Cerpen Lufti Avianto: Meninggalkan Tanya

5+

Penulis: Lufti Avianto


Cahaya lampu kamar menusuk-nusuk mataku yang terpaksa dibuka. Aku masih seperempat sadar ketika selimut disibak. Lelaki di sebelahku membuat gerakan yang gaduh sehingga kesadaranku berangsur-angsur mulai pulih. 

Aku terduduk di tepi ranjang, memerhatikan lelaki itu mengganti baju dan mempersiapkan beberapa barangnya di tas ranselnya. Ia kini sudah mengenakan baju koko putih, celana katun hitam dan songkok hitam.

“Mau ke mana, Mas?” aku terheran melihat Mas Pram yang sudah rapi, sambil melirik jam dinding. Padahal hari hampir tengah malam.

“Pak Priyo Susilo meninggal kena serangan jantung, Tanya. Aku harus segera melayat.”

“Kan bisa besok…” aku jawab sekenanya.

“Kamu tahu, kan, Pak Priyo itu siapa?” nada Mas Pram naik, lalu mendengus kesal. “Aku menginap di sana. Mungkin sore baru pulang.”

Mas Pram mengecup pipiku, lalu pamit dengan tergesa.

Tentu saja aku tahu, Priyo Susilo yang disebut Mas Pram. Lelaki itu telah memberikan beasiswa, ketika Mas Pram hampir saja putus kuliah. Juga memberikan rekomendasi sehingga ia bisa bekerja di perusahaan rekan Pak Priyo. Tak heran, kalau di mata Mas Pram, Pak Priyo laksana malaikat penolong.

Sosok Priyo Susilo, kata Mas Pram, bukanlah orang kaya raya. Itu yang membuat dia begitu istimewa di mata suamiku. Seorang profesional di bidang periklanan, yang sesekali mengajar di kampus Mas Pram, dengan rasa empati yang tinggi.

Perkenalannya diawali, saat Mas Pram menjadi asisten Pak Priyo. Dari situlah, Pak Priyo tahu keadaan Mas Pram yang nyaris putus kuliah karena masalah ekonomi. Pak Priyo membantu biaya kuliah dan memberikan kesempatan magang di kantornya. Hubungan mereka kian akrab dan terus bermetamorfosis, tidak hanya sekadar dosen dan asistennya, mentor dan binaannya, melainkan sudah seperti ayah dan anak.

Aku hanya tahu Pak Priyo dan jasa-jasanya, Bu Priyo, serta putri tunggalnya bernama Selly. Itu saja, tak lebih. Mas Pram tak pernah memperkenalkanku lebih jauh, atau bahkan mengajakku berkunjung ke rumah seseorang yang telah menyelamatkan masa depan suamiku. Entah mengapa, aku tak pernah menanyakan alasannya. Ia hanya sering bilang, kalau kita tidak boleh melupakan kebaikan orang lain. Kalau sudah membincangkan itu, ia selalu berharap bisa membalas kebaikan-kebaikan beliau.

Dan setahun lalu, Bu Priyo meninggal dunia karena kecelakaan. Sejak itu, Pak Priyo yang memang punya riwayat penyakit jantung, sering sakit-sakitan. Sejak itu, Mas Pram lebih sering mengunjungi Pak Priyo. Membawakannya buah-buahan dan makanan, atau sekadar menemaninya ngobrol. Dalam kunjungan-kunjungan itu, tak sekalipun Mas Pram mengajakku. Sesekali, ia hanya mengajak si Sulung yang sudah empat tahun.

Mungkin itu yang dimaksud suamiku. Membalas kebaikan-kebaikan Pak Priyo.

***

Ini sudah tahun keempat, perekonomian keluarga kami serba pas-pasan. Padahal aku tahu, gaji suamiku jauh dari cukup untuk kehidupan kami berempat. Dulu, kami masih bisa menabung untuk sesekali berlibur ke luar kota, atau bahkan membantu orangtua dan kerabat yang membutuhkan.

Namun, entah perubahan apa yang terjadi pada suamiku, sehingga ia tak lagi terbuka soal keuangan keluarga, terutama soal gajinya. Setiap aku tanya, pasti jawabannya akan menuntun pada pertengkaran. Aku capai, kalau empat tahun ini harus sering ribut.

Tapi aku justru lebih takut, kalau Mas Pram meninggalkanku, dan pergi dengan perempuan lain yang lebih menarik, lebih cantik, dan lebih-lebih lainnya. Ini pun kalau kecurigaanku benar, Mas Pram punya perempuan idaman lain.

Kecurigaan itu menjadi sempurna ketika Jono, mantan pacar yang aku putuskan itu, mengirim foto-foto melalui What’sApp. Ada Mas Pram sedang berada bersama perempuan muda, yang jujur aku akui cantik, di kafe sebuah hotel.

Aku tahu, Jono punya niat jahat. Sejak kami putus, ia tak ingin melihatku bahagia, bahkan ingin menghancurkan rumah tanggaku. Tapi foto-foto itu jelas punya arti lain. Tapi aku tak berani mengonfimasi ke Mas Pram.

Kalau sudah gundah gulana, Narti adalah tempatku mencurahkan isi hatiku. Narti pernah mengingatkan, tanda-tanda suami yang berselingkuh. Misalnya, seorang lelaki jadi lebih memperhatikan penampilannya, suka bersikap kasar, tempramental atau menjadi lebih perhatian untuk menutupi pengkhianatannya.

“Apa ada tanda seperti itu?” selidik Narti suatu ketika.

Aku menggeleng.

“Serius?” sahabatku itu tak percaya.

“Sejak dulu, Mas Pram yang aku kenal memang biasa saja penampilannya. Sampai sekarang pun, ia tak suka berdandan atau pakai parfum. Ia juga tak pernah kasar atau jadi pemarah. Ia tetap seperti dulu, dengan kadar perhatian yang sama padaku atau sama anak-anak.”

“Berarti, cuma ada dua kesimpulan,” Narti membetulkan posisi duduknya. “Pertama, suamimu memang benar-benar lihai menjaga perselingkuhannya, atau kedua, dia memang benar-benar tidak selingkuh.”

“Tapi gaji suamiku seperti bocor oleh pengeluaran yang aku tak tahu untuk apa. Apa mungkin…”

“Kalau begitu, kau tanya saja soal foto-foto itu. Apa benar dia punya…” Narti tak melanjutkan kalimatnya. Ia seperti tahu jalan pikiranku.

“Aku takut, Mas Pram sudah ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu. Aku takut itu jadi kenyataan.”

“Itu masalah kamu sejak empat tahun ini, Tanya. Kamu tak berani menghadapi kenyataan…”

“Tapi anak-anak masih kecil…”

***

Selly menyodorkan amplop cokelat di atas meja kepada lelaki di hadapannya. “Mas Pram, aku tak bisa terus menerima kebaikan ini. “Mas sudah terlalu banyak berkorban. Biaya rumah sakit Papa, kan juga Mas yang rantasi.”

“Nggak apa-apa. Pak Priyo sudah kuanggap seperti ayahku juga, Selly. Kau juga sudah seperti adikku. Kalau bukan karena papamu, aku juga tidak bisa seperti sekarang. Kau simpan saja ya,” tangan Pram menyorongkan balik amplop itu ke Selly.

Selly mengangguk pelan. Ia tak ingin begitu merepotkan Pram, namun ia juga membutuhkan uang itu untuk beberapa kebutuhan yang ia tak sampaikan ke Pram. Cukuplah lelaki yang bukan saudara, bukan pula kerabat di hadapannya itu, begitu repot membiayai kebutuhan hidupnya, mulai dari kos, uang saku hingga biaya kuliah yang tak murah.

Saat jam istirahat siang itu, Pram menemui Selly di kafe sebuah hotel dekat kantor Pram. Manajer kafe itu, teman SMA Pram. Atas rekomendasinya pula, Selly bisa bekerja di kafe itu di sela-sela waktu kuliahnya.

Sebelumnya, Selly memaksa agar Pram mencarikannya pekerjaan agar ia tak terlalu memberati Pram. Ia tahu, Mas Pram juga punya keluarga, istri dan dua putrinya, yang tentu saja memerlukan biaya. Apalagi, Mas Pram pula yang membiayai biaya pengobatan papanya ketika semua harta ludes terjual, termasuk rumah yang sudah tergadai. Apalagi ketika semua kerabat telah menjauh, justru Pram yang tetap mendekat. Ia tahu, Pram sedang membalas kebaikan yang pernah ia dapat dari papanya dulu kepadanya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kuliahmu? Pekerjaan barumu nggak mengganggu?” Pram menyesap kopinya.

“Kuliah baik-baik aja. Lancar.”

“Syukurlah. Kalau begitu…”

Dari kejauhan, seorang pria memotret Pram dan Selly yang sedang mengobrol. Dengan sudut pengambilan gambar tertentu, seolah memperlihatkan keduanya begitu mesra seperti dua sejoli yang tengah dimabuk asmara.

***

Kabar itu datang seperti gemuruh yang membuat langit jiwaku tak bercahaya berganti awan kelabu. Seorang polisi mengabarkan melalui telepon, bahwa Mas Pram mengalami kecelakaan. Kondisinya sekarat di rumah sakit di tengah kota. Kata polisi itu, diduga Mas Pram mengantuk saat berkendara sehingga motornya menyenggol sebuah truk di sisi kanan jalan, lalu ia terpelanting dan terlindas mobil di belakangnya.

Ditemani Narti, aku bergegas menuju rumah sakit. Di ruang ICU, aku melihat tubuh penuh luka dengan tulang yang remuk di beberapa bagian yang berselimut perban berwarna putih penuh noda merah saga.

Aku tak lagi bisa berkata-kata yang rasanya pergi entah ke mana. Ketakutanku ditinggal Mas Pram yang menikah lagi, berganti dengan ketakutan lain yang kini ada di depan mata.

Mata Mas Pram terbuka, seolah merasakan kehadiranku. Denyut jantungnya, yang terekam melalui alat elektrokardiogram, berdetak lemah dan makin lemah. Narti merangkulku seolah menjalarkan energi agar aku bisa kuat menghadapi semua ini.

Aku mendekat ke sisi Mas Pram mencoba memberikan isyarat bahwa aku ikhlas akan kepergiannya. Aku terus menyebut nama Tuhan, agar hatiku makin dikuatkan. Mas Pram seolah memahami maksudku, matanya mengedip beberapa kali, lalu napasnya memburu, habis.

Ia seolah menunggu kehadiranku untuk pergi selama-lamanya. Aku berteriak dan jatuh terduduk.

***

Aku menyaksikan dengan mata sembap satu demi satu tetamu meninggalkan rumah. Dua putriku yang masih balita, masih tak mengerti kemalangan seperti apa yang tengah menimpa kami.

Seorang perempuan muda berdiri, dengan pakaian serba hitam, juga kerudung hitam yang disampirkan dengan rambut hitam terurai, lalu berjalan justru mendekatiku. Aku seolah kenal perempuan itu, tapi entah di mana aku melihatnya.

Memori berputar cepat, ah, aku mulai ingat, perempuan itu yang ada di foto-foto yang dikirimkan Jono, yang kuduga sebagai selingkuhan, atau mungkin sudah menjadi istri kedua suamiku. Entah, kedatangannya pada hari dimana bumi seolah runtuh bagiku, punya maksud apa. Apakah ia mungkin akan menuntut sebagian harta suamiku?

Ia terus mendekat. Sepuluh langkah lagi.

Ya Tuhan, cobaan apalagi yang hendak Engkau timpakan padaku? Air mataku belum kering. Aku pun belum tahu, bagaiaman dan dengan cara apa kami harus menjalani hari esok.

Ia berjarak lima langkah. Tiga, dua langkah, lalu berhenti tepat di hadapku.

Aku membeku, tak ingin berbasa-basi dengan perempuan yang telah merebut suamiku. Setidaknya yang aku yakini sejak melihatnya melalui foto-foto yang dikirim Jono.

“Mbak Tanya, aku turut berduka cita atas kepergian Mas Pram…” suaranya bergetar sekuat tenaga menahan tangis, dengan raut wajah yang kelabu.

Aku hanya mengangguk, tak ingin tersenyum dan berharap ia lekas pergi.

“Oya, perkenalkan, aku Selly, anak almarhum Bapak Priyo Susilo…” tangan kanannya dijulurkan.

Aku terhenyak, rupanya perempuan muda yang ada di foto-foto itu adalah Selly, putri tunggal ‘malaikat’ yang menolong suamiku, Priyo Susilo.

Dan cerita tentang kebaikan-kebaikan Mas Pram, mengalir dari bibir Selly. []

Sawangan, 3 Mei 2020


Photo by Daniel Jensen on Unsplash

5+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *