Cerpen Qiya Athea: Dead End

2+

Gelap, sunyi, dan mencekam. Tempat yang paling kubenci adalah tempat yang memiliki tiga kriteria itu. Terlebih lagi jika nyawamu ada di ujungnya. Ditambah kebodohanku yang memunculkan ide untuk bersembunyi di tempat seperti ini. 

Aku baru saja pulang dari rumah Hani, kawanku. Awalnya kami mengadakan pesta menginap di sana. Namun pada akhirnya sesuatu memaksaku untuk pulang. Sekelebat memori membuatku menyesal karena menolak tawarannya untuk mengantarku pulang. Jika tahu bakal begini jadinya, aku tak akan sungkan berujar, “Iya,”

Pendengaranku menangkap suara rendah derapan langkah seseorang. Suaranya pasti dan semakin dekat. Sontak kupeluk tasku erat, meringkuk menekuk lutut sambil menutup mulut rapat-rapat dengan kedua tangan, berharap tak ditemukan. Tak ada alat yang dapat membantuku untuk membela diri, dalam tasku hanya ada baju ganti dan beberapa buku. Sialnya lagi, ponselku mati kehabisan daya, tak sempat terisi saat aku pergi dari rumah Hani. Aku tak bisa menghubungi siapapun. Satu lagi daftar dari kebodohan seorang Naomi.

“Naomi, ayolah. Aku kira, kamu tak suka permainan petak umpet. Sepintar apapun kau bersembunyi, aku tahu pasti di mana keberadaanmu. Gadis manis sepertimu tak akan pernah bisa lepas dari kekuatanku.” 

Suara itu dibuat berat di awal, lalu melengking di akhirannya.

Pria psikopat itu makin dekat, inci demi inci. Seakan ia mengantarkan sang maut kepadaku. Namun dalam hati kecilku terngiang bahwa, kematian jauh lebih baik dibanding harus bertemu psikopat dengan kekuatan di luar nalar manusia seperti bedebah ini. Percayalah ini bukan fiksi, manusia seperti dia adalah monster dalam dunia nyata.

Aku mengenal psikopat ini di bangku SMA. Namanya Jun, dia kakak kelasku. Dulu kami sangat akrab. Aku baru mengetahui dia manusia berdarah dingin dengan insting berburu layaknya predator kejam, tepat pada hari kelulusanku. 

Entah mengapa atau dari mana asalnya kelebihan, atau untuk kasus ini kusebut kutukan kekuatan itu berasal. Bayangkan saja – ia bisa merasakan panas tubuh seseorang, aura ketakutan seseorang, dan parahnya… ia bisa membaca pikiran seseorang hanya dengan menatap matanya. Walaupun yang terburuk dari semua itu, ya – dia adalah psikopat.

Ia jatuh hati padaku, itu menurutnya. Dia sendiri yang menyatakan perasaannya dengan lantang padaku. Aku ingat betul bagaimana ia melontarkan sebaris kalimat, “Kau membuatku jatuh hati,” dan mengingat betul seperti apa gerak geriknya.

Kau tahu? Aku punya fakta menarik untukmu. Ketika seorang psikopat mencintai sesuatu, percayalah. Ia tahu bagaimana cara mencintai dan menunjukkannya dengan sangat baik. Namun cinta dan obsesi berbeda tipis bukan? Seperti kain tipis yang memisahkan antara ruangan satu dengan yang lain. Transparan dan mudah koyak. Sewaktu-waktu, dua ruangan itu akan menjadi satu ruangan besar dengan isi yang tercampur baur sampai kau tidak bisa memisahkannya.

Dan coba tebak – satu kebodohan lainnya dariku adalah karena aku menerimanya. Benar saja, perasaan terganggu itu kurasakan ketika aku setuju untuk menjalin hubungan dengannya. Itu benar-benar mengerikan.

“Aku lelah Naomi, mari kita bermain hal yang lain. Kau, aku, dan rasa sakit, bagaimana? Ayolah, aku hanya ingin membuatmu menjadi milikku, itu saja.” 

Kalimatnya disusul tawa beraroma jahat, ia benar-benar berhasil membuatku bergidik ngeri.

Dengan keberanian yang hampir habis, kucoba mengintip dari balik tumpukan tong bekas yang kujadikan benteng perembunyian.  Sosoknya masih sama seperti dulu. Matanya sangat tajam dengan manik yang hitam pekat, kulitnya putih pucat namun berkilau ketika tertimpa cahaya. Ia memakai jaket hoodie hitam bertuliskan “die hard” berfont tebal dengan warna merah menyala, wajahnya tertutup masker hitam. Indah namun mematikan, mungkin begitulah aku menggambarkan sosoknya. Jangan tanya padaku mengapa, karena aku sendiri bingung mengapa psikopat bisa setampan itu. 

Namun dari yang kutahu, seorang psikopat memang memiliki kharisma yang luar biasa baik. Biasanya mereka memiliki kelebihan dari segi rupa, perilaku, dan juga isi otak. Tak heran korbannya banyak yang terpikat. Dan ya, kabar baiknya, itu termasuk aku.

“Aku sudah mengikutimu dari sejak pagi, tak maukah kau bertemu denganku, sekali ini saja?”

Suaranya terdengar seperti merajuk. Ini sudah tak bisa kutahan lagi, mungkin jika aku menggeretak ia akan menyerah juga. Spontan aku membalas ucapannya.

“Dan membiarkanmu membuatku jadi boneka koleksimu? Tidak, terimakasih, Jun! Aku tidak tertarik. Lepaskan aku atau kutelepon polisi!” 

Suaraku lantang dari balik tong. Aku tahu sifatnya, dia tak ingin menghampiri mangsa. Itu bukan gayanya. Jadi, bagaimana kalau kita coba bernegosiasi. Lagi pula dia sudah tahu lokasiku di mana, bukan?

“Jika kau melepaskanku, aku akan melupakan bahwa semua ini tidak pernah terjadi dan kau bisa pergi dengan bebas. Kumohon!” Rengekku, putus asa sudah menggelayuti hatiku. Aku harap ini berhasil.

“Nyalimu besar juga manis. Aku penasaran, apakah ketakutanmu juga sama besarnya?” 

Ia duduk di sebuah tong bekas. Menyunggingkan seringai yang amat lebar.

“Keluarlah, aku bosan bermain petak umpet seperti ini.” Gerutunya, kurasa ia sudah hilang kesabaran.

“Aku bukan mangsa yang bodoh, Jun! Menghampirimu sama saja bunuh diri!” 

Hening, kali ini Jun tidak merespons apa pun. Dengan segenap keberanian yang tersisa, kutengok lagi ke arah ia duduk tadi. Hilang! Dia menghilang! Ke mana dia?

Kepanikan menjalar sekujur tubuhku, sampai aku hampir terhuyung. Tubuhku jadi kaku dan rasa dingin seakan menjalar dari ujung kaki hingga kepalaku. Napasku berburu seperti detak jantungku yang saling beradu. 

Aku membalikkan tubuhku, berharap ada celah untuk kabur. Namun yang kudapati malah melihatnya berjongkok di depanku, matanya yang kelam seakan mengulitiku. Sebuah seringai menghias wajahnya, membuat sekujur tubuhku mati rasa karena saking takutnya.

Ia menggenggam sebuah suntikkan yang kuyakini berisi obat bius. Benar saja, ketika ia menginjeksikan jarum runcing itu ke leherku. Cairannya membuat kepalaku semakin berat. Mataku makin sulit terbuka. Aku berusaha tetap terjaga, tapi hasilnya nihil.

Sebelum aku benar-benar hilang kesadaran. Samar-samar ku dengar suaranya yang dingin. Suaranya rendah dan dalam, hampir seperti sebuah geraman. 

“Dan aku bukan predator yang sabar menunggu.”

Lalu semuanya menjadi gelap.


Penulis: Qiya Althea

Editor: Lufti Avianto

Photo by Ali Saadat on Unsplash

2+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *