Cerpen Echi: Senyum Adella

3+

Penulis: Echi


Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Adella menggigit bibirnya, sambil membaca amplop itu. Jantungnya berdetak dua atau tiga kali lebih cepat dari biasanya. Tulisan dengan cetak tebal itu mengacaukan pikirannya saat ini. Ia membalik amplop putih itu, namun bagian belakangnya terlekat rapat.

Ingin sekali ia membuka dan membaca isi amplop tersebut. Tapi itu tak mungkin ia lakukan. Surat itu tidak ditujukan untuknya, melainkan untuk ibunya. Dan dalam sandiwara keluarga mereka, Adella masih harus berperan sebagai satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa tentang rencana perpisahan orangtuanya.

Empat belas hari yang lalu, Ayah dan Ibunya bertengkar hebat. Ia bahkan bisa mendengar teriakan Ibu dari dalam kamar, bahwa ia telah menemukan pesan singkat mesranya dengan wanita lain. Beberapa hari setelah pertengkaran itu, Adella jarang melihat Ayahnya di rumah. Ia juga sering menemukan Ibunya sedang menangis di kamar, berbicara dengan seseorang di telepon bahwa dirinya sudah tak ingin mempertahankan pernikahannya.

Adella tak tahu harus bereaksi bagaimana atas serentetan kejadian tiba-tiba yang menurutnya teramat rumit. Perasaannya diliputi kekhawatiran atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang pasti ia tahu kondisi pernikahan orangtuanya sedang dalam masalah berat. Dan itu dibuktikan dengan amplop di tangannya hari ini.

“Mbak Ani …”

Dengan celemek yang masih terpasang, Mbak Ani tergesa menghampirinya. Adella menyodorkan amplop yang tadi diterimanya dari tukang pos.

“Tolong ya mbak, taruh di kamar Mama. Bilang aja tadi Mbak Ani yang terima. Aku nggak tau apa-apa,” Adella berkata pelan, tanpa menoleh pada wajah Mbak Ani yang kebingungan.

Mbak Ani menerima uluran amplop tersebut, dan seketika menyadari maksud dari putri majikannya saat melihat kop pada amplop tersebut. Mbak Ani tertunduk, tak tega melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah non putri, begitu ia memanggilnya.

“Non putri, maaf kalau mbak Ani nggak sopan, tapi sebaiknya non putri bicara sama Ibu tentang… Em… tentang rencana…” perkataan mbak Ani terhenti. Sulit baginya mencari pilihan kata yang paling tidak menyakitkan untuk diucapkan.

“Rencana mereka untuk cerai?” Adella melanjutkan maksud Mbak Ani. Mbak Ani terhenyak, kata-kata itu terasa terlalu menyayat hatinya. Ia pun hanya mengangguk pelan.

“Nggak apa-apa mbak, aku lagi belajar sabar,” ucap Adella sambil berdiri dari sofa besar di ruang tengah rumah, kemudian berjalan masuk ke kamarnya.

Mbak Ani menghela napas berat, merasakan kesedihan mendalam dari ucapan non putrinya barusan. Sepuluh tahun sudah ia menemani Adella menjadi pengurus rumah ini. Ia tahu betapa rapuh hati putri bungsu majikannya itu. Walaupun ia telah mampu bersikap amat dewasa, jauh melebihi usia belianya yang baru menginjak 11 tahun.

***

Adri tertunduk tanpa suara, menunggu Nella yang duduk di hadapannya berhenti terisak.

“Sejak awal kita pernah berjanji, tak mungkin ada maaf bagi hadirnya orang ketiga. Kalau kamu berani melakukan ini, berarti kamu berani menerima konsekuensinya,” Nella terbata-bata disela tangisnya.

“Dengar sayang, aku tahu aku benar-benar salah. Tapi aku tidak pernah bermaksud menyakiti kamu. Kamu tahu betapa aku cinta sama kamu!” Adri berusaha menenangkan tangis Nella. Beberapa kali ia mencoba memegang tangan dan memeluk Nella, yang selalu ditepisnya kasar.

Sudah satu jam mereka duduk di dalam mobil, di pelataran parkir tempat Nella bekerja. Mereka tak mungkin berbicara di dalam ruangan kantor, di tempat umum seperti kafe atau restoran, ataupun di rumah. Nella tak ingin seorangpun tahu mengenai kemalangan yang baru saja menimpanya akibat kesenangan sesaat suaminya itu. Dalam dua belas tahun pernikahan yang bahagia, ia tak menyangka akhirnya memergoki perselingkuhan suaminya dengan perempuan tak dikenal. Namun kemudian ia yakin ini bukanlah kali pertamanya.

“Aku bingung, mas. Aku nggak tahu harus bagaimana. Aku sudah mencurigai kelakuan kamu ini sejak dulu, tapi aku nggak pernah mau ambil pusing. Sekarang aku melihat kalian dengan mata kepalaku sendiri! Apa lagi yang tersisa darimu yang bisa kumaafkan?” Nella berteriak histeris.

Adri terdiam, ia tahu kesalahan yang dilakukannya sangatlah fatal. Ia telah mengkhianati janji kesetiaannya, yang paling tidak mungkin diampuni oleh Nella.

“Apa aku tidak berarti di mata kamu, mas? Rumah tangga kita? Adella? Buah hati kita? Tidakkah kamu berpikir tentang kami terlebih dahulu sebelum memuaskan nafsumu?” Nella bertanya ketus, pandangannya kosong menatap lurus ke depan.

Adri menatap wajah wanita yang masih amat dicintainya. Memang benar, wanita ini sudah tak semuda dulu. Beberapa garis kerut mulai muncul di ujung mata dan bibirnya. Gayanya juga tak lagi enerjik, seperti saat ia mengenalnya pertama kali. Tapi ia masih tetap tampak cantik.

Adri menghela nafas berat. Ia juga tak bisa menjelaskan apa alasan pasti yang membuatnya kemudian berselingkuh dengan wanita lain. Bukan karena istrinya kini sudah tak muda lagi. Bukan juga karena ia tak mendapatkan kepuasan atau kehilangan perasaan sayang pada istri di sampingnya itu. Ia hanya merasa bosan, dan ingin bermain-main mencari kesenangan. Di usianya yang menapaki akhir 30-an, itu terdengar konyol, bahkan untuk dirinya sendiri.

“Aku mencintaimu, Nella. Jika itu yang kamu pertanyakan. Tak pernah ada satu perempuan pun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Ya, aku tahu aku ini memang bodoh, tak seharusnya aku bermain-main seperti ini.” ucap Adri kemudian.

“Aku sudah mendaftarkan gugatanku ke Pengadilan Agama, mas. Mulai sekarang kamu bebas untuk bermain, dengan siapapun,” tegas Nella, menatap tajam pada mata suaminya.

Adri terkejut. Demi apapun dan siapapun, ia tak mau berpisah dengan istrinya.

“Kamu serius mau melakukan ini? Bagaimana dengan Adella? Ia masih butuh kita.”

Nella tertawa sinis, “Saat kayak gini, kamu bisa ingat sama Adella. Waktu lagi bareng sama dia, kamu ingat nggak? Adella sudah cukup besar untuk bisa mengerti. Aku juga nggak mau hidup dalam kepura-puraan di hadapannya!”

“Demi Tuhan! Aku nggak akan pernah mau bercerai dengan kamu, Nella. Tak bisakah kamu memaafkan aku satu kali ini saja? Aku janji tak akan melakukannya lagi.”

“Stop, mas! Stop!” Sanggah Nella mendengar ucapan Adri yang kembali mengumbar janji. “Jangan pernah menjanjikan apapun yang tak bisa kamu penuhi. Sekali kamu sudah melanggarnya, tak ada jaminan itu akan bisa kau perbaiki.”

“Satu kali, Nel. Hanya satu kali kesempatan lagi. Itu yang aku minta. Aku akan menebus semua kesalahan yang aku perbuat. Aku mohon, aku janji.” Adri mulai terisak, mengiba sambil menundukkan kepalanya di atas tangan istrinya.

“Keputusanku sudah bulat mas. Aku mau pisah.”

Nella berucap tegas, menarik tangannya dari genggaman suaminya. Bibirnya bergetar, air matanya tak berhenti menetes, tapi apapun yang terjadi ia tak mau mengubah keputusannya lagi.

Beberapa lama ia mendengarkan suara Adri yang terisak perlahan, sambil sesekali mengutuk perbuatan yang disesalinya. Ia tak pernah merasa sehancur ini, pengkhianatan yang dilakukan Mas Adri seolah telah menggerus habis rasa cintanya.

“Kita harus pulang. Adella pasti menunggu. Kita harus menyembunyikan ini darinya, hingga waktunya tepat.” Pintanya lagi. Isi kepalanya saat ini hanyalah Adella. Satu hal yang paling tidak ingin dilakukannya adalah menyakiti hati Adella, namun ia tak menemukan jalan lain untuk ditempuh.

***

Adella terbangun dari tidurnya. Terdengar suara agak keras dari kamar Ibu dan Ayahnya. Ia melirik jam di sudut kamar, masih jam satu dini hari. Ia sedikit heran dengan kegaduhan yang tak biasa itu. Ia kemudian memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya dan perlahan berjalan keluar menuju kamar orangtuanya yang terletak persis di ujung koridor lantai dua.

Pintu kamar mereka sedikit terbuka, cahaya dari dalam kamar menyeruak dari celah pintu. Adella bisa melihat kelebat bayangan Ayah dan Ibunya dari balik pintu, dan mendengar suara mereka yang sedang bertengkar dengan nada tinggi.

“Nella. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Jangan bersikap seperti anak-anak!” suara Adri ikut meninggi, mendengar teriakan yang dilontarkan istrinya.

“Jangan berharap ini bisa jadi baik, Mas! Aku nggak nyangka kamu membohongi aku hampir satu tahun! Goblok banget aku selama ini!” Nella kembali berteriak, sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Ia tampak sangat kebingungan.

“Nella, pelankan suara kamu. Nanti Adella bangun!”

Nella duduk di ujung tempat tidurnya, menundukkan kepala dan mulai meraung. Adri berjalan mendekatinya, dan berlutut di hadapan istrinya itu.

“Demi Tuhan Nel. Jangan paksa aku untuk berpisah dengan orang-orang yang sangat aku cintai. Kamu, Adella. Bagaimana aku bisa hidup tanpa kalian?”

Nella menggeleng tegas, air matanya menghambur menuruni pipinya. “Aku nggak mau hidup sama kamu lagi. Aku sudah kehilangan cinta, aku sudah kehilangan harapan. Percuma!”

Ia kemudian berdiri, memasukkan tumpukan kemeja yang berada di atas ranjang ke dalam koper yang terbuka. “Kamu pilih baju yang mau kamu bawa sekarang. Sisanya nanti aku paketkan ke rumah Ibu,” ucapnya lagi.

Adri pasrah mendengar ucapan Nella. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantah keinginan Nella bahwa ia harus pergi meninggalkan rumah. Ia mengambil beberapa helai pakaian yang berada di rak paling atas lemarinya, kemudian menaruhnya di dalam koper di sebelah pintu kamar.

Adri menoleh keluar celah pintu, terkejut mendapati Adella sedang berdiri di sana.

“Ade? Eh… Kok kamu belum tidur sayang?” tanya Adri terbata. Nella yang mendengar perkataan suaminya itu sontak terkejut dan berlari ke luar pintu. Ia melihat anak perempuannya sedang tertunduk di sana.

“Adella. Maaf, sayang. Kamu kebangun ya?” tanyanya sambil memeluk tubuh anaknya.

“Ayah… Temenin ade bobo malam ini ya!” pinta Adella sambil menarik tangan ayahnya yang berdiri di hadapannya.

“Ibu aja yang temenin ya?” Nella menawarkan diri.

Adella menggeleng. “Aku mau sama Ayah,” katanya lagi.

Nella memberikan tanda pada Adri agar menuruti permintaan anak mereka satu-satunya tersebut. Dengan sigap, Adri kemudian menggendong putrinya yang kini sudah semakin besar, dan menemaninya tidur kembali di dalam kamarnya.

Nella sungguh cemas dan terkejut. Entah sudah berapa lama Adella berdiri di depan pintu kamar mereka dan mencuri dengar tentang pertengkaran mereka. Adella kini pasti tahu tentang rencana perceraian mereka.

***

Esoknya, sabtu pagi-pagi sekali. Walaupun baru tidur beberapa jam, Adella sudah bangun dari tempat tidurnya. Ia lalu keluar dari kamar, meninggalkan ayahnya yang masih terlelap di tempat tidurnya. Ibunya pun belum tampak turun ke lantai dasar.

Ia meminta Mbak Ani membantunya menyiapkan nasi goreng telur sosis, menu sarapan favorit keluarga mereka. Mbak Ani memasukkan beberapa bumbu, sementara Adella berusaha keras mengaduk nasi di atas penggorengan. Setelah siap, ia bergegas menata meja makan dan menempatkan piring, gelas, sendok, garpu di atas meja. Tak lupa ia meminta Mbak Ani menyiapkan kopi hitam kesukaan ayah dan ibunya.

Ibu yang bergegas turun mencari Adella, terkejut melihat Adella yang sedang menyusun rapi meja makan.

“Selamat pagi, adel…”

“Ibu, ayo kita sarapan. Ibu duduk dulu di sini ya, Aku bangunin ayah dulu.”

Adella kemudian berlari kecil ke lantai atas, untuk memanggil ayahnya turun.

Ibu kemudian duduk di meja makan, tak tahu apa maksud Adella pagi itu. Ia menatap wajah Mbak Ani yang sedang menuangkan kopi hitam pada cangkir di hadapannya, meminta penjelasan. Mbak Ani hanya tersenyum, “Ini non putri yang masak, Bu,” ucapnya.

Tak lama, Adella turun diikuti oleh ayahnya yang tampak berjalan gontai.

“Ayo, ayah duduk di sini” ujar Adella sembari menarik kursi di sebelah Ibu. Ibu berdehem pelan, berusaha menjaga sikap tubuhnya yang mulai kikuk. Ia tak mengerti apa yang sedang Adella coba lakukan dengan berpura-pura bahwa semuanya seolah biasa saja. Ia yakin Adella pasti telah mendengar perkataan ia dan suaminya tadi malam.

Ayah menuruti perkataan Adella, dan duduk di samping Ibu. “Wah, ini kamu yang masak ya nak?” tanya ayahnya kemudian. Adella mengangguk bangga, ia kemudian menyorongkan centong nasi kepada Ibunya.

“Ibu, udah lama Ibu nggak ngambilin Ayah nasi. Nih sendoknya,” ujar Adella pada Ibu. Masih dengan ketidakpahamannya, ia pun hanya menuruti perkataan Adella dan mulai menyendoki nasi ke piring suaminya.

“Ayah, Ibu cantik ya pagi ini pakai baju warna kuning?” tanya Adella lagi pada ayahnya, sambil menyeruput teh manis hangat di hadapannya.

Ayah dan Ibu tampak terkejut mendengar pertanyaan Adella. Ayah kemudian mengangguk mengiyakan. Adella tersenyum, kemudian menyorongkan piring kosongnya, meminta Ibu mengambilkan nasi goreng untuknya.

“Bu, hari ini kita jalan-jalan ke Puncak, yuk! Dulu kan kita sering jalan-jalan bertiga, makan es krim, nonton bioskop, atau ke kebun binatang. Tapi seinget Adel, kayanya udah lama banget kita nggak pernah lagi jalan bertiga.” Pinta Adella, panjang lebar.

Ibu tersenyum kecil menanggapi permintaan anaknya yang beranjak gadis. Ia sudah semakin dewasa, banyak sekali hal yang bisa diutarakan olehnya saat ini. “Hari ini Ibu lagi nggak enak badan, de. Besok Ibu temenin kamu jalan-jalan,”

“Sama Ayah kan?” tanyanya lagi.

Ayah tak bisa menjawab. Ia melihat sekilas pada wajah istri di sampingnya yang masih memendam kekecewaan, kemudian menunduk dalam mencoba menikmati sepiring nasi goreng di hadapannya.

Adella bangkit, mendekati kedua orangtuanya, berdiri diantara Ayah dan Ibunya. Ia mengambil tangan ayahnya, kemudian mengeratkannya dengan tangan ibu di sampingnya.

“Adella tahu Ayah dan Ibu mau pisah. Tapi boleh nggak kalo hari ini Adella pergi jalan-jalan bareng sama Ayah dan Ibu?” ucap Adella lirih. Hati Ibu hancur berkeping mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh buah hatinya. Ibu mulai terisak, air mata mendesak keluar dari kelopak matanya.

“Ibu jangan nangis lagi. Tante Alana bilang kalau perpisahan Ayah dan Ibu adalah yang terbaik untuk kita semua. Katanya, walau Ayah udah nggak tinggal di rumah, Ayah tetap masih bisa pergi sama kita kan?” tanyanya lagi, kini beralih pada ayahnya.

Ayahnya turun dari tempat duduknya, bersimpuh memeluk tubuh Adella erat sekali, tak ingin melepaskannya. Bulir air mata mengalir deras dari kedua sudut matanya. Adella pun mulai terisak, memeluk ayah yang sangat disayanginya. Ia merasakan kesedihan luar biasa, seolah ia tak akan bertemu dengan ayahnya lagi. Ingin rasanya ia memohon pada kedua orangtuanya untuk tidak melakukan perceraian itu, tapi tampaknya tak ada lagi yang bisa ia lakukan.

Ibu mengusap rambut gadis kecil dipelukan ayahnya. Ah, Alana pasti telah cukup banyak mengajaknya berbicara, pikirnya dalam hati. Pantas beberapa hari ini Adella sering sekali mengunjungi rumah tantenya itu. Ia begitu menyesali keputusannya sendiri yang memilih untuk menutupi rahasia ini darinya, tidak menjelaskan apapun yang menjadi tanda tanyanya. Padahal gadis kecilnya kini sudah teramat dewasa.

“Adel, Ibu minta maaf, karena kamu harus mengetahui hal ini dari orang lain, bukan dari mulut Ibu atau Ayah,” ucap Ibu, masih dengan isak yang terdengar semakin keras.

Adella melepaskan pelukan ayahnya kemudian tersenyum sembari mengusap pipi Ibu. “Sejujurnya, Adella nggak ngerti ini semua, Bu. Tapi, Tante Alana bilang, suatu saat Adella akan mengerti. Jadi Adella cuma harus sabar,” katanya lagi.

Ibu kemudian menangis sejadi-jadinya, remuklah sudah seluruh benteng ketegaran yang coba ia tunjukkan di hadapan putrinya. Ia tak menyangka bahwa anak semata wayangnya itu dapat berkata jauh lebih dewasa, lebih tegar darinya. Ia mampu menerima sesuatu yang pasti amat sangat meremukkan hatinya.

“Ibu.. Ayah, apapun yang terjadi. Adella akan selalu sayang.”

Ia tersenyum manis sekali. Walau air matanya turut menetes di wajahnya yang ayu, namun senyumnya masih terus mengembang di sana. Ayah kembali mendekapnya erat, lagi-lagi tak mampu membendung air mata yang tumpah. Adella memeluk ayahnya erat, tangan kanannya menggapai-gapai lengan Ibu.

Senyum itu. Senyum buah hati yang selalu ia jaga sepenuh hati dengan segenap jiwa raganya.

Ibu meraih tangan Adella, menangis bersimpuh dan memeluk anak tersayangnya. Ketiganya kini berpelukan dalam tangis yang mengiris kalbu. Mengeratkan hati dicatas duka yang terasa amat pedih, dengan penyesalan yang membuncah, dengan harapan yang terkikis.

Ibu mencium kening Adella, dan memeluk bahu suami di sampingnya. Ia tersadar akan satu hal, bahwa tak mungkin ia membiarkan senyum tercantik putrinya itu menghilang. Ia tak berhak mengatasnamakan luka sehingga membiarkan hidup merenggut kebahagiaan keluarganya lagi.

“Jadi, hari ini kita mau jalan-jalan ke mana? Udah lama kita nggak makan toge goreng ya?” tanya Ibu, melonggarkan dekapan Adella sambil mengusap air matanya. Adella terkejut, begitu pula suaminya yang masih bersimpuh di sampingnya. Ibu tersenyum, memastikan pada cinta di hadapannya bahwa semua akan baik-baik saja.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Jimmy Tompkins on Unsplash

3+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *