Cerpen Aizeindra Yoga: Kertas Kuning

2+

Meja makan warna dasar putih dengan bercak kusam di setiap sisi, diterangi dari atas satu bohlam tepat sejajar dengan meja kusam, semakin jelas terlihat putih kusam. Rebusan sayur berwadah mangkuk plastik, ditemani sepiring gorengan yang selalu berganti, terkadang tempe, ikan, sesekali ayam kalau ada hari libur.

Duduk dengan hikmat di meja makan sedang menyantap nasi, seorang lelaki tua dengan anak lelakinya bercerita pasal hidup dan kehidupan. Hidup yang menghidupi sebuah kehidupan, dan berjalan seiring jarum jam. Perlahan detik berganti menit lalu penanda waktu mengingatkan penikmat masa, tepat di jam tujuh.

“Ayah aku terpilih jadi petugas upacara untuk hari ini, hebat kan, yah?” mengumpul kunyahan sarapan di mulut kecilku.

“Iya, habiskan dulu sarapanmu,” sibuk menyendoki nasi di piring.

“Ayah, sebenarnya aku sudah bosan hidup seperti ini,” mendadak nafsu makanku hilang, dan ayah hanya diam bergeming.

“Kapan kita bisa hidup tenang dan damai, tanpa memikirkan biaya hidup?”

Ayah terperangah mendengar aku terus mengomel. “Cepat habiskan sarapanmu, pergilah sekolah,” setengah membentak.

“Aku sudah kenyang, aku pergi sekolah dulu.” Sepiring nasi masih bersisa, aku kemudian meninggalkan ayah pagi itu.

“Prana…!” ayahnya memanggil, setengah berteriak, namun tetap saja aku memunggunginya, “Prana, habiskan makananmu…!”

***

Aku pulang ayah. Langit di kepalaku mendung, seraya membersihkan bingkai foto lama almarhum ayah. Hampir genap 30 menit aku pandangi, senyum lebar ayah masih bisa aku ingat. Senyum yang selalu aku rindukan, dan bukan untukku. Namun sekarang senyummu untukku, dan untuk semua orang yang mengenangimu.

***

Senja berganti malam, memulangkan ayah yang ‘dipinjam’ oleh sekumpulan anak-anak di luar rumah. Prana semula hening mengerjakan tugas sekolah di kamarnya, sebuah ruang yang menyatu dengan ruang keluarga serta ruang makan. Sebuah ruang yang mereka sebut “kamar” juga “rumah” sekaligus. Ayahnya juga ikut menulis sesuatu dengan hening pada lembaran kertas berwarna kuning cerah, lalu meninggalkan tulisan di atas meja makan.

“UNTUK ANAK YANG BERMIMPI BESAR, TERUSLAH BERMIMPI DAN BUATLAH JADI NYATA.”

Prana membaca perlahan. Dengan perasaan bahagia, Prana menyunggingkan senyum, sebuah ucapan motivasi cukup menenangkan hatinya.

“Kertas ini bukan untuk kamu.” Ayahnya mengambil paksa kertas yang sedang dibaca Prana. Tanpa sepatah kata, Prana bergerak mundur teratur dari meja makan. Mendekati ‘tempat tidur,’ beberapa kasur tipis yang ditumpuk di atas lantai tanpa keramik. Kemudian berpura-pura tidur dengan perasaan kesal yang masih menggantung.

***

Dua puluh tahun kemudian. Sebuah perusahaan besar meneleponku. Kukira ingin memberiku pekerjaan yang lebih baik, tetapi ternyata hanya bertanya apakah aku putra dari Suyitno bin Tardji. Ya. Suyitno adalah ayahku. Tapi apa hubungan ayahku dengan salah satu perusahaan jasa bonafid ini?

“Pimpinan perusahaan ini mengundang bapak ke kantornya.” Suara seorang perempuan yang lembut, menyatakan maksudnya.

Begitulah awalnya, hingga aku berada di perkantoran besar itu. Di kotaku, perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan yang paling diminati. Kabar dari mulut ke mulut yang beredar, juga dari salah seorang kawannya kawan yang bekerja di sana, perusahaan ini menggaji para pegawainya denga layak. Belum lagi aneka tunjangan yang menggiurkan. Wajar saja, kalau kemudian perusahaan ini dikenal sebagai salah satu perusahaan yang ‘wah’.

Gedung 10 lantai itu berdiri kokoh di siang hari yang terik. Begitu aku masuk, dua perempuan recepsionist tersenyum dan menanyakan tujuanku dengan ramah. Kusebut nama pemilik sekaligus direktur utama perusahaan ini yang mengundangku.

“Ooo, Pak Prana, bapak sudah ditunggu.” Salah satunya kemudian mengantarku ke puncak gedung itu, membawaku ke sebuah pintu yang paling besar di gedung itu. Seorang petugas keamanan kemudian membukakan, lalu tampak seorang lelaki muda di sebuah kursi roda elektrik melempar senyum empat jarinya.

Di kepalaku, masih menyimpan pertanyaan besar, apa sebab aku diundang di kantor itu. Dia hanya tersenyum, sesekali bercerita tentang hidupnya yang keras, lahir dengan keadaan lumpuh dan dibesarkan di sebuah panti asuhan khusus anak-anak difabel.

Ia lantas membuka sebuah buku diary yang sudah kusam, dengan selipan kertas kuning di antara lipatannya. Dia tarik kertas itu, lalu membuka kertas berwarna kuning dan memberikannya kepadaku. Aku terkesiap membaca huruf demi huruf, yang seolah melemparku puluhan tahun yang lalu ke dalam sebuah ruangan yang merangkap kamar tidur, kamar keluarga, kamar tamu dan dapur.

Tak diperintah, memori tentang kertas kuning itu hadir di pelupuk mataku. Tangisku tak tertahan.

“Untuk anak yang bermimpi besar…” aku mulai membaca, tapi kalimatku patah, berhenti pada kata kelima. Selanjutnya, aku masih ingat betul kalimat lanjutannya, dan siapa yang menuliskannya dan pada saat seperti apa.

Lelaki di hadapanku tersenyum dan menepuk pundakku.

“Kau memiliki ayah yang hebat.”

Selanjutnya, ia ceritakan betapa ayah Prana telah memberinya semangat dan inspirasi dalam hidupnya, hingga sukses seperti sekarang. Ia merasa berutang budi sekali pada ayah Prana, sampai-sampai ia menganggap seperti ayah kandungnya.

“Maukah kamu bergabung bersamaku mengelola perusahaan ini?”

***

Ayah Prana adalah seorang badut yang selalu mengisi hiburan sekali dalam sepekan di yayasan anak-anak yang terlahir difabel. Tanpa dibayar namun selalu ikhlas menghibur dan membuat mereka tersenyum.

Sesaat ketika ayahnya sedang mempersiapkan pakaian badutnya untuk menghibur anak-anak. “Ayah tidak seharusnya jadi badut, biar Prana aja yang cari duit, nanti kalau Prana udah besar dan sudah bekerja, kita akan tinggal di rumah yang mewah.” Prana kecil berangan jauh.

“Tahukah kamu, nak, apa yang membuat ayah bahagia?” Wajah ayahnya menatap kedua kelopak mata Prana lekat-lekat.

Prana menggeleng.

“Ayah bahagia karena memiliki kamu dan bisa membuat anak-anak ceria dengan menjadi badut. Itu sudah sempurna. Suatu saat Prana akan mengerti,” ujar ayahnya.

***

“Kini aku mengerti ayah.” Prana memakai pakaian badut yang bercorak warna-warni. Wajahnya ia bedaki dengan tebal, gincu merah mewarnai bibirnya, dan hidung cerry yang mencolok.

Pintu lantas terbuka. “Prana, anak-anak sudah menunggumu. Sudah tak sabar…” sambil tersenyum, ibu ketua panti asuhan “Buah Hati Cinta” mengingatkan. Tempat itu, yang puluhan tahun selalu disinggahi sang ayah setiap akhir pekannya dengan suka rela.[]


Penulis: Aizeindra Yoga

Editor: Lufti Avianto

Credit foto: Keagan Henman/Unsplash

2+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *