Seni dan Sastra: Dua Amunisi Merangkai Kata

0

Oleh : Zaid Malbar

Menulis tidak hanya merancang suatu adegan lengkap dengan latar tempat serta waktunya. Ada pun bagi sebagian orang, menulis merupakan fase di mana hati dan otak dapat bekerja secara protagonis, saling membangun dan mengisi.

Tak cukup rasanya sampai di situ. Ekspresi yang mengalir lewat aksara laksana polikromatik yang harus mengkritik lingkungan sekitar, bahkan sampai tatanan sosial dan pemerintahan pun turut memberi warna berbeda. Seperti mengulum permen Nano-Nano bukan, ketika kita mampu berenang dan menyelam dalam dunia literasi ini. Membaca dan menulis.

Paradigma mengenai menulis dan kaitannya terhadap kehidupan dapat dilegalkan tentunya. Asalkan pesan yang kita lemparkan melalui stigma yang tersurat serta tersirat dapat dibaca dengan baik oleh si pembaca. Proses menulis harus terus disubstitusi dengan nutrisi agar pembaca dapat mengambil inti sari dari sekumpulan paragraf yang kita bingkai dengan jiwa.

Mengapa jiwa dapat tercipta dalam sebuah tulisan?

Atau begini saja. Saya akan mencoba analogikan pertanyaan tersebut dalam gubahan pertanyaan yang lain tetapi masih memiiki korelasi yang relevan. Buku dari penulis siapa yang paling anda sukai? Saya tak akan mencoba menyebutkan salah satu nama penulis andal yang sudah familiar. Rasanya akan mendiskreditkan pihak lain dan saya pun tak ingin mengintervensi pembaca untuk menyukai tulisan orang lain. Pertanyaan ini hanya menstimulus anda untuk berpikir lebih jauh ke depan.

Tentu saja kita semua punya penulis kesukaan yang kita bintangi dan layak untuk masuk daftar bacaan tetap kita. Itu disebabkan karena kita sudah jatuh cinta pada gaya bahasa yang penulis olah dan kembangkan. Gaya bahasa ini tidak dapat diimitasi.

Mengutip dari kata Rampan (2009) dalam bukunya yang berjudul Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir bahwa gaya bahasa itu menampilkan diksi serta rima yang tak boleh kita kebiri begitu saja. Kemudian, gaya bahasa ini juga jelmaan dari perilaku si penulis. Bahkan, Jakob Sumardjo juga idem atas pernyataan Rampan tersebut yang mengatakan bahwa hasil karya sastra itu potret sang penulis.

Sekarang muncul kembali pertanyaan bukan? Mendistribusi jiwa kita dengan ciamik lewat tulisan, How to? Kembali lagi saya harus menstimulasi neurotransmitter pada otak agar mengalir deras sehingga memiliki endurance yang cukup untuk mengingat kembali rutinitas kita, di bagian manakah yang dapat kita jadikan cara untuk menemukan bagaimana mengoptimalkan tulisan kita yang diperkaya dengan jiwa.

Menurut Anoviyanti (2008), seni merupakan terapi yang menyehatkan jiwa. Tidak lain karena ia merupakan materi yang tersublimasi lewat perasaan ataupun memori dari seseorang tatkala kita melakukan kegiatan berkarya seni. Saya rasa karya tulis juga termasuk dalam sebuah karya seni yakni karya seni sastra, bukan? Berarti ada bagian yang terkontemplasi lewat tulisan yang kita hasilkan.

Namun, jika kita merasa masih kurang greget atas karya sastra yang telah berhasil kita gubah, tampaknya tak ada salahnya untuk mencoba seni yang lain. Tentunya sebagai pemicu untuk memantikkan semangat agar dapat memaksimalkan refleksi diri kita pada sebuah tulisan yang kita ciptakan.

Perlu diingat bahwa setiap manusia punya karakter yang berbeda. Ini akan tampak pada hasil tulisan atau karya sastranya. Seni entah itu melukis, menyanyi dan mendengarkan musik, menonton film dan lain sebagainya hanyalah mencoba untuk  menemukan sisi terbaik dari diri anda sehingga hal potensial yang terkubur dapat bangkit dari mati surinya. Seni bukan memaksa untuk mengejawantah jiwa anda sehingga menjadi sosok yang baru.

Jadi, tak ada salahnya bukan untuk berkesenian demi mengeksplorasi potensi diri serta mendistribusi penuh jiwa pada sebuah karya sastra yang akan kita produksi.


Sumber :

  • Rampan, Korrie Layun. 2009. Apresiasi Cerpen Indonesia Mutakhir. Buku Pop, Jakarta.
  • Annoviyanti, Sari Rahma. 2008. Terapi Seni Melalui Melukis pada Pasien Skizofrenia dan Ketergantungan Narkoba. Jurnal Vis. Art. & Desain. 2(1) : 74. Institut Teknologi Bandung.

Editor: Lufti Avianto

Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *