Menanti Kehadiran Buah Hati

1+

Penulis: Anamira


Surabaya, Agustus 2008. Saya menikah tanggal 10 November 2006 dalam usia 25 tahun. Seperti layaknya pasangan suami istri lainnya, tentu memperoleh karunia buah hati adalah menjadi dambaan kami.

Tapi tentu Allah yang mempunyai hak prerogatif atas itu semua.

Kami pun mafhum akan hal itu. Pikiran akan kapan datangnya buah hati itu tidak terlalu mengganggu kehidupan kami. Kami yakin bila saatnya nanti tiba tentu Allah akan  mengkaruniakannya kepada kami.

Hari-hari kami lalui dengan menikmati kebersamaan berdua. Semuanya terasa indah dilewati berdua, sungguh sebuah karunia yang harus selalu kami syukuri. Ketika suami harus pindah tugas ke Surabaya, saya pun mengikutinya. Walaupun sebelumnya kami sempat ber-LDM (long distance marriege), Alhamdulillah tidak lama kemudian Allah izinkan kami untuk tinggal bersama kembali di Surabaya.

Hati saya mulai gundah ketika usia pernikahan kami memasuki tahun kedua. Ditambah lagi orang-orang di sekeliling kami yang sering bertanya, kapan akan punya momongan. Walaupun sesungguhnya saya yakin mereka sangat tahu bahwa itu semua bergantung kepada kehendak Illahi.

Pengalaman itu juga yang membuat saya sekarang  lebih berhati-hati dalam berkata-kata, apalagi terhadap hal-hal yang sensitif seperti itu. Alangkah lebih baik jika doa-doa kebaikan yang disampaikan, tentu akan lebih membahagiakan dan menentramkan bagi yang mendengar.

Saya pun meminta kepada suami untuk memeriksakan diri saya. Tapi suami menolak. Dia selalu meyakinkan dan menyemangati saya, ini hanya soal waktu saja. Kita hanya perlu bersabar kepada ketentuan Allah. Karena menurut dia, secara genetis pun dari masing-masing keluarga kami tidak ada masalah. Ibu saya anaknya banyak, enam orang. Ibu mertua juga demikian, anaknya lima orang. Begitu alasan suami menenangkan saya.

Sampai kemudian tiba bulan Ramadhan. Ini Ramadhan pertama kami di perantauan. Kami sudah bertekad untuk menambah kedekatan kami kepada Sang Pencipta di bulan ini. Di 10 malam terakhir kami melakukan ibadah iā€™tikaf di Masjid Agung Surabaya. Tiap sore sesudah suami pulang kerja, jeda sebentar kemudian kami berangkat ke masjid. Paginya kami pulang ke rumah karena suami harus kembali bekerja. Begitu setiap hari kami lalui sampai akhir Ramadhan.

Salah satu munajat yang kami panjatkan adalah memohon karunia keturunan yang sholeh. Doa itu selalu kami panjatkan setiap malam, dengan mengiba dan merendahkan diri, tak pernah bosan kami memohon.

Anamira

Syukur Alhamdulillah, satu bulan kemudian, Allah kabulkan permohonan kami. Saya dinyatakan positif hamil. Berjuta rasanya menerima takdir ini. Allah Maha Baik. Setelah dua tahun menikah, akhirnya Allah berkenan mengaruniakan kehamilan kepada saya. Dia Yang Mahatahu akan takdir yang terbaik bagi hamba-Nya.

Betapa kami mengambil hikmah dari semua ini. Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya. Tidak ada tempat kembali kecuali kepada-Nya. Tidak ada tempat meminta kecuali kepada-Nya. Kami pun kemudian melakukan sujud syukur, seraya memohon petunjuk dan bimbingan untuk menjaga amanah yang dititipkan kepada kami ini.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Andrew Itaga on Unsplash

1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *