Di Balik Layar Sebuah Kemenangan

1+

Oleh: Zaid Malbar

Manusia sejatinya akan selalu berjuang dalam meraih mimpinya. Proses yang dilalui pun akan panjang dan cukup berliku. Mengalahkan segala rintangan yang melintang dan mencapai keinginan menjadi pertanda bahwa sesungguhnya wijaya sudah berada di ufuk mata.

Hal ini cukup menggelitik nurani ketika harus diselaraskan dengan pernyataan Buya Hamka yang dikutip dari situs dakwatuna.com (07/24/2018), “Kita harus menang! Tetapi, di manakah letak kemenangan itu? Yaitu di balik perjuangan dan kepayahan otak berpikir dan tubuh bekerja,” seru sang ulama sekaligus sastrawan mahsyur di Indonesia ini.

Merunut dari perkataan Hamka yang bernama asli Abdul Malik Karim Amrullah ini, tabir yang harus dibuka untuk mencapai sebuah kejayaan adalah kerja keras dan upaya yang gigih. Umum sekali untuk mengaitkan sebuah keunggulan yang dicapai atas perlombaan atau pertandingan. Sebut saja  prestasi Muhammad Zohri dalam menyabet juara dunia atletik cabang lari jarak pendek (sprinter) U-20.

Pria asal Nusa Tenggara Barat tersebut diketahui punya kisah pahit dalam memotivasi dirinya untuk meraih gelar jawara. Selain ia merupakan anak yatim piatu yang memiliki tempat tinggal berdinding anyaman bambu. Anak bungsu kelahiran tahun 2000 ini juga harus berlatih dengan kaki ayam. Dilansir dari media grid.id kakak perempuan beliau yang bernama Baiq Fazilah menutur, “Dia (Zohri) anaknya pendiam dan tidak pernah menuntut ini itu. Bahkan, kalau berlatih tidak pernah pakai sepatu, karena tidak punya,” ujar wanita berusia 29 tahun tersebut.

Jelas tergambar betapa mahalnya nilai sebuah kemenangan. Biasanya kita hanya melihat dari perspektif keuntungan. Sering sekali pribadi mengabaikan sudut pandang pengorbanan yang sudah selayaknya dikedepankan. Penting menanamkan nilai menghargai proses di balik pencapaian kedigdayaan agar kelak kita tetap membumi dan rendah hati.

Paradigma untuk memperoleh ganjaran sempurna kemudian mengabaikan mekanisme di balik pergulatan hidup sebaiknya tidak dipelihara menjadi karakter diri. Tetapi, mengembangkan jiwa yang selalu mengabadikan proses dalam merebut hasil dan keuntungan maksimal yang harus terus kita galakkan.

Dewasa ini, mental pembabat jalur untuk mendapatkan sebuah keberhasilan marak sekali kita jumpai. Satu kata yang biasa terluput dari memori sehingga hal ini sering terjadi yakni sabar. Seringkali lima huruf yang seharusnya berada dalam hati ini terabaikan sehingga kita menjadi makhluk yang cepat lelah dan putus asa. Padahal, demi sebuah target yang didambakan yaitu sebuah kemenangan semestinya menyerah tak dapat dijadikan pelindung agar kita tetap meneruskan langkah dalam berjuang.

Kemenangan yang berada pada puncak paling tinggi ialah pergulatan sengit antara hidup dan mati. Mempertahankan eksistensi dan mengalahkan sendi-sendi kesakitan yang berada di ambang nyawa. Hal ini telah dilalui oleh elang yang merupakan hewan berdarah panas. Menyadur perkataan Kirana Kejora dalam novelnya, “Elang harus memilih kematian atau melewati ratusan hari di gunung dengan penuh derita ketika umurnya sudah memasuki kepala empat. Mematukkan paruhnya pada batu hingga patah dan menunggunya hingga tumbuh kembali. Setelah itu, ia akan mencabuti bulunya helai demi helai dan selang beberapa bulan barulah ia mampu terbang kembali melanjutkan hidup dengan nyawa yang baru.”

Inilah kemenangan sejati yang tak banyak dicari bahkan tak disukai karena harus menempuh ritme nestapa. Tetapi, ketika sudah mendapat energi baru dari pencapaian ini yakinlah bahwa buah yang manis akan kita peroleh dari hasil usaha yang sengit ini.

Referensi:

  • https://www.dakwatuna.com/2016/03/16/79628/tentang-sebuah-kemenangan/amp/
  • http://www.grid.id/amp/04897974/zohri-si-bungsu-peraih-medali-emas-kakak-kandung-ungkap-perjuangannya
  • Kejora, Kirana. 2009. Elang (Novel). Almira Management, Jakarta.

Editor: Lufti Avianto

Photo by Japheth Mast on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *