Yang Harus Kulepaskan

1+

Penulis: Anby


Saat itu, bulan Ramadhan di tahun 2018, waktu telah mempertemukan kita. Mempertemukan aku dan dia dalam tujuan yang sama, yakni melamar kerja. Padahal hari itu adalah hari terakhir pengumpulan berkas lamaran, tapi entah mengapa tak ada pelamar yang datang kecuali kita berdua.

Sembari menunggu petugas yang entah ke mana, aku dan dia sama-sama menunggu di sebuah ruang depan. Aku sibuk dengan gadget-ku, sementara dia, entah aku tak ingat dan melihat kesibukan apa yang ia buat waktu itu. Hingga setelah petugas datang, kami pun pulang.

Dia memulai pembicaraan ketika kita hendak keluar dari ruangan tersebut. Di situ pula awal aku melihatnya. Melihat senyum dan matanya, detik itu saat aku melihatnya terlintas sebuah rasa. Rasa yang tak bisa kugambarkan, ada bahagia, deg-degan dan nyaman. Namun kutepis dalam-dalam rasa itu, hingga aku sampai pada motorku dan hendak meninggalkannya, namun ia meminta nomor teleponku.

Dia menambah rasa itu.

Tapi kali ini aku tak ingin rasa baper-ku menguasaiku. Bukankah wajar bagi pelamar kerja saling bertukar nomor untuk saling komunikasi dan bertukar informasi karena masih ada beberapa tes lagi yang mesti kita lalui.

Hari itu aku memang sedikit kurang enak badan, flu melanda, dan ia memberikan perhatian melalui chat. Mengapa dia menambah rasaku? Tidak! Dia pasti hanya basa-basi saja untuk mengakrabkan diri. Dan lagi, setelah hari itu dia kerap sekali menghubungiku, menyapaku dengan kata-kata yang semakin menumbuhkan ‘rasa’. Apa ia memang berniat mendekatiku atau hanya ‘modus’ belaka? Tak ada yang tahu tentang hatinya.

Sampai hari pengumuman tiba, ternyata dia diterima dan aku tidak. Sedihpun menghampiri, entah sedih karena tak dapat bertemu dia lagi atau sedih karena pekerjaan itu tak kudapati.

Tapi entah mengapa di antara kami rupanya ada yang tak ingin mengakhiri pertemanan yang baru saja dibangun, hingga akhirnya kita merencanakan untuk jalan bersama. Perjalanan untuk saling mengenal satu sama lain.

Kian hari keakraban mulai terbangun, tak pernah seharipun handphone-ku alpa dari notifikasi chat darinya. Hingga tak terasa perasaan itu kian membesar di hati. Saat hatiku berada di ambang cinta yang mendalam, ternyata ia tak meresponsnya. Sedih yang kurasa saat itu, aku tak tahu harus bagaimana menanggapi cinta yang tak berbalas ini, ingin sekali rasanya aku menghapusnya dari semua ingatan dan hatiku. Namun aku tak bisa melakukannya. Hingga akhirnya pada suatu hari aku tergerak untuk mencari dan menemukan solusi terbaik untuk rasa yang tak berbalas ini. Dan aku menemukannya dari sebuah blog.

Bagaimana jika sudah mencintai dengan tulus tapi seseorang yang kita cintai tidak kunjung merespons dan terkesan cuek luar biasa?

Jika itu kasusnya, maka terima dirinya apa adanya. Jika dia cuek, kamu cukup melangkah pergi, bukan malah berusaha mengubahnya menjadi seseorang yang sesuai keinginanmu.

Melangkah pergi bukan berarti berhenti mencintai, melainkan kamu cukup mencintainya dari jauh.                 

Mencintai tidak ada batasnya, namun waktu ada batasnya. Oleh karena itu, gunakanlah waktumu untuk orang-orang yang merespons kamu, dibandingkan buang waktu untuk membuat orang yang cuek agar merespons kamu.

Toh jika kamu berhasil mengubah orang cuek jadi perhatian, ia tidak akan perhatian terlalu lama. Saat trik kamu terbongkar, maka ia akan kembali cuek. Lagipula, cinta adalah tentang kenyamanan. Apakah nyaman untuk terus munafik demi membuat seseorang yang cuek jadi perhatian?

Hal paling indah di dunia ini adalah saat kamu dapat bersama orang-orang yang mencintai kamu apa adanya dan kamu bebas menjadi dirimu sendiri apa adanya saat bersama mereka.

Kenyataannya, tidak semua orang dapat menerima kamu apa adanya. Luangkan waktumu hanya untuk mencari dan melewati waktu bersama mereka yang menerimamu apa adanya. Di situlah keindahan hidup. Di situlah kualitas kebahagiaan berada.

Sebuah pertanyaan yang sering ditanyakan tentang level ketiga mencintai adalah, “Orang yang menerima saya apa adanya bukanlah orang yang status sosialnya lebih tinggi dari saya. Saya mau yang lebih kaya, terkenal dan cantik untuk dapat menerima saya apa adanya. Bagimana tuh?”

Jawabannya adalah dengan mengembangkan karaktermu agar dapat cocokdengan mereka yang kamu inginkan, bukan dengan berusaha mengubah mereka yang tidak cocok. Dengan kata lain, tingkatkan karaktermu.

Namun satu hal yang perlu diperhatikan, meningkatkan karakter bukan berarti mengubah dirimu. Pakaian bisa berubah, penampilan bisa berubah, pikiran bisa berubah, wawasan bisa berubah, tapi “siapa kamu sebenarnya” tidak bisa berubah.

Oleh karena itu, tingkatkan karaktermu sesuai seperti yang kamu inginkan agar kamu tidak kehilangan dirimu yang sebenar-benarnya.

Entah bagaimana caranya, aku bisa tergugah oleh kata-kata itu. Darinya aku kuat untuk melangkah pergi dan mencoba mengikhlaskannya dengan sepenuh hati.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Isaac Mehegan on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *