Cerpen Lutfi Noindrei: 1.800 Detik

5+

Aku tertidur di atas lingkaran besi, sebuah taman. Entah berapa lama tertidur, aku tidak tahu. Saat membuka mata, ternyata langit dan udaranya sama persis, seperti shubuh menjelang pagi dan petang menjelang malam. Ini sebenarnya pagi atau senja? Kuputuskan untuk memejamkan mata kembali. Selama 1.800 detik, kubuka mata perlahan, ternyata hari kian larut. “Ini senja,” ujarku.

Handphone hitamku berdering. Kutengok layar beresolusi 18 mega, ada nama kawan yang sekalgus tetanggaku.    

“Hah? Alex? Ada apa ya?” tanyaku dalam hati.

“Halo…” Sahutku.

“Weeeh, brooh. Posisi di mana? Gabung yuk sama gue,” suara di seberang seolah langsung menyerbu.

“Di Taman Bronbeck, Taman peninggalan Belanda, persis di Jalan Kayu Manis Delapan,” ujarku.

“Nah, tunggu lo. Jangan ke mana-mana. Bentar lagi gue jemput,” Alex langsung menutup telponnya.

Aku tak pedulikan obrolan barusan, Aku jalan saja, tak tentu arah. Aku masih sangat kesal dengan kejadian siang tadi di kantor. Aku meninggalkan bosku yang sedang dalam kondisi murka. Kuputuskan untuk keluar kantor saja untuk mendinginkan suasana.

Bosku sangat gila. Ya, gila jabatan. Dia menekan bawahannya untuk terus mencapai target, semata-mata demi untuk pencitraan dirinya agar cepat naik jabatan.

Pada saat aku memenuhi target penjualan, tak sedikit pun hasil kerjaku dihargai. Setidaknya, ucapkan terima kasih. Tapi tunggu dulu, aku tidak haus dengan ucapan terima kasih, tapi setidaknya, itu usaha penghargaan serendah-rendahnya, dari atasan terhadap bawahan. Sementara ketika aku tidak mencapai target penjualan, Aku dimakinya bak pencuri ayam tetangga.

“Bos macam apa dia? Cocok sekali dia hidup di hutan, bergaul dengan monyet dan sebangsanya,” ujarku geram saat itu.

Sudah lama aku ingin resign dari perusahaan yang menganut sistem kerja Romusha itu. Tapi lagi-lagi, Mamak di rumahku melarang untuk resign. Alasannya, sulit sekali di zaman yang serba “naik” ini, mencari pekerjaan. Ya harga bensin naik, kebutuhan pokok juga naik. Pengangguran merajalela, bak penyakit yang tak kunjung ada obatnya, macam HIV AIDS itulah. Mengerikan.

“Jadi, jangan kau coba-coba untuk resign,” ujar Mamak suatu ketika.

***

Langkah kakiku diberhentikan oleh teriakan Alex yang khas itu. Suara yang melengking.

“Brooh, mau ke mana kau? Ayo naik. Macam mana pula wajah kau ditekuk begitu? Ayolah, tak usah kau pikirkan bacot bos gila itu. Lupakan. Mari kita bersenang-senang.” Anak Pematang Siantar ini mencoba menurunkan kesumatku.

“Mau ke mana?”

“Temanku ultah, di daerah Kemang. Ayolah, temani Aku. Di sana ada Angel, kok. Cewek yang kau taksir itu,” Alex mengerling.

“Angel? Kenapa bisa dia ada di sana.”

“Temannya Angel, ternyata temanku juga. Ah sudahlah, ayo kita berangkat.”

Aku sudah lama menaksir Angel. Dia karyawan di perusahaan sebelah kantorku. Wajahnya yang cantik, dan lekuk tubuhnya yang begitu indah, membuatku hilang kendali. Tentu, Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

“Baiklah, Aku ikut denganmu,” sahutku ceria.

Pikiranku sudah tidak karuan, poster wajah model iklan di jalan raya, seketika berubah menjadi wajah Angel dan dia tampak tersenyum padaku. Kucing dan anjing mainan yang berdiri di dashboard mobil, berubah jadi wajah Angel.

“Ah, ini gila,” ujarku.

“Kita mau ke mana?” tanyaku.

“Tenang saja. Kita ke kafe di daerah Kemang.”

Dari tadi Alex sudah melewati beberapa kafe, namun tak kunjung berhenti. Ia malah kemudikan mobilnya ke arah diskotek. “Apa maksudnya ini?” tanyaku dalam hati.

Aku dan Alex keluar mobil. Lalu Alex mengajakku masuk ke dalam diskotek itu, tempat hiburan malam yang sarat dengan prostitusi, narkoba dan sejenisnya.

Lantang Aku tolak, “Tidak, aku tidak mau ikut ke dalam. Silakan kamu saja yang masuk.”

“Lho, masuklah, kawan. Di dalam ada Angel.” Ujar Alex.

Tak berapa lama, Angel keluar dari pubtersebut dan berlalu ke arahku.

Aku mulai gemetar dan jantungku berdetak kencang. Ia menghampiriku dan tidak berucap kata sedikitpun, melainkan menarik tanganku dan membawaku ke dalam diskotek tersebut.

Aku tak perhatikan apapun. Aku hanyut di dalam dimensi ruang Angel. Aku begitu terbawa suasana. Akupun masuk diskotik dengan santainya. Alunan dan hentakan musik yang begitu keras, tak terasa olehku. Aku hanyut ke dalam Angel. Musik dan Angel menyatu dalam pikiran. Angel pun mulai menuangkan minuman ke dalam gelas dan menyorongkannya kepadaku.

“Ini alkohol,” ujarku dalam hati.

Tapi lagi-lagi aku larut dan meminumnya tanpa beban. Aku merasakan kehangatan Angel. Angel mendekatiku dan memelukku tanpa canggung. Apa yang telah ku lakukan. Aku telah melakukan perbuatan dosa tanpa beban. Aku hanyut, benar-benar hanyut.

Aku mulai pusing, pandanganpun kabur. Aku meminta Angel untuk mengantarku ke tempat istirahat. Angelpun membawaku ke suatu ruangan. Ternyata, Angel membawaku ke kamar tidur. Aku tergeletak di atas kasur. Samar-samar Aku melihat Angel dan Ia pun mulai menanggalkan pakaiannya. Aku tidak tahu apa yang akan Ia lakukan padaku. Ia mulai mendekat padaku, tanpa ada sehelai kainpun di tubuhnya. Jantungku berdetak cepat. Nafasku mulai pendek, dan terengah-engah.

Angel semakin dekat. Ia berada persis di depanku. Ia mendekat ke wajahku. Bibirnya sepertinya akan mendarat mendarat di wajahku. Lalu…

“Kriiiing…..”

Aku dan Angel terkejut, ternyata suara ponselku berbunyi, kencang sekali. Aku melihatnya dan kudapati pesan. Alangkah terkejutnya diriku. Ternyata, Mamakku baru saja meninggal dunia.

Pikiran ku melayang tidak karuan, kepalaku mau pecah. Air yang berasal dari penglihatan, deras tak mau berhenti. Seketika ku berteriak…

“Mamaaaaaakk…..”

Aku bergegas bangun dari tempat tidur. Aku terjatuh….

***

Aku terjatuh dari atas lingkaran besi, sebuah taman. Tubuhku banjir keringat dan jantungku masih berdetak kencang. Seketika aku beristighfar.

“Astaghfirullah. Aku bersyukur, ini ternyata hanya mimpi,” ujarku penuh syukur.

Aku bergegas menuju rumahku dengan sangat cepat. Melebihi kecepatan cahaya. Aku ingin memastikan kondisi Mamakku baik-baik saja.

“Mamak, Mamaaakkk,” teriakku.

“Ada apa, anakku ? Mamak baru saja sholat maghrib. Kamu sudah sholat?” ujar Mamak dengan lembut.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan seketika air mataku tumpah.

“Kamu kenapa nangis, nak ? Sana sholat. Sehabis itu, ceritakan masalahmu ke Mamak.”

Seusai sholat magribh, aku menceritakan permasalahanku pada Mamak. Lalu Mamak dengan kelembutan dan cintanya, menasehatiku :

“Hidup ini adalah kumpulan-kumpulan masalah, Nak. Begitu selesai satu masalah, maka akan muncul masalah berikutnya. Lalu kapan berakhirnya sebuah masalah? Yaitu kalau kamu mati, Nak. Maka selesai sudah masalah hidupmu. Tugasmu di dunia adalah memerankan peranmu sebaik-baiknya, kerjakan segala sesuatu karena Tuhan, maka Tuhan akan membimbingmu dan memberhasilkan mereka-mereka yang bekerja secara bersungguh-sungguh dan ikhlas. Masalahmu dengan bosmu adalah sebuah ujian. Jika kamu bisa melewatinya, maka kamu akan dinaikan derajat oleh Tuhan. Justru kalau kamu menyikapinya dengan keburukan dan keputus-asaan, maka bukan jalan keluar yang didapat, tapi tumpukan-tumpukan masalah yang mendesak dirimu untuk kian terpuruk.”

Aku merasa, Mamakku seperti Mario Teguh dan Mamah Dedeh.

Oh, iya. Sejaktadi aku belum memperkenalkan siapa diriku.

Namaku adalah “kamu”. Iya, “kamu” yang sedang membaca tulisan ini dan menggariskan wajah bermasalah dengan seribu delapan ratus persoalan hidup di dalamnya dan seribu delapan ratus detik untuk menentukan ke arah mana kamu berjalan, terang atau gelap.[]


Penulis: Lutfi Noindrei

Nama aslinya Lutfi Gunawan, penulis kelahiran Jakarta, 30 Oktober 1987. Memulai tulisannya sejak SMP. Beberapa karya di publish di Majalah Remaja, salah satunya cerpen yang memenangi lomba berjudul “True Friends”. Lelaki penikmat coklat hangat di kala Sunset beraksi, kini aktif menulis cerpen dan menulis lagu.


Penulis: Lutfi Noindrei

Editor: Lufti Avianto

Credit Foto: Hannes Richter/Unsplash

5+

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *