Sajak Lisvy Nael: Adha, Pandemi dan Keteladanan Nabi

3+

Adha Tahun Pandemi

Idhul Adha tahun pandemi

Kita lewati hari raya tanpa suka cita megaria sekali lagi

Sederhana saja, lewat pengorbanan segala rasa

Seadanya, tetap langitkan syukur pada-Nya

Hari ini umat manusia saksikan

Tidak ada apa-apanya ia di hadapan Tuhan

Seluruh kita merenungkan, seluruh upaya dikerahkan

Berhaji tahun merana

Tidak ada tawaf hingga wukuf di arafah sana

Semua kembali ke rumah, berserah

Tidak pasrah

Berhaji di tahun muram

Tidak ada ihram

Waktu menjadi buram

Ibadah haji di tahun pandemi

Umat harus menahan diri

Ikhlaskan panggilan suci

Menunda menggenapi

Sirampog, 21.07.20


Kisah Nabi

Inilah awal mula kisah pengorbanan

Sarah yang berserah, Hajar yang sabar

Mereka tanggalkan kedirian, utamakan keimanan, pasrahkan kerisauan

Padang gersang, tangisan nyaring Ismail

Ibrahim takzim pada rencana Gusti

Dua gunung, tangisan Ismail, takbir Hajar yang diberkahi

Berpancarlah rahmah dari perut bumi

Inilah awal mula pengorbanan

Ibrahim yang tunduk, Ismail yang patuh

Mereka teguh pada iman, tiada beri celah pada keraguan, menghambakan sampai ke tulang jati

Wahyu Illahi dipegang pasti

Godaan memabukkan setan-setan, tangis kecintaan yang diam-diam

Teladan pun mewangi, datang domba pengganti

Gemuruhlah semesta, tasbihkan Sang Khalik

Memuji para pemberani

Inilah awal mula pengorbanan

Sirampoog, 10 Juli 2020


Merdekanya Jiwa-jiwa

Pada hari Ismail dimerdekakan dari ketundukan:

Penghambaan paling mulia telah dimenngkan

Ego tak kuasa menghadang

Iblis tak juga bikin gamang

Semesta bertakbir riang

Doa-pujian dikumandangkan:

Menggetarkan jiwa-jiwa kesunyian

Menghadap Sang Kekal, mengharap kesucian

Menghimpun keridhoan, menebar keteladanan

Semesta bertakbir riang

Allahu akbar

Allahu akbar

Wa lillahilkhamd…

Sirampog, 11 Juli 2020


Salam Dua Masa

Salam…

Salam…

Salam…

Berkali kudengar semesta menyalamiku

Ia menyambut datangku, memeluk hangat

Aku beringsut, terharu

Tangisku ledak, tak sampai menyayat

Kurasai cinta yang bening menyergap

Salam…

Salam…

Salam…

Dengan irama sangat biru, semesta menyapaku

Semakin kuterenyuh, menyalami kesadaran baru

Perkara cinta dan waktu

Ini hari terakhirku, menghirup aroma cemara di bumi

Ini pula hari pertamaku, menjadi saksi kerendahan hati hamba-hamba Tuhan nan terberkahi

Salam…

Salam…

Salam…

Dengan harsa kutinggalkan dunia

Dengan aksama kusambut surga

Dengan suka kuserahkan diri menjadi hewan paling mulia

Menggenapi kesetiaan manusia pada Tuhannya

Salam…

Salam…

Inilah salam dua masa

Melepas dan menerima

Kemelekatan maya dan pertemuan selamanya

Sirampog, 12 Juli 2020



Photo by Adli Wahid on Unsplash

3+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *