El-Classico

3+

Pertandingan bola tarkam El Classico antara Desa Sumber Makmur dengan Desa Sumber Rezeki ramai diberitakan. Tapi, bukan itu isi beritanya. Headlines di semua media: Piala Tarkam yang menjadi lambang supremasi perjuangan telah hilang.

LANGIT mendung, awan berubah warnanya menjadi abu-abu pekat. Angin kencang mendorong awan itu bergulung-gulung menuju selatan. Penduduk Desa Sumber Makmur yang berada di selatan tengah asik menonton pertandingan sepak bola “tarkam” alias antarkampung. Kesebelasan Desa Sumber Makmur berhadapan dengan musuh bebuyutannya dari Desa Sumber Rezeki.

“Ini, el clasico,” kata Kang Edun sambil mengisap klobotnya.

“Lumayan, jika PSDSM menang maka, saya bisa membayar utang-utang saya di warung Cak Kodir,” katanya lagi, sambil teriak-teriak mengatur pemain yang tengah berlaga.

Gayanya bak The Special One Jose Mourinho, njengkelin betul. Asap klobotnya mengepul mengitari kepalanya yang plontos.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam sore, menjelang Maghrib. Pertandingan sudah memasuki masa injury time. Para penonton dari dua desa yang bertanding terus bersorak sorai memberikan dukungan pada tim masing-masing. Awan bergulung-gulung di langit. Matahari sudah redup tak bersisa sejak tadi, namun pendukung dari dua desa yang bertanding masih ramai di lapangan Desa Sumber Makmur.

Petir menggelegar. Orang-orang kaget, tapi tidak sedikit yang cuek dan masih asyik dengan tontonannya. Langit semakin gelap, kilat sambar menyambar. Orang-orang mulai panik. Sementara itu, dua kesebelasan yang menjadi seteru bebuyutan terus berebut bola mencuri gol.

“Kita harus menang!” teriak pendukung Desa Sumber Rezeki. Lalu lagu, “Yooo ayo…Ayooo Sumber Rezeki…yooo ayooo…kita harus menang,” membahana sahut menyahut.

Pendukung tim Desa Sumber Makmur juga tak kalah garang, sambil mengibarkan bendera-bendera dan spanduk-spanduk mereka juga menyanyikan anthem khasnya, “PSDSM di dadaku… kuyakin hari ini pasti menang…”

Sore semakin gelap. Angin berhembus kencang menerbangkan sampah-sampah, menghalau apa saja yang ada di hadapannya. Langit runtuh, air tumpah dari langit. Orang-orang berlindung menyelamatkan diri masing-masing. Wasit lari terbirit-birit menyelamatkan diri sambil meniup pluit panjang. Priiiiiiitt….!

Esok harinya, pertandingan bola tarkam El Classico antara Desa Sumber Makmur dengan Desa Sumber Rezeki ramai diberitakan. Pemberitaan bukan tentang bagaimana hasil pertandingan. Bukan juga soal persaingan si Tukang Gocek versus Si Tendangan Tanpa Bayangan. Mereka sama-sama mahir menggocek bola, sama-sama jago mengirim bola-bola lambung. Umpannya terkenal mematikan, tendangannya akurat, dan sering menjebol gawang lawan. Tapi, bukan itu isi beritanya. Headlines di semua media, memberitakan: Piala Tarkam yang menjadi lambang supremasi perjuangan telah hilang.

Adzan Ashar berkumandang. Aku terhenyak dari lamunan. Kulihat keluar jendela, Jakarta semakin berkabut.


Photo by jason charters on Unsplash

3+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *