Di Balik Kelulusan

9+

Penulis: Lisa Adhrianti


Jemariku menekan keyboard laptop dengan irama detak jantung yang cepat. Proses loading di pertengahan Juli 2009 itu membuat degupnya semakin kencang dan kemudian terbukalah halaman bertulis  “Selamat anda DITERIMA sebagai mahasiswa program doktor komunikasi Universitas Indonesia Tahun Ajaran 2009/2010.”

Degup jantung yang kencang itu langsung kembali normal ditambah dengan helaan napas yang membuncah senang. Sujud syukur langsung kutunaikan, senyum merekah kegirangan menghiasi bibirku dengan tubuh yang masih terduduk sendiri di sofa kecil ruang tamu rumah. Ya, aku sendiri melihat pengumuman kelulusan itu. Kelulusan itu seolah menjawab doa dan harapanku untuk tetap berada satu atap dengan suami dan anak-anakku di Jakarta selepas aku diwisuda program Magister pada Januari 2009.

Kala itu wisuda menjadi saat membahagiakan sekaligus membingungkanku. Membahagiakan karena tuntas sudah perjuaangan atas kepercayaan Tuhan padaku melalui kesempatan mengenyam pendidikan di salah satu universitas terkemuka di Indonesia dengan aktivitas ku sebagai istri dan ibu dari dua anak yang masih sangat kecil. Membingungkan karena berarti aku harus kembali bertugas di universitas daerah yang telah memilihku sebagai tenaga pengajarnya dan artinya aku pun harus kembali terpisah dengan suami dan anak-anak pun akan terpisah jauh dengan ayahnya.

“Yah, Unda lulus S3,” begitu isi pesan singkat pada suamiku. “Alhamdulillah selamat sayang, I love U Pearl,” begitu balasnya. Dia sangat antusias dengan segala pencapaian aktivitas positifku. Mr. A itu selalu menyediakan kelembutan dan semangat untuk mendukungku. Dia yang banyak mengantarku kemana aku minta, dia juga yang telah mengantarkan aku mengikuti ujian masuk S3 dengan kepanikan atas keterlambatan waktu akibat kemacetan ibukota. Berita kelulusan itu kami anggap bayaran yang setimpal dengan usaha dan doa kami agar dapat tetap bersama.

“Ma, aku lulus S3,” berikutnya kutelpon ibuku yang juga tetap repot terhadap diriku sebagai anak satu-satunya walaupun aku sudah berumah tangga. Dia yang selalu menginginkan hal terbaik dan keberuntungan menghampiri kehidupanku. “Alhamdulillah, selamat yo! nah baliklah dulu untuk pamit urus izin pendidikan lanjutmu di kampus,” begitu sarannya. Aku pun hanya mengiyakan.

Sesunguhnya upaya mengikuti seleksi S3 itu pun tidak diketahui kampus daerahku karena aku tahu pasti tidak akan diizinkan untuk langsung melanjutkan studi tanpa mengabdi dahulu. Keinginan untuk tetap berkumpul satu atap membuatku nekad kala itu. Dengan diketahui suami dan orang tua aku mantap mengikuti seleksi dengan bantuan rekomendasi profesor yang kukenal baik. Profesor Nita dosen sewaktu S1 di Kota Kembang kutemui ketika dia sedang  mengisi pelatihan di Jakarta. 

“Wah, kamu hebat Is, ibu bangga, ayo ibu dukung kamu lanjut mumpung masih muda,” komentarnya waktu itu sambil antusias melihatku datang tergopoh-gopoh membawa anak pertama usia lima tahunan dengan kendaraan umum di suatu siang.

“Terima kasih bu, mohon doanya,” aku menjawab dengan bahagia. Tuntas sudah satu rekomendasi pikirku.

Si sulung balitaku sama sekali tidak rewel kubawa berpanas-panas dengan kendaraan umum untuk meminta rekomendasi sebagai syarat mengikuti tes S3. “Wah, kamu mau lanjut langsung ya?” begitu komentar Prof. Ibnu yang kutemui di kantor konsultannya di selatan Jakarta.

“Iya pak, biar masih bisa kumpul sama suami, Pak” jawabku.

“O, suamimu di sini ya? Waduh jauhan dong ya kalau kamu balik ke daerah? Bahaya deh! Semoga kamu lulus S3 ya?” ujarnya sambil membubuhkan tanda tangan rekomendasi.

Akhirnya hari mencari restu itu kuselesaikan dengan kelegaan dan optimisme mengikuti seleksi doktoral. Tes akan diadakan dua tahap yaitu tertulis dan wawancara.  Setelah tertulis maka akan dipanggil untuk diwawancara beberapa profesor, setelah itu baru diumumkan hasil finalnya. Finalisasi itulah yang menyatakan aku beruntung lolos bersama lima orang lainnya dari berbagai orang yang bermimpi sama. Seolah masih tidak percaya karena merasa aku bukan tergolong jenius, vokal, merasa tidak maksimal menjawab soal tes serta tidak yakin dengan performa waktu diwawancarai. Qodarullah kuanggap kelulusan itu adalah bentuk rejeki kemurahan dari  Allah untuk menjawab niat baikku.

Hari-hari setelah pengumuman kelulusan itu kegalauan terus menghampiriku, dering telepon atasan, “Kapan kamu kembali?” selalu menghantuiku. Telah tiga tahun aku meninggalkan kampus daerah dalam rangka studi Magister dan wisuda itu memaksaku untuk kembali ke daerah.

Fisikku menjadi drop memikirkan waktu kembali pulang itu. Setiap hari dihinggapi alergi disertai batuk sesak ringan, namum suami dan anak-anak yang setiap hari bisa kulihat dan mencandaiku menjadi obat yang meringankan. Ayahnya anak-anak pintar sekali mengajak kami bercanda mesra setiap sosoknya tiba di rumah, jikapun dia datang ketika kami telah terlelap tetap saja kecupannya mendarat di kening kami masing-masing yang kerap menyadarkan akan ketibaannya.

Akhirnya tetap kutemui saatnya untuk kembali ke daerah dengan harapan dapat segera mendapat izin balik lagi ke ibukota untuk studi lanjut. Berat langkah kakiku dan anak-anak meninggalkan Mr. A yang optimistis dan selalu mendukung itu.

“Tenang sayang, tidak lama Unda akan ke sini lagi, kita kumpul lagi, percaya deh, kan sudah lulus S3-nya”.

“Aamiin insyaaAllah ya,” jawabku. Akupun pergi dengan tetap sumringah walaupun gontai.

Alhamdulillah selalu kunikmati kerinduan darinya dengan harapan hari itu tak lama dan aku bisa kembali memulai kuliah doktoral di September 2009.


Editor: Lufti Avianto

Photo by Andre Hunter on Unsplash

9+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *