasa Indonesia dan bahasa bandhek ala Jawa Timur yang sebenarnya juga dianggap kaku sama teman-teman. Sekalinya bisa mengucapkan satu kalimat ngapak, mereka akan tertawa demi mendengar logatku yang terdengar lucu.

Selain itu, saat seorang kawan menempuh studi masternya di Jogja, dia berjumpa komunitas ngapak pertama kalinya. Setiap kami memiliki percakapan di telepon, dia tidak sekalipun lupa mencoba berbicara dengan logat ngapak yang akhirnya gagal karena dia tertawai sendiri. Entahlah, mungkin terdengar lucu, hehe.

Sebenarnya saya sama sekali tidak marah karena bahasaku ditertawai. Saya mafhum karena memang dialek yang berbeda. Tetapi serius, lihatlah di teve, banyak pelawak menggunakan bahasa daerah untuk jadi ciri kelucuan. Mulai dari bahasa Madura, Batak, Papua, dan Tegal. See!

Saya nggak mau bilang kalau cuma ngapak yang sering jadi bahan guyon. Secara umum bahasa daerah, terutama logatnya, saat berada di kota besar khususnya Jakarta akan terdengar seolah lucu. Tidak pantes gitu. Mudah ditertawai. Itu kesan saya menangkap perilaku banyak orang yang pernah saya temui saat mendengar dialek bahasa daerah.

Sebagai penyuka belajar bahasa meskipun nggak ada yang fasih, saya kerap menirukan logat bahasa daerah asal kawan berbincang. Tujuan saya bukan untuk mempermalukan atau mencari bahan guyon, melainkan karena saya senang dan merasa dekat jika bisa mempraktikkan logat daerah dari mana pun.

Beberapa logat memberikan saya sensasi letupan kesegaran dan keberagaman. Indah. Anehnya, tidak jarang ada teman yang reaksi pertamanya seperti tersinggung. Mereka anggap saya sedang menghina. Ini bukan hal baik buat saya tentu saja, tapi lihat secara garis besarnya juga! Lantaran sudah terbiasa dibikin guyon, sekalinya orang memperlihatkan ketertarikan dengan bahasa daerah, jadi disangka mau bikin lelucon juga. Welah dalah!

Di kalangan penutur ngapak alias wonge dhewek, ada jargon yang sangat dihapal banyak orang di komunitas kami. Bunyinya begini, “”Ora ngapak, ora kepenak!”” Artinya kurang lebih, tentu tidak menyenangkan tidak ngomong ngapak. Sementara semangatnya terasa memudar, lah kok? Iya, jadi sekarang saya lihat fenomena di desa, anak-anak yang orang tuanya merantau atau mereka pernah main ke Jakarta biasanya akan diajak komunikasi dalam bahasa ngapak. Tapi ya mau gimana lagi kalau anak kampung pun manggil nenek dengan panggilan granny dan semua merasa happy karena pencapaian luar biasa menjadi seperti orang luar negeri. Mantap sekali.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Leonardo Toshiro Okubo on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *