Sajak Lufti Avianto: Tentang Keluarga

20+

Penulis: Lufti Avianto


Sekerat Bahagia

Emak dan bapak selalu membawa sisa
Kue-kue dari rapat atau acara
Apapun dari kantornya
Untuk kami berempat yang menunggu dengan penuh asa

Begitulah kami merayakan bahagia
Begitulah kami berbagi dengan sederhana
Begitulah kami membangun jiwa
Begitulah mereka mengajarkan cinta

Kebiasaan itu menurun tentu saja
Pada setiap perjalanan keluar kota
Dengan Garuda yang selalu memberi makanan beraneka
Tak lupa ku bawa serta

Ada dua bocah yang selalu bahagia
Melihat dua kotak berwarna
Berisi roti, puding atau biskuit yang mengundang selera
“Aku punya…aku punya,” histeris mereka berdua

Sejak wajah wajah bahagia
Itu merekah akibat kotak ajaib berwarna
Sekalipun tak pernah aku bercita-cita
Mencuil sekerat roti yang berisi ribuan tawa

Seorang kawan pernah bertanya,
Mungkin menyimpan heran di benaknya
Apa sebab aku tak menyentuh itu semua
Dan membawa dua kotak itu serta

Kawan, takkan sampai hati ini tega
Seolah merebut bahagia
Dari bibir mungil kalian berdua
yang mengunyah roti sambil terus bercerita

Dan pada akhirnya, aku merasa
Bahagia itu, selalu sederhana
Ia punya cara yang berbeda-beda
Menyesap makna dahaganya jiwa

Kawan, bahagia memang sederhana
Sudah banyak pujangga menuliskannya
Dan siapapun mengakuinya
Tapi, kita saja yang kadang membuatnya penuh tata karma

Di udara, menuju Solo, 24 September 2017
*) Minggu pagi yang berjarak dengan mereka yang penuh cinta


Sepeda Kehidupan

Nak, ini nasihat untukmu
Dari seorang ayah yang bekerja penuh
dan selalu menghabiskan waktu
lebih banyak, daripada mendampingimu
Soal itu, Maafkanlah ayahmu

Nak, ayah tahu
Kesukaanmu bersepeda selalu
Tiap sabtu, atau minggu
Juga hari-hari dimana kau
Menyempatkan tiap waktumu
Pada tunggangan besi itu
Yang ayah beli dari angpao lebaranmu

Nak, janganlah asyik terlalu
Perhatikanlah barang sedikit waktu
Karena sepeda mengajarkanmu
Sesuatu, yang kelak bisa digugu

Sepedamu, ajarkan keseimbangan hidup
Kaki kanan dan kirimu
Mesti kompak mengayuh
Agar kau tak terjatuh

Dunia dan akhirat, tentu
tidaklah sama selalu
Bekerjalah sungguh-sungguh
Beribadah sekuat tenagamu

Kendalikan kemudimu
Lihatlah sekelilingmu
Bila riang hatimu
Ajaklah serta adikmu
Dan orang-orang di sekitarmu
Agar sempurna hidupmu

Dari ayahmu
Yang selalu belajar memahamimu

Di dalam gerbong commuter line, sepulang kerja, 8 September 2017
Buat para ayah yang senantiasa berjuang untuk keluarga


Meja Belajar dan Fatwa-fatwa

Ada dua sebab mengapa
Secarik kertas tua itu menjadi berharga

Pertama,
Ada iklan meja belajar yang pernah kami damba
Karena setiap hari, meja belajar kami adalah seluas lantai rumah
Lesehan, dengan debu yang dibawa
kaki-kaki telanjang dari hasil kembara mencari nafkah.

Kedua,
Ada fatwa-fatwa emak yang ditulis bagi empat anaknya
dengan nada cemas penuh harap
Setelah sang belahan jiwa
dirawat beratus-ratus jam pada
Bangsal rumah sakit di tengah kota

Emak berfatwa,
Akurlah kalian sesama saudara,
jangan tinggalkan solat, dan sekolah agama pada waktu senja

Selain itu, ada juga tugas domestik yang seharusnya
dikerjakan agar rumah tak terlihat porak-poranda
dan tanaman, serta ayam tak mati sia-sia

Tak juga lupa,
emak meminta kami semua
selalu merapal doa
agar bapak sehat seperti sedia kala

11 September 2017
Di dalam gerbong commuter line, sambil merenungi pesan emak 26 tahun yang lalu


Photo by Birmingham Museums Trust on Unsplash

20+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *