Cerpen Qiya Althea: Di Antara Dua Cinta

7+

Luka,  semua orang memilikinya. Namun, hanya sedikit yang dapat mengubahnya menjadi kekuatan. Luka yang dibuat masa lalu dapat menjadi sebuah pelajaran berarti. Luka itu ada dengan sebuah alasan mengiringinya.

“Kau tahu Huma? Luka itu bukan sesuatu yang harus dijadikan kelemahan. Tak perlu kau menangisinya.” Aku melihat dia, sesosok laki-laki. Aku tak mengenalnya sungguh. Ia duduk berhadap-hadapan dengan ku. Kedua tangannya memegang secarik kertas.

Ia melanjutkan kalimatnya, “Orang baik harus memiliki dua hati, yang satu untuk menangis dan yang satu untuk ikhlas.” Ia memainkan kertas itu, melipatnya menjadi hati. “Aku tak mengerti maksudmu.”

Tersenyum, itu yang kulihat. “Nanti kau akan tau maksudku, karena kau orang yang baik Huma.”

Ia berdiri, melangkah pergi, menjauh menyusuri lorong serba putih yang panjang. Menghilang dipeluk cahaya besar.

Aku terbangun, terengah sambil menerka keadaan. Kulihat jarum jam menunjuk pukul 03.00 pagi. Jantungku masih berdebar, masih memikirkan siapa gerangan laki-laki di mimpiku itu.

“Hanya mimpi Huma.” Sergahku segera pada pikiran yang tiba-tiba kalut membayangkan yang tidak-tidak. Aku melihatnya dimimpi, tapi sedikitpun tak kukenal wajahnya.

“Hanya bunga tidur,” gumamku lagi.

***

Napas memburu, seperti aku yang sedang diburu waktu. Aku terlambat di hari pertama sekolah dan ini akan sangat memalukan. Parahnya lagi, tak sengaja aku menabrak seseorang. Buku yang kupegang berhamburan jatuh.

“Maaf, aku tak melihatmu,” ujarku sambil memunguti buku. Aku sempat melihat wajahnya, seorang pria yang memiliki kisaran umur dua puluh tahunan dengan wajah manis dan rambut hitam semu kecoklatan. Di matanya bertengger sebuah kacamata minus, hidungnya mancung, kulitnya putih.

Ia membungkuk, melakukan hal yang sama denganku. “Seharusnya aku yang minta maaf.”

Ia berikan buku yang dipegangnya kepadaku. Entah, aku yang salah lihat atau memang mataku sedikit bermasalah, tapi wajahnya begitu bercahaya. Serasa ada pancaran dari tubuhnya, seperti sayap tak kasat mata. Senyumnya manis, matanya tajam namun meneduhkan. Suaranya khas, lembut tapi tegas. Tak asing, itu hal pertama yang terlintas di benakku. Aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi di mana?

Aku menerima buku itu, masih menerka sebenarnya di mana aku pernah bertemu dengannya?

“Ehem, afwan bukannya kamu harus masuk kelas?” Aku menggelengkan kepalaku, menyadarkan diri dari lamunanku sendiri.

Astaghfirullah, maaf Kak.” Tanpa basa-basi ataupun terimakasih aku langsung meninggalkannya. Malu, itu kata yang tepat. Mengapa bisa aku tatap dia sampai sebegitunya, bagaimana kalau dia berpikir yang tidak-tidak?

Aku sampai tepat waktu. “Huma, kenapa kamu?” tanya Rumi sahabatku. Aku bilang padanya bahwa aku kesiangan karena tertidur sehabis shalat Subuh tadi. Tepat di saat itu, guru kami masuk dan betapa terkejutnya aku.

Bukannya itu Kakak yang tadi dikoridor ya? Batinku. Ia tersenyum, memandang seisi kelas yang isinya hanya perempuan. Ya, di sekolahku ini murid dibagi menjadi dua kelas setiap tingkatan. Kelas laki-laki dan perempuan, jadi tak heran jika teman sekelasku ini sebagian besar kaum hawa.

Ia mulai dengan salam, “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” dengan serempak kami menjawabnya.

“Sebelumnya kalian pasti baru lihat saya di sini ‘kan? Saya guru di SMP sebenarnya. Tapi karena Kak Hanif berhalangan, jadi beliau minta tolong saya untuk menggantikannya. Oh ya, hampir terlupa, nama saya Azzam Hasbullah. Kalian bisa panggil Kak Azzam. Hari ini, kita tidak belajar. Saya ingin sharing-sharing saja.” Ia mulai membuka kelas.

Aku tak tahu mengapa, tapi ada rasa yang berdesiran aneh. Aku tahu dia, Azzam Habullah, guru komputer di SMP sekolahku. Pantas wajahnya tak asing karena aku memang pernah melihatnya beberapa kali. Tapi dengan bodohnya aku tak pernah tahu namanya.

Aku memang mengaggumi guru yang satu ini. Ia seseorang yang unik, penuh wibawa di usia yang masih terbilang muda, humoris dan humble. Itu yang kutahu dari sahabatku Rumi. Sewaktu masih kelas satu dulu, dia pernah mengisi materi saat masa orientasi siswa. Ia menjelaskan banyak hal, menjawab satu per satu pertanyaan kami. Aku mengenalnya sebatas, dia guru komputer yang merangkap jadi teman curhat para siswanya karena punya pengalaman belajar ilmu psikologi. Jadi tak heran jika banyak yang bertanya seputaran  itu. Tentang kepribadian, masalah keluarga, bahkan bertanya tentang cinta. Dia jawab dengan padat dan jelas.

Sekarang giliran aku yang bertanya, “Kak Azzam, apa akibat dari membandingkan seorang anak dengan anak yang lain?” tanyaku dan disambut senyuman.

“Apa itu dilakukan oleh orangtuamu?”

Aku menggeleng, “Tidak juga, tidak sering, namun yang sering kerabat dekatku. Mereka sering membandingkanku dengan sepupuku yang lain.”

“Jika orangtua, bisa jadi ada dendam yang tersimpan. Dan akibatnya bisa dirasakan saat kamu berkeluarga nanti. Tapi kalau masih kerabat dekat, saya rasa itu tak apa.”

Aku mengangguk paham. Setelah pertanyaan itu, aku makin penasaran dengannya. Siapa sebenarnya kamu Kak? Kenapa aku melihatmu berbeda?

***

Sudah tujuh bulan berlalu, aku semakin sering melihatnya dan berbincang tentang masalahku. Aku meminta tolong padanya untuk memberiku nasihat, saran atau sekedar bertukar pikiran.

“Kakak tahu? Dulu aku sering berpikir ingin mati. Capek Kak, capek dibanding-bandingkan dengan yang lain. Aku ingin menjadi diriku. Itu saja, susahkah? Setiap hari orangtuaku berbicara seakan aku tak melakukan apa-apa. Berapa kali sudah aku goreskan benda tajam ke pergelangan tangan ini. Aku tak mau, tapi aku lelah. Tak ada yang peduli padaku, apalagi menyayangiku.”

Bendungan air mata jebol, tumpah ruah membasahi pipi. Ia tersenyum, memandang langit. Tangannya mengait satu sama lain. Aku memperhatikannya sambil sesekali terisak, menunggu jawaban. Wajahnya sedikit mendung hari ini, mungkin karena lelah. Matanya menyiratkan itu. Ia lalu menunduk dan menjawab pertanyaanku.

“Huma tahu? Banyak yang sayang sama Huma. Huma cuma butuh meluaskan pandangan Huma agar menangkap rasa kasih sayang itu. Untuk apa Huma lukai diri Huma? Masih banyak orang yang lebih susah dari kamu, tapi mereka masih bisa tersenyum bahkan tertawa riang. Kalau Huma lakukan itu, atau sampai ada niatan ingin bunuh diri… Berarti kamu tidak berterimakasih pada Allah, kamu juga tidak berterima kasih pada Ibu dan Ayahmu. Huma kuat, segera selesaikan masalahmu. Adukan pada Allah.”

Sekali lagi ia tersenyum. Aku mengangguk sambil menyeka air mata. “Bagus, anak pintar. Kakak tahu kamu bisa,” pujinya. Hanya senyum yang kujadikan sebagai balasan.

“Besok jadi ikut jalan ke taman rekreasi?”

Aku mengangguk, “Jadi Kak, aku langsung ke sana aja. Nanti ketemu di gerbang depan.”

Ia ikut  mengangguk. “Ya sudah, Kakak pamit dulu. Masih ada tugas. Wassalamu’alaikum.”

Kak Azzam beranjak pergi, meninggalkan desiran yang dari berbulan-bulan lalu tak kunjung hilang. Banyak yang terjadi selama satu semester ini. Aku merasakan perasaan yang aneh setiap kali bertemu dengannya. Terlebih lagi malam itu, saat salah satu kawanku mengundang kami pergi ke rumahnya untuk syukuran pertambahan usianya. Kak Azzam bergurau dengan bahasa Sunda sepanjang jalan, sampai-sampai selama seminggu penuh logat Sunda itu masih kental di lidahku. Tertular ceritanya.

Aku mengaguminya dalam diam, jujur ia kuanggap menjadi perantara Allah untuk menyelamatkanku dari luka masa lalu dan kecerobohan yang Alhamdulillah sudah kuhentikan itu. Namun menghilangkan bekasnya sedikit rumit. Kak Azzam sangat baik, walaupun terkadang sikapnya sedikit konyol dan mengherankan, tapi hal itu tak membuatnya kehilangan wibawa. 

Dengan cepat kami akrab. Aku percaya padanya dan ia sudah seperti kakak bagiku. Ia banyak memberiku nasihat, menurutku dia bukan lagi guru komputer tapi sekarang sudah menjelma menjadi mentor kehidupan. Cuma satu yang menyebalkan darinya, menebak-nebak sesuatu dan anehnya tebakannya itu benar, tepat pada sasaran. Seperti seakan dia bisa membaca pikiran siapa saja yang ada di dekatnya.

Seperti hari ini, saat rencana jalan-jalan kami ke tempat rekreasi. Ia bertanya tentang luka yang kubuat sendiri dengan kecerobohanku. Sesuatu yang kusembunyikan selama bertahun-tahun. Tertutup rapat di kotak memori kelam yang aku bersumpah tidak akan pernah membukanya lagi. Tapi dengan mudahnya seorang Kak Azzam membukanya tanpa permisi dan tanpa aba-aba. Entah dari mana ia temukan kunci hitam masa lalu itu.

Saat itu tiba-tiba dengan wajahnya yang ia buat terkesan kaget, ia mengacungkan jarinya kearah wajahku. Dia berbisik sambil bertanya. “Huma, kamu punya trauma sama laki-laki ya?”

Sontak aku menggeleng saking terkejutnya. Ia terus menebak-nebak dan berulang kali kujawab dengan tidak.

“Jangan bohong sama Kakak, kamu nggak akan pernah bisa bohong sama yang namanya Azzam Hasbullah.”

Aku diam, seakan hariku yang sempurna itu hancur. Aku tersedot ke lubang hitam, mereka-reka adegan yang dulu terjadi.

***

Ku tatap layar ponsel dengan penuh penyesalan. “Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan? Ini dosa besar! Mengapa dengan cerobohnya aku iyakan dan aku menurut saja?” Di sana, di sisi lain dari ponsel itu ada seorang pria yang meminta sesuatu padaku. Bagian dari mahkota seorang wanita, kehormatannya, hal yang sebenarnya tak boleh terjadi padaku yang masih kelas dua SMP ini. Ia membujukku dengan kata-kata manis bak setan penghasut jiwa yang kala itu iman sedang surut padanya. Bodohnya aku mengikuti hawa nafsu itu. Aku menyesal, sangat menyesal

Setelah itu terjadi aku hanya meringkuk disudut ruangan menyumpahi diriku sendiri  yang dengan rela menyeret diri ke lubang neraka.

“Kau kotor Huma, dirimu berdosa! Bagaimana kalau Bunda dan Ayah tau? Bagaimana kalau nanti dia, si laki-laki itu menyebarkannya? Dan coba kau bayangkan balasan apa yang akan kau terima? Allah tahu, Allah Mahatahu! Mengapa kau tak ingat itu? Kau bahkan tak pernah bertatap muka dengan laki-laki itu?”

Aku menangis kencang. Dada ku sesak, terisak tanpa henti. Aku mentap langit-langit rumah, menyesali apa yang kuperbuat. “Ya Allah marahkah Engkau padaku? Aku telah mengecewakan-Mu? Aku telah berdosa!” Terisak lagi. Tiba-tiba ponselku berdering, laki-laki itu menelponku. Berulang kali kutolak, berulang kali pula ia mengancam.

“Jawab telponku atau kusebar fotomu!”

Ya Allah, apa ini jurang itu? Aku telah terjebak di dalamnya dengan kebodohan yang kuperbuat. Dengan bergetar kubalas pesan itu.

“Maaf, aku telah membuat kesalahan! Jangan lakukan itu kumohon!!” tulisku.

“Jangan munafik, aku tahu kau juga mau! Lagi pula tak akan ada yang tahu!”

Tangisku semakin berat, semakin kencang terdengar.

“Tapi  Allah tahu… Aku bodoh, aku iyakan ajakan setan.” Hanya di-read.

Aku menelponnya, aku ketakutan. Dia mengangkat telepon itu. “Aku mohon jangan!” Aku menangis hebat, memohon agar dia tidak menyebarkan apapun tentangku.

Dia diam tanpa suara. Aku hanya mendengar suara deru napas. “Aku menyesal! Jangan buat aku lebih menyesal dari ini… Kau manusia kan? Setidaknya kau punya hati nurani.”

Masih diam. Tetapi ada helaan berat di sana. “Aku mengerti, aku tak bisa memaksamu. Maaf berbuat seperti ini padamu. Aku tak akan membocorkan apapun. Kau boleh memblokirku, silakan. Sekali lagi maaf.”

***

“Allah masih menyayangiku saat itu Kak. Aku masih beruntung, ia tak sebar foto itu. Aku benar-benar merasa malu. Aku takut Allah nggak akan pernah memaafkan aku. Mungkin aku salah telah bercerita ini pada Kakak, karena Kakak laki-laki.” Aku mengakhiri cerita panjangku. Ya, setelah hari itu aku menjadi tidak tenang. Beberapa minggu aku menjadi murung. Karena itulah aku memberanikan diri untuk bercerita. Ia tersenyum padaku,

“Apa salahnya bercerita untuk mendapatkan solusi?” Aku melihatnya dengan heran. “Aku takut Kakak jadi ilfil padaku.”

Ia tergelak pelan. “Sejak kapan sih Kakak pernah ilfil sama seseorang?” Aku menggeleng. Dia sedikit tertawa dan melanjutkan kalimatnya. “Yang ada orang-orang yang illfil sama saya.” Ia tertawa lepas, senyumnya mengembang dengan lesung pipi yang mengintip.

Aku ikut tertawa melihatnya. Desiran ini semakin kuat, semakin nyata. Tawa kami mereda, aku menatapnya lekat. Dia orang yang baik, aku tahu itu. Bahkan dari caranya bersikap dan caranya berucap. Walaupun banyak dari teman-temanku yang bilang bahwa dia cukup menyeramkan. Aku paham mengapa mereka bilang begitu. Aku akui, Kak Azzam adalah orang yang misterius. Tak banyak orang yang tahu bagaimana masa lalunya, atau bagaimana dia yang sebenarnya. Ditambah lagi tatapannya yang tajam dan kemampuannya dalam menebak sesuatu. Sudah seperti salah satu tokoh di buku Twilight, Edward Cullen. Padahal sebenarnya dia orang yang supel dan menyenangkan.

“Jadi? Bagaimana caranya terlepas dari masa lalu itu?”

Ia masih menunduk, mengarahkan pandangannya ke tanah. Ia menjawab pertanyaanku dengan hal sederhana namun sulit untuk dilakukan. “Semua manusia di dunia ini memiliki masa lalu yang kelam Huma. Tidak hanya dirimu, tapi juga Kakak dan orang-orang lain di luar sana. Tinggal bagaimana kita bisa memaafkan diri kita dan masa lalu. Ikhlas terhadap apa yang telah terjadi dan memastikan kita menjadi orang yang lebih baik. Allah itu Maha Pemaaf, bicaralah pada-Nya. Adukan semua keluh kesahmu, Allah akan selalu dengarkan. Minta ampun, akui jika memang kamu salah, akui jika memang kamu malu. Percayalah pada-Nya.”

Mengikhlaskan. Itu jawaban dari semua masalahku. Allah memang Mahabaik, ia berikan jawaban di waktu yang tepat dan lewat perantara yang tepat.

Aku menatap langit, begitu pula dengannya. Kami sama-sama menatap hamparan luas itu, berharap Sang Maha Segala juga menatap kami. Aku percaya pada-Nya dan aku juga percaya pada orang di sebelahku ini. Entah apa yang Allah siapkan untukku, tapi aku rasa ada sesuatu spesial yang Allah titipkan pada orang ini dan aku harus mencari makna di baliknya.

Dering telepon membelah kesunyian di antara kami. Aku melihat Kak Azzam sibuk mencari asal suara itu. Setelah ia dapati handphone miliknya, ia jawab panggilan dari seberang. Wajah yang tadinya penuh keceriaan berubah menjadi kelabu. Aku memperhatikan setiap gerak-geriknya, “ Di Fatmawati? Ah, baiklah saya segera ke sana.”

Ia tutup panggilan itu dengan salam. Aku masih melihatnya dan tiba-tiba saja ia menatapku dengan tatapan tak enak. Aku mengerti maksudnya, ia harus pergi bertugas menolong orang-orang yang membutuhkan bantuannya.

“Nggak apa-apa, kalau ada waktu kita sambung asja.” Ia menatapku, membaca ekspresi di wajahku. Mungkin ia takut aku marah atau kecewa, karena setiap kali konseling dia sibuk bukan kepalang. Terakhir kali dia harus pergi ke kantor polisi untuk meminta berkas-berkas yang aku tak tahu sama sekali untuk apa itu.

 “Maaf ya Huma, InsyaAllah nanti kalau Kakak pulang dari tugas advokasi ya. Kakak pergi dulu. Assalamu’alaikum.”  Ia beranjak pergi, masih saja meninggalkan desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuhku. Sebetulnya apa yang salah sih denganku? Setiap kali aku bertemu atau bahkan hanya sekadar melihatnya dari jauh pasti aku merasakan hal ini. Aneh, ini mengganggu sekali.

Aku beranjak pergi dengan seribu tanya tentang apa yang terjadi. Kulanjutkan aktivitasku dengan normal di hari itu.

Jatuh cinta bukanlah perkara sepele bagiku. Aku tak terlalu menyukai kenyataan aku sedang dibuat terkena virus merah jambu. Rasa itu fitrah memang, yang sulit hanyalah menjaga ia tetap berada di dalam koridornya. Aku baru menyadari bahwa desiran demi desiran yang kurasakan itu adalah sebuah rasa baru. Apa yang bisa kulakukan hanyalah menerimanya dan menjaganya. Namun betapa rumitnya itu, terlebih lagi saat aku harus dihadapkan oleh perasaan cemburu.

Aku tahu, yang menyukainya bukan hanya aku. Yang mendoakannya bukan hanya aku. Aku paham betul banyak wanita yang kagum pada sosoknya dan karena itulah aku jadi berusaha menghilangkan rasa ini dengan paksa. Sayangnya, semakin kupaksakan semakin parah aku jatuh tersungkur. Dia laki-laki yang kuat dan baik. Aku jatuh cinta karena itu dan juga yang kutahu pasti, ada Allah di hatinya.

***

“Ini semakin parah Mas Azzam. Saya rasa kemungkinan untuk bertahan hanya 30%”

“Maksud dokter?” Ia Menghela napas.

“Anda jarang transfusi akhir-akhir ini, dan ini mengakibatkan kondisi tubuh anda juga jadi semakin buruk. Lebih baik kita segera lakukan transfusi lagi.”

Kepalaku menggeleng tak setuju, “Tidak dok, saya tidak punya biayanya. Lagi pula saya sudah bilang saya tidak mau lagi transfusi.”

“Tapi Mas,” sergahnya.

“Dok, jika tugas saya di dunia ini memang sudah selesai dan saya harus kembali pada Rabb saya. Berarti itulah yang terbaik.”

Diam, hanya itu respons yang diberi dokter di hadapanku ini. Aku tahu ini tugasnya, dia sudah disumpah untuk menolong orang-orang seperti aku. Namun benar bukan? jika tugasku sudah selesai dan Allah berkehendak untuk memanggilku, itulah saatnya aku pergi.

Sejak lahir aku mengidap penyakit thalasemia, sebuah penyakit yang membuatku harus terus melakukan transfusi darah setiap bulan dan jika aku tidak melakukannya, aku bisa saja mati. Penyakit ini membuat tubuhku tak bisa memproduksi sel darah merah sendiri. Aku tak bisa banyak beraktivitas yang menguras banyak energi karena mudah lelah. Namun walau begitu, aku tetap saja tak bisa diam. Aku melakukan pendampingan bagi orang-orang yang membutuhkan, bahkan bisa-bisa sampai larut malam. Ke kantor polisi, ke rumah sakit, konseling, hal-hal seperti itulah. Biasanya orang-orang menyebut ini sebagai advokasi. Alasanku melakukannya, karena aku ingin melindungi orang lain dengan sayap yang kumiliki, walaupun tubuhku ini lemah dan sayapku patah. Karena aku percaya tidak ada perbuatan baik yang sia-sia dan juga aku ingin menghadap Allah dengan bekal yang cukup nantinya.

“Terserah Mas, tapi saran saya, Mas tetap harus transfusi.”

Aku menjawabnya dengan anggukkan singkat. Aku keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang terasa hancur remuk. Aku pingsan tadi di koridor rumah sakit. Aku pingsan saat sedang mengantar orang yang butuh bantuanku, ini tak lucu.

Lelah sekali, aku baru mengantar seorang gadis kecil ke rumah sakit ini. Dia mengalami kekerasan, sungguh miris. Aku pernah merasakannya, luka masa lalu yang pernah Ayahku torehkan. Ia sering bertindak kasar padaku. Dan karena dia jugalah aku bisa mengidap penyakit selangka thalasemia ini.

Aku terus menyusuri koridor, mencari rekan yang tadi bersamaku. Namun  tiba-tiba ponselku bergetar. Saat ku lihat, terpampang nama Humairah dan sebuah pesan singkat.

“Assalamu’alaikum afwan Kak. Tadi Bu Sarah nyariin. Dia antarkan map nilai buat Kakak. Sudah Huma taruh di meja Lab Komputer.”

“Ah, iya makasih Huma. Ngomong-ngomong sudah di rumah ya?”

“Alhamdulillah sudah, kenapa memang?”

“Tidak, Alhamdulillah kalau gitu. Sudah sore soalnya. Sekali lagi terimakasih ya.”

Kutaruh lagi benda itu di tempatnya semula. Humairah, gadis yang baru saja kukenal. Dia berbeda dari muridku yang lain. Jujur saja, dia unik. Dia berhasil mencuri perhatianku. Lucunya, kemarin kudengar dari kawanku bahwa dia menyukaiku. Tak sulit untuk menebak itu, sudah terlihat dari gelagatnya. Aku tak menyangka dia bisa jadi sangat percaya padaku, bahkan sampai menceritakan sebuah rahasia yang luar biasa. Tentang lukanya di masa lalu. Dia anak yang baik, menurutku dia hanya terpeleset. Semua orang pernah melakukannya, dan itulah yang akan menempa mereka menjadi sesuatu yang istimewa, sangat istimewa.

***

“Dan pada akhirnya semua akan kembali pada-Nya. Dunia ini sementara, cinta ini sementara, kita hidup untuk mempersiapkan mati. dan jika saat itu datang, kita harus sudah siap. Allah berikan kita luka untuk jadi penguat. Ia hadirkan ujian sebagai teguran. Dan ia hadirkan cinta sebagai pemanis kehidupan. Mahabesar Dia dan Mahabaik Dia.”

                                                                                                                        Azzam Hasbullah

Senyum mengembang dari bibir Humairah. Ia membaca sebait kalimat di secarik kertas yang dijadikan pembatas buku. Ia kembali membuka lembaran demi lembaran buku catatan yang dipegangnya. Membaca kalimat demi kalimat, bait demi bait, yang selama ini tersimpan rapi dan rapat dari dirinya. Ia kembali menelaah sebuah catatan, kali ini untuk dirinya.

Depok, 18 September 2018.

Assalamu’alaikum Huma,

Ini catatan yang saya buat untukmu. Apa kabar? Saya yakin saat kamu membaca ini, kamu sudah melihat saya pergi menjauh. Huma, maaf  kakak tak bisa membalas apa yang kamu harapkan sekalipun Kakak menginginkannya. Percayalah Allah Mahabaik. Jadilah perempuan yang kuat, berbahagialah, Kakak titip Huma sama Allah. Jaga diri baik-baik.

                                                                                                                      Azzam Hasbullah.

Rentetan air mata memaksa keluar dari kelopak matanya. “ Ya Allah Mahabaik Kak…” Ia tatap langit dengan seulas senyum penuh arti.

***

“Rumi, sebentar lagi kenaikkan kelas bukan? Kamu ikut mapel tambahan tidak?” tanyaku pada Rumi yang sedang membaca buku tebal yang ia pegang. Matanya masih sibuk menelusuri kata demi kata sampai akhirnya dia angkat suara.

“Ya tentu sajalah Huma, kan aku mau dapat nilai bagus. Eh ngomong-ngomong enak kali nih ngegosip,” ujarnya dengan muka jail.

“Kamu ini, memangnya mau bahas apa?”

Ia menunjuk ke arah ku. “ Tentang kamu dan Kak Azzam, kelihatannya semakin nempel aja kalian.”

Seringai jail menghiasi wajahnya. Mukaku merah padam, menahan malu. Bisa saja si Rumi “ Jangan bahas itu, Rum.”

Melihat ku salah tingkah, ia tertawa terpingkal-pingkal. “Cie… Huma jadi seperti kepiting rebus. Tapi kenapa akhir-akhir ini aku jarang lihat Kak Azzam? Apa Humairah kalah pamor dari Kak Sonia?” Makin jadi dia meledekku.

Kukerucutkan bibirku tanda kesal. “ Rum, mau Kak Azzam dekat Kak Sonia atau aku kalah pamor darinya. Aku tak peduli, biarkan saja.”

Rumi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Iya deh,”  matanya mengerling.

Tentang Kak Azzam sendiri, benar kata Rumi, aku jadi jarang bertemu atau sekadar bersapa sejak beberapa bulan belakangan ini. Aku harus fokus untuk ujian dan persiapan kelas tiga. Soal Kak Sonia, dia kakak kelasku yang memang sedang dekat-dekatnya dengan Kak Azzam. Jadi, entah mengapa karena hal itu, dia jadi sedikit menjauh dariku. Sama saja seperti dapat teman baru malah lupa dengan yang lama. Ya, husnudzon  mungkin saja Allah memberi kode agar aku menjaga jarak dengan orang yang berhasil mencuri degup jantungku itu. Mungkin Allah cemburu,  jadi aku disuruh merasakan kecemburuan itu. Aku hanya bisa berpikir positif mengenai hal ini. Mau dia jodohku atau bukan, Allah tahu yang terbaik bukan?

“ Tapi aku penasaran, di mana si dia?” Bahuku terangkat menandakan tak tahu.

“Urusanku tahu kabarnya apa Rum? Aku bahkan tak melihatnya sebulan ini. Pelajaran Komputer di SMP saja diganti dengan guru baru. Katanya sih dia ada urusan di luar kota.”

Lagi-lagi Rumi menyeringai jail. “ Bilang saja kamu rindu.”

Rumi, selalu senang sekali meledekku. Tiba-tiba benda disakuku bergetar hebat, kurasa ada yang meneleponku. Di layar benda persegi itu terpampang nomor asing. Tak pikir panjang kuterima panggilan itu dan mendapati suara seorang wanita di seberang. Dia bertanya apakah ini Humairah, tentu ku jawab iya.“Maaf ini siapa ya?”

“Nak Huma, ini Uminya Azzam.”

“Oh iya, ada apa ya Mi? Apa ada sesuatu?”

“Nak Huma, punya kenalan dengan golongan darah A tidak?”

Mendengar pertanyaan itu aku terdiam. Belum sempat menjawabnya ada suara laki-laki di seberang sana yang meminta si Ibu memberikan teleponnya pada dia. Aku menyimak suara samar di seberang, seperti suara Kak Azzam. Masih hening, tak ada sepatah kata pun yang kukeluarkan dari mulutku. Kebingungan melanda, untuk apa golongan darah A? Donorkah?

Kini suara berat seorang lelaki yang kudengar. Suaranya parau dan lemah.

“Assalamu’alaikum Huma, ini Kak Azzam… Maaf Kakak yang suruh Umi Kakak telepon kamu. Handphone Kakak mati dan ini genting.”

Aku mengernyitkan dahi. “ Iya, memang siapa yang butuh donor darah?”

“Seseorang,  kalau ada tolong hubungi Kakak ya. Besok boleh minta tolong? Kakak mulai ngajar lagi, tapi butuh sedikit bantuan untuk ngawas.” ujarnya tergesa.

“Bisa, nanti aku datang lebih pagi. Kebetulan besok aku libur.”

“ Makasih Huma…” Sambungan itu terputus. Seharian itu di pikiranku hanya ada pikiran tentang dia, buat apa donor darah? Siapa yang sakit? Pikiran itu menghantui ku.

Bahkan ketika keesokan harinya aku tak bisa konsentrasi mengawasi adik-adik kelasku. Alasannya? Aku mengkhawatirkan kondisi Kak Azzam yang pucat pasi. Walaupun kelihatan tak enak badan, ia tetap bercahaya seperti biasa. Senyumnya mengembang sempurna, tawanya nyaring, matanya berbinar walaupun sedikit redup. Berkali-kali kutanyakan kondisinya dan hanya dibalas dengan anggukkan dan senyuman. Ia seakan malaikat dengan sayap yang patah hari ini.

“Huma, saya boleh bicara sebentar?” Sembari melangkah keluar, ia menatapku dengan tatapan yang aneh.

“Boleh, di mana?”

Telunjuknya mengarah ke kursi dengan meja di taman sekolah. Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Kami duduk berhadapan, lama terdiam sebelum akhirnya ia angkat suara.

“Kemarin ada seseorang yang bilang pada saya, bahwa ada rasa yang kamu simpan terhadap saya, apa benar?”

Pipiku terasa panas mendengar ucapannya. Siapa yang beritahu? Ya Allah ini apa? Lidahku kelu, aku tak sanggup menjawab apapun yang dia tanyakan sekarang. Tubuhku kaku, kepalaku tertunduk, jantungku berburu, mulutku terkunci rapat. Tak berani kukeluarkan kata.

“Diamnya wanita berarti iya. Maaf Kakak bertanya begini.” Seulas senyum mengembang dari bibirnya

“M-memang kenapa?” kuberanikan diri bersuara.

“Saya cuma mau memastikan, bahwa apa yang saya rasakan sama seperti apa yang kamu rasakan.”

Sontak mataku terbelalak, terkejut atas pernyataan yang barusan ia lontarkan. Kau tahu rasanya ingin terbang tapi takut jatuh? Campur aduk sudah yang kurasakan. Melihat ekspresiku ia tertawa, namun detik berikutnya ia menatapku sendu.

“Huma, tapi saya minta maaf. Saya tidak bisa membalas rasa itu. Kamu masih muda, waktumu masih panjang. Semoga Allah beri ganti yang lebih baik.”

Mataku panas, air mata tertumpah begitu saja. Bagaimana bisa dia menerbangkanku lalu menjatuhkanku ke tanah begitu saja?

“Ada apa?” ia tertunduk, lalu berdiri.

“Kamu mempunyai waktu yang panjang, sedangkan saya tidak.” Ia berdiri hendak beranjak pergi, namun tiba-tiba badannya terhuyung. Kulihat cahaya redup dari dirinya, sayapnya patah berkeping-keping. Tubuhnya yang selama ini tegap menapak bumi, jatuh tersungkur begitu saja.

“Kak Azzam!!” aku terserang panik. Wajahnya benar-benar pucat, badannya terkulai lemah tak ada daya. Sontak aku berteriak meminta pertolongan. Ada apa dengannya? Orang yang biasanya kulihat begitu bugar dan ceria, tiba-tiba tumbang tanpa alasan.

***

Aku terbangun dengan benda asing menempel di tubuhku. Kini tubuhku terbaring lemah.

“Kenapa Kakak tidak pernah cerita?” sayup-sayup kudengar suara seorang gadis. Gadis yang terbelenggu masa lalu. Ia menatapku dalam, kesedihan benar-benar menguasainya.

“Untuk apa kamu tahu? Saya tidak ingin kamu khawatir.” Air menganak sungai di pipinya yang kemerahan.

“Jangan menangis saya mohon.”

Ia seka air matanya.      

“Kenapa Kakak memaksakan diri? Umi Kakak cerita semuanya, tentang penyakit Kakak, tentang Kakak yang kemarin memaksakan diri tugas sampai subuh, tidak makan, kurang minum, transfusi darah berhenti dari 6 bulan yang lalu, Kakak mau mati? Kenapa Kakak peduli dengan orang lain tapi tak memperdulikan diri sendiri?” Emosinya meledak bukan main. Huma bukan tipe gadis yang akan meluapkan emosinya sampai sebesar ini. Jika dia begini, artinya dia sudah tak kuasa menyimpan apa yang ada di dalam hatinya.

Aku terdiam, memeperhatikan sekitar. Di ruangan ini hanya ada dia dan aku yang terbaring dengan selang infus yang menancap ke pembuluh darah. Aku menghela napas perlahan, kujelaskan semua.“Huma, kondisi saya lemah sejak kecil. Setiap bulan harus bolak-balik ke rumah sakit hanya untuk transfusi darah. Kamu tahu berapa besar biaya yang harus ditanggung Umi? Besar sekali, saya berhenti transfusi karena kondisi keuangan sedang jatuh-jatuhnya.”

Ia diam memperhatikan. Manik matanya yang berair menyelidik setiap gerak-gerik yang kubuat. “Dan kamu tahu Huma, waktu saya tidak banyak di dunia ini. Walaupun tubuh saya lemah, sayap saya patah, badan saya hancur remuk sekalipun, saya ingin tetap berguna bagi orang lain. Karena jika saya lemah, bagaimana nasib orang-orang yang butuh bantuan saya?”

Ia masih memperhatikanku. “ Kakak ingin ketika menghadap Allah nanti, bekal Kakak sudah cukup. Maka dari itu Kakak berusaha tetap kuat untuk orang lain.”

Gadis di hadapanku ini merespons dengan anggukan singkat dan menyeka air matanya, ia tersenyum dengan sangat manis, sampai aku ikut tersenyum karenanya.

“Huma, Kakak minta maaf… walaupun Kakak ingin mebalas rasa yang sama, tapi kamu tahukan kondisinya bagaimana?” lirihku.

Kepalanya ia geleng-gelengkan. “Jika Allah anggap ini yang terbaik, Huma ikhlaskan.”

Kubalas dengan senyum masam.

“Kalau begitu Huma pulang dulu, InsyaAllah besok datang lagi.” Langkah berat ia ambil keluar dari kamarku.

Kini aku sendiri. Benar-benar hanya berteman sepi. Suara detik jam begitu lambat dan tetesan infus menghipnotis pendengaran. Apa ini akhirnya Ya Rabbi? Jika memang iya, saat Kau panggil aku, pertemukan aku dengan-Mu.

***

“Kau tahu Huma? Luka itu bukan sesuatu yang harus dijadikan kelemahan. Tak perlu kau menangisinya. Kepergian bukanlah sesuatu yang harus disesali. Kakak percaya kamu bisa menyembuhkan luka masa lalumu.”  Suara itu, tak asing di pendengaran. Samar-samar kulihat sosoknya.

Kak Azzam dengan setelan serbaputih, ia duduk berhadap-hadapan denganku. Di balik punggungnya terdapat sayap kokoh berwarna putih semu keabuan yang indah.  Kedua tangannya memegang secarik kertas. Ia lanjutkan kalimatnya, “Orang baik harus memiliki dua hati, yang satu untuk menangis dan yang satu untuk ikhlas.”

Ia mainkan kertas itu, melipatnya menjadi hati dan memberikannya padaku.

“Aku tak mengerti maksud Kakak.”

Ia tersenyum dengan binar yang luar biasa. “Nanti kau akan tahu maksudku, karena kau orang yang baik Huma. Kakak harus pergi, ini saatnya. Jaga dirimu. Maaf Humairah-ku.”

Ia berdiri, melangkah pergi, menjauh menyusuri lorong serbaputih yang panjang. Menghilang dipeluk cahaya besar.

“Ternyata Allah lebih sayang padaku. Bersabarlah Humairah, Dia akan gantikan sosokku dengan yang lebih baik. Percayalah selalu Allah itu Mahabaik, belajarlah untuk ikhlas. Selamat Tinggal Humairah Jannati Azzahra.” Suaranya menggema.

“Kak!!” tak ada jawaban, hanya keheningan yang disusul suara tangis. Ia pergi meninggalkanku dengan satu janji yang harus kupegang, percaya bahwa Allah itu Mahabaik.

Mimpi itu terulang dengan mengungkap siapa pria yang dulu kulihat. Dia Kak Azzam, adalah sosok itu. Aku terbangun dengan mata sembap karena menangis, aku mengigau. Jam menunjukkan pukul 3 pagi, aku bergegas mengambil wudhu dan alat shalatku. Kupanjatkan keluh kesahku saat itu, mengadu pada Ilahi.

“Ya Allah jangan kau biarkan hamba-Mu ini berharap pada yang tak kau ridhai. Jika ia memang harus pergi, jika ia memang harus kembali pulang pada-Mu, hamba ikhlaskan. Hamba tahu Engkau Mahabaik. Maka hamba serahkan pada-Mu semuanya.”

Sampai subuh tangisku tak berhenti dan apa yang kudapati setelah itu membuat dunia seakan menghempitku. Umi Kak Azzam menelponku. Suaranya terbata-bata, ada isakkan berat di ujung sana. Aku berusaha menenangkannya agar bisa jelas mendengar kabar darinya, baik ataupun buruk itu.

“Huma, Azzam sudah pergi.” suaranya parau.

“Pergi ke mana?”

“Allah memanggilnya, Nak.”

Detik itu runtuh semua kekuatanku. Kakiku lemas, aku terduduk di lantai sambil menggumamkan kata Inna lillahi wa innailaihi raji’un berulang-ulang. Kutenangkan Umi Kak Azzam, berjanji aku akan datang ke sana dengan Ayah dan Bundaku. Aku paham betul bagiamana perasaan beliau sebagai seorang ibu yang kehilangan anak laki-lakinya. Telepon itu kuputus. Ku biarkan tangis keluar mengisi keheningan malam.

Adegan di mimpiku semalam memaksa masuk. Ia berpamitan padaku. Waktunya sudah habis, ia harus pulang. Dia seorang malaikat dengan sayap yang patah, kini sayapnya itu menjadi kokoh dan indah. Kini ia bahagia, bertemu dengan Rabb-nya yang ia rindukan dan juga merindukannya. Allah lebih menyayanginya dibanding aku. Ia lepas belenggu penderitaannya. Benar katanya, orang baik harus memiliki dua hati. Untuk menangis dan mengikhlaskan. Kini itu yang akan kulakukan. Mengikhlaskannya pergi dengan cinta yang kurelakan terlepas karena ketentuan takdir dari-Nya. Merelakannya di antara dua cinta, Cinta-Nya dan dirinya.

***

Angin lembut menerpa rerumputan di sekitar makam. Nisan bertuliskan  nama lelaki yang menjadi perantara Allah untuk Huma. Gadis itu menitikkan air mata, meraba huruf demi huruf yang tertulis rapi di sana. Azzam Hasbullah, pria yang dijamin Allah, itu seperti arti namanya. Sudah empat tahun cinta pertamanya itu pergi meninggalkan banyak kata, harap dan rasa terpendam. Jemarinya kini menyusuri lagi buku catatan milik Azzam Hasbullah yang diberi Umi sepulang dari pemakaman dulu. Ia buka catatan terakhir di buku itu, halaman yang ditulis untuknya. Ia buka secarik kertas berisi surat terakhir yang Azzam tulis. Helaan napas mengiringi manik matanya yang mulai membaca dengan saksama.

18 September 2018

Assalamu’alaikum Humairah,

Surat ini Kakak buat berbarengan dengan catatan terakhir Kakak di buku yang kamu pegang. Simpan buku itu baik-baik ya.

Huma, anggap apa yang saya tulis di surat ini sebagai amanah untukmu. Mencintai tak harus memiliki, percayalah Humairah, Kakak rasakan hal yang sama seperti dirimu. Namun, Allah lebih ingin Kakak kembali. Cinta Allah lebih besar Huma, percayalah. Kakak titip Umi, jaga silaturahim antara kamu dan Umi. Berbahagiala, hilangkan luka masa lalumu, kamu begitu berharga. Percaya dirilah, pasti Allah siapkan yang terbaik untukmu. Humairah, Kakak titip kamu ke Allah. Baik-baiklah, jaga dirimu, jangan lupa shalat, bersyukur sepanjang waktu. Kejar terus cinta-Nya. Cari pengganti Kakak di hatimu, ikhlaskan. Ingat Huma, kamu orang baik. Gunakan hatimu untuk mengikhlaskan apa yang Allah tentukan untukmu. Maaf Kakak tak bisa membalasmu walaupun Kakak ingin. Aku berada di antara dua cinta, cinta-Nya dan cintamu. Namun, cinta-Nya lebih besar untukku. Huma, berdoalah suatu hari nanti dengan cinta­-Nya, kelak kita dipertemukan di surga-Nya. Sehat selalu Humairah. Ingatlah dan Percayalah bahwa Allah itu Mahabaik. Wassalamu’alaikum.

Azzam Hasbullah

Gadis itu menyeka air mata di pipinya. Ia tengadahkan kepalanya menghadap langit. Tersenyum penuh harap seperti dulu, berharap Rabbnya melihatnya. Kini harapnya bukan hanya itu, ia juga berharap perantara yang Allah beri dulu sekarang juga ikut melihatnya.

“Ya Kak, aku memang mencintai Kakak… Tapi kurasa Allah lebih mencintai Kakak dibanding aku dan aku tak akan pernah bisa mengalahkan-Nya. Di hati Kakak ada Allah, selalu begitu. Ya Rabbi, titip orang baik itu.”

Manik matanya tergenang air, namun bibirnya masih mengulum senyum. Ia arahkan pandangannya ke nisan di sampingnya kini.

“Aku ikhlaskan engkau, dan kini Allah beri aku kebahagiaan tak terkira. Kak. Mungkin aku akan jarang berkunjung setelah ini. Aku diberi beasiswa ke Istanbul dan akan berangkat dua bulan lagi. Namun, bukan hanya itu berita bahagianya.”

Huma merogoh tasnya dan mengambil sebuah undangan bertuliskan Azmi dan Huma. “InsyaAllah, ini akan jadi awal yang baru Kak…”

Setetes air mata jatuh begitu saja. Dari kejauhan, seorang pemuda menghampiri Huma yang masih saja asyik mengobrol dengan batu nisan. “Humairah, sudah sore. Kasihan Bundamu nunggu di mobil.”

Huma memberi anggukkan kecil pada pemuda gagah itu. “Ini akhirnya, semoga Allah selalu bersama kita. Aku pamit ya Kak, Wassalamu’alaikum.”

“Ayo Humairah yang akan menjadi milikku.” Gadis itu tersenyum, melangkah pasti meninggalkan masa lalu. “ Iya Kak Azmi! Sudah kok ini.”

“Jangan sampai aku cemburu sama batu nisan nih…”

“Ya masa calon suamiku kalah sama batu nisan, ya ndak mungkin lah Kak.”

Kedua insan itu saling melempar tawa. Meninggalkan makam itu dengan luka yang perlahan memudar dan ikut terkubur di sana. Langkah demi langkah gadis itu ambil, pergi menjauh. Luka masa lalu ia tutup rapat, menyisakan memori manis untuk dikenang. Air mata yang menganak telah mengering dan kini Allah ganti dengan tawa kebahagiaan. Yang terpenting, ia telah belajar mengikhlaskan apa yang harus diikhlaskan dan selalu percaya, bahwa Allah itu Mahabaik. Jadi pasti Dia akan berikan yang terbaik, selalu yang terbaik. []


Penulis: Qiya Althea

Editor: Lufti Avianto

Photo by Paz Arando on Unsplash

7+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *