Cerpen Aizeindra Yoga: Sehelai Baju Buatan Ibu

0

Penulis: Aizeindra Yoga


Teriknya sinar matahari pada tengah hari, tak membuatku panas dan gerah. Di dalam rumah kecil ini, aku merasa begitu damai. Sudah beberapa saat, aku memandangi ibu yang tengah menjahit sebuah baju. Begitu tekun dan serius raut wajahnya.

Sesekali aku tersenyum melihat ibu, karena ia memang wanita yang cantik lagi gigih. Apalagi bila ia kerudung melilit di kepalanya, yang biasa kulihat setiap hendak pergi menghadiri acara pengajian, pernikahan atau sunatan. Terlihat lain dari hari biasa dan sangat indah dilihat oleh mata. 

Siang itu, aku mendekat. Tapi ibu bergeming dengan kehadiranku.

Baju siapa gerangan yang ia jahit, sampai-sampai dia tidak berhenti sejenak sekadar untuk istirahat?

Keringatnya mengucur dari kening, lalu mengalir ke pelipis. Tapi tetap saja ia terus menjahit. Aku ingat, lebaran kian dekat, itu sebab ia tak mengambil jeda karena pesanan yang membludak.

Di saat pesanan menggunung, memang waktu itu begitu terkuras untuk menyelesaikan pekerjaan. Bahkan, meski aku pernah mengeluh bahwa baju sekolah sudah kesempitan, ibu tak sempat membelikan, apalagi menjahitkannya untukku.

“Kalau pesanan jahitan sudah selesai, nanti akan ibu jahitkanm ya,” ia menghiburku.

Karena tak kunjung ditepati, aku sempat bertanya dengan nada kesal.

“Kapan selesai pesanan jahitan ibu? janji-janji terus.” Tanpa menghiraukan jawabannya, aku langsung berangkat ke sekolah.

Kini, aku masih memandangi ibu dari jarak dekat sekali.

“Apa yang sedang ibu pikirkan ya?” aku bicara sendiri.

Tidak seperti menjahit baju pesanan biasanya, sesekali ibu tersenyum melihat jahitannya sendiri. Sebenarnya baju siapa yang ibu jahit, ingin hati ini bertanya tapi sudah tidak sanggup karena ada batas di antara kami.

Ibu lantas menimang-nimang baju yang hampir jadi itu. Lalu direntangkannya tinggi-tinggi.

“Dok…dok…dok… Assalamualaikum….” uluk salam terdengar diiringi daun pintu yang digedor-gedor.

Ibu membuka pintu rumah tapi aku tidak bisa melihat dari sini siapakah yang berbincang dengan ibu. Setelah itu, ibu langsung bergegas pergi dan dibawanya jahitan yang belum selesai itu. Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku sayang ibu, tapi sepertinya ibu sedang sibuk hari ini.

Aku pergi ibu, maafkan kesalahan aku selama ini.

***

Seseorang di depan pintu. “Assalamu ‘alaikum, bu..!” lelaki muda terlihat tergesa, setelah daun pintu berbahan triplek itu terbuka.

“Wa’alaikum salam.” Ibu ikut panik, seperti gedoran tangan lelaki di luar pintu.

“Bu… anak ibu sekarang ada di rumah sakit, karena tersambar kereta api di perlintasan.”

Ibu langsung pergi ke rumah sakit yang disebut dan membawa sehelai baju yang dibuat untuk anaknya.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Jose Pedro Ortiz on Unsplash

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *