Ulasan Buku: Jleb!

0

Buku JLEB karangan Ki Jendral Nasution membahas tentang seluk beluk membangun bisnis online. Buku yang terdiri dari 40 bab ini menawarkan suatu perspektif baru yang berbeda dengan buku bisnis lainnya.

Menurut penulis buku JLEB, bila seseorang mau memulai bisnis secara online, maka hal yang pertama yang harus dibangun adalah trust (kepercayaan). Pembeli yang mempunyai keterikatan secara emosional kepada penjual, akan mendapat trust yang lebih baik daripada yang tidak mempunyai keterikatan emosional sama sekali. Caranya membangun keterikatan ini bisa dengan sering like atau komen di media sosial pembeli.

Ketika trust sudah terbangun, maka selanjutnya adalah mempertahankan konsistensi iklan dalam sosial media penjual. Iklan berkualitas yang penjual tayangkan di media sosial, akan membentuk eksistensinya sebagai penjual produk, termasuk pengenalan terhadap produk itu sendiri ke calon konsumen.

Strategi penjualan untuk menaikkan omset setelah rajin “ngiklan” dimedia sosial adalah melakukan diferensiasi dengan penjual yang lain. Misalnya, ketika penjual online berjualan buku dan menawarkan produknya, calon konsumen tidak hanya melihat produk yang penjual tawarkan, tetapi manfaat apakah yang mereka dapatkan hanya dengan mengikuti/memfollow penjual.

Semua orang pada dasarnya suka dengan hal-hal gratis yang bermanfaat, maka wajib bagi penjual untuk membagikan hal tersebut. Misalnya, penjual buku online bisa memposting konten-konten tentang manfaat membaca, informasi tentang toko buku apa saja yang sedang mengadakan bazar, ataupun pemberian giveaway berupa buku secara berkala. Diferensiasi atau perbedaan dari kompetitor adalah nilai yang membuat produk penjual terasa berbeda dengan produk lainnya yang sejenis.

Penjual online harus membuat target pasar yang mau direkrut menjadi pembeli. Misalnya, bila penjual mau menjual cheesecake rumahan, maka target pasarnya adalah orang-orang yang suka kue, terlebih lagi suka dengan keju. Lain lagi bila ingin menjual segala hal terkait kucing. Penjual pernak-pernik kucing online akan mencari komunitas pecinta kucing, menambahkannya menjadi teman, dan akhirnya iklan yang diposting di media sosial akan dilihat oleh para pecinta kucing, kemudian terjadi closing berupa pembelian produk.

Poin penting yang ada di dalam buku ini, penjual online diajarkan untuk menjadi pribadi yang baik agar konsumennya loyal dan mau membeli apapun yang dia jual. Hal ini sangat terkait dengan kualitas pelayanan yang penjual berikan kepada pembeli.

Kualitas pelayanan yang pertama, sebagai penjual harus menunjukkan reliability atau sikap yang bisa diandalkan dan bisa dipegang janjinya. Yang kedua, penjual harus mempunyai kemampuan meyakinkan konsumen kalau produk yang dijual adalah produk yang baik kualitasnya. Ketiga, penjual harus menjaga empati kepada calon konsumen. Misal, ketika konsumen loyal di sosial media memposting bahwa dirinya sakit, maka sebaiknya penjual turut mendoakan, bisa juga dengan mengirimkan paket makanan produknya. Dengan demikian konsumen tersebut akan semakin merasa dihargai keberadaannya oleh penjual.

Dalam buku ini juga diajarkan bagaimana caranya mengelola sebuah tim penjualan. Ketika penjual memiliki kepedulian yang baik terhadap timnya dan mampu membantu mereka menyelesaikan masalah yang terjadi di lapangan, maka omset penjualan akan semakin naik. Penjual yang baik bukan hanya yang bisa menjual produknya dengan laris, tapi juga penjual yang bisa membantu orang lain untuk keluar dari masalah keuangan yang sedang dihadapi.

Tim penjualan di sini terdiri dari dua bagian, yaitu tim internal/keluarga yang mencakup orang tua, anak, pasangan dan sanak saudara dan tim eksternal yang bekerja bersama kita untuk menaikkan omset penjualan. Mengapa tim internal disebut juga tim penjualan? Karena mereka adalah bagian dari kehidupan penjual juga. Bila penjual mendapatkan restu, doa dan dukungan dari keluarga maka produknya akan laris di pasaran. Pun ketika si penjual sukses dan meraup omset yang besar, maka orang-orang terdekatnyalah yang pertama kali merasakan kesuksesan itu juga. Jadi buku ini menekankan penjual sebagai individu haruslah juga memiliki perilaku yang baik terhadap keluarganya.

Buku ini dirancang dengan ukuran huruf yang besar sehingga enak dibaca. Pemaparannya mudah dipahami dan dipraktekkan langsung oleh penjual online. Membaca buku ini menyadarkan penjual bahwa omset penjualan produk yang ditargetkan sangat terkait dengan perilaku sehari-harinya sebagai penjual. Penjual yang mengerti membidik target pasar, penjual yang responsif, penjual yang peduli, dan mempunyai hubungan baik dengan keluarga adalah pencapaian yang diharapkan setelah membaca buku ini.

Kekurangan bukunya hanya kurang runut dalam membahas suatu poin dalam penjualan. Misalnya, membahas poin tentang pembeli ditemukan di bab dua puluh dan dua puluh tiga. Begitupun dengan pembahasan terkait media sosial, terdapat dalam bab sembilan belas dan tiga puluh enam. Poin-poin yang tidak runut dituliskan dalam buku ini membuat pembaca sedikit kesulitan saat mau memperbaiki poin kelemahan dalam perilaku menjual mereka. Karena setiap bab ditulis terpisah dan tidak berhubungan satu sama lainnya, membuat pembaca bisa mulai membaca dari bab mana saja.


  • Judul Buku: JLEB (Sebuah catatan asal-asalan dan akal-akalan tentang bisnis online)
  • Penulis: Ki Jendral Nasution
  • Penerbit: MindMedia Publishing
  • Tahun terbit: Mei 2017


Foto utama: Facebook Buku Jleb

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *