Sajak Yeni Kartika: Berharap Kepada Senja

10+

Kertas Senja

Aku menampung huruf-huruf yang jatuh

Berwarna pucat abu-abu

Satu per satu

Berbaris gemetaran karena rapuh

“Kau baik-baik saja ?” tanyaku

Sunyi memeluk suasana

Telingaku tak mendengar jawaban apa-apa

Hanya saja belaian yang kurasa

Jemarinya tertatih-tatih menyatukan kami

Dirangkainya dengan penuh hati

Dibumbuinya dengan sedikit rintik mata

Lalu, diterbangkanya kami menuju senja


Fana Kopi

Ujung bibirnya menyapa cangkir

Menghirup habis segelas candu

Menghisap sedikit racun paru-paru

Sambil menatap mesra kearahku

“Sini kubisikkan,” katanya

Aku mendekat, menghilangkan sekat

Dan dia memelukku erat

Sungguh, kau pandai sekali membuatku luluh

Aku membuka mata, menatap senja

Melirik secangkir kopi, yang masih penuh terisi

Berharap khayalan mimpi tadi,

Sungguh-sungguh benar terjadi


Aku Masih di Sini

Gemercik langkah kaki

Larut dalam nada-nada ombak pantai sore ini

Aku merebahkan tangan dan menutup mata

Memeluk angin dan mengajaknya berdansa

Ayolah, aku masih di sini,

Kamu belum terlalu jauh melangkah pergi

Berbaliklah

Ada aku yang menunggumu di balik senja.


Senja Pamit

Langit perlahan permisi

Mengajak senja dan kamu pergi

Kalian sungguh senada sekali

Meninggalkan ku berdiri sendiri

Terima kasih

Untuk kasih yang pernah menghias kertas putih

Dan terima kasih

Untuk langkah kaki yang memutuskan untuk berhenti


Photo by Oscar Ivan Esquivel Arteaga on Unsplash

10+

One Comment on “Sajak Yeni Kartika: Berharap Kepada Senja”

  1. Damai indah nurani itu
    Membius alam bawah sadarku
    Benar
    Semua punya kewenangan
    Pada dirinya
    Pada waktunya
    Secangkir kopi pun
    Tak terasa nikmat
    Tanpa hayat mereguk

    1+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *